Menggeliat di Tengah Dominasi Pemain Asing

Menggeliat di Tengah Dominasi Pemain Asing

Seorang Direktur Bank Perkreditan Rakyat di Mekar Sari, Depok, lebih senang menunggu di Amazone ketimbang mengantar keliling istri dan anaknya berbelanja di Mal Depok. Di Amazone dia bisa betah 2-3 jam bermain game yang disukainya mulai dari Shark Hunter, Ticket Music, Diamond King, Dream Catcher sampai Round the World. Setiap kunjungan dia pun rela merogoh kocek Rp 50-70 ribu ditukar koin buat bermain beragam game yang memenuhi ruangan. Tiket yang dia peroleh dari berbagai permainan itu kemudian ditukarkan dengan beragam hadiah dan cenderamata. Amazone memang menyediakan beraneka hadiah dan sovenir untuk memikat pelanggan mulai dari pensil, mesin cuci, kulkas, sampai TV. ?Saya pernah mendapat magic jar dari penukaran tiket,? katanya sumringah.

Ia cuma salah satu dari sekian banyak eksekutif dan kalangan atas masyarakat Indonesia baru yang keranjingan game, yang memang telah dikelola sedemikian rupa, sehingga menjadi lahan bisnis yang amat menjanjikan. Arena hiburan yang menyediakan aneka videogame, sega dan permainan-permainan semacam itu kini memang menjelma menjadi industri baru yang bahkan kebal krisis. Dia tidak saja menyedot anak-anak dan remaja kaya, tapi juga para eksekutif. Tak heran, pemain di bisnis ini terus bertambah dari tahun ke tahun. Salah satu pemain yang amat diperhitungkan saat ini adalah Soegiandi, pemilik dan pendiri Amazone.

Kini Amazone telah memiliki sekitar 25 gerai di seluruh Tanah Air, terutama Jakarta, Balikpapan, Surabaya dan Pekanbaru. ?Kami akan terus mengembangkan Amazone ke kota-kota yang memiliki basic ekenomi bagus,? ujar Soegiandi.

Game center bukanlah dunia asing bagi Soegiandi. Sebelum memutuskan membangun Amazone, Soegiandi sudah punya pengalaman panjang di bisnis ini. Pengalaman pertamanya pada 1994?96, ketika dia diajak ikut membantu membangun game center modern milik Grup Lippo di Karawaci. Waktu ia tergabung dalam tim awal yang men-set up game center itu. Ada dua jenis arena bermain yang di-set up, yaitu indoor in park (seperti di Lippo Karawaci) dan game center modern yang sekarang berganti nama menjadi Time Zone seteleh dimerger. ?Umumnya saya ikut dari awal karena posisi saya sebagai kepala keuangan dan akunting,? tutur Soegiandi bersemangat. Karena jabatannya itu, ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di luar negeri bagaimana men-set up game center, mengoperasionalkan dan mengembangkannya.

Sukses membangun kedua arena permainan itu membuat nama Soegiandi melambung. Tak heran, tawaran serupa segera datang dari tempat lain. Begitulah tahun 1996-97 dia diminta men-set up pusat permainan Toy R ?Us ketika pertama kali masuk ke Indonesia. Lalu, tangan dinginnya ikut cawe-cawe men-set up entertainment center (Fun City) milik Grup Hero (1997). Dia tetap di situ sampai Fun City berbiak menjadi 13 gerai.

Dengan bekal semua pengalaman itu Soegiandi lantas menggandeng rekannya Rachmat Sutiono, yang juga memiliki pengalaman belasan tahun di bisnis serupa, untuk membangun bisnis game sendiri. Begitulah, Amazone kemudian berdiri pada Juli 2001 dengan modal awal Rp 1 miliar. Berbeda dari pendahulunya yang langsung menyergap Jakarta, Amazone memilih taktik gerilya. Gerainya yang pertama berdiri Juli 2001 di Alfa Medan (300 m2). Investasinya, menurut Soegiandi, tak sampai Rp 500 juta. Angka ini tidak termasuk sewa gedung. Sebagian besar dana itu habis untuk interior dan membeli berbagai perangkat. Mengapa investasinya bisa serendah itu? ?Saya banyak mendapat kemudahan dari Alfa. Sarana bermainnya juga cuma sekitar 40?50 mesin yang bisa digunakan oleh anak-anak, remaja dan orang tua,? jawabnya.

Sukses menjajal Medan, Soegiandi lompat ke Carrefour Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Empat bulan kemudian (November 2001). Gerai kedua Amazone ini memiliki sarana permainan yang lebih modern dan beragam. Sambutan masyarakat Jakarta rupanya juga sangat bagus. Maka, di akhir 2001 ia menambah dua gerai lagi.

Bagi Soegiandi, menjadi yang terbesar bukanlah tujuannya. Dia igin Amazone menjadi arena bermain yang paling baik dan sehat. Namun, sekalipun kini sudah memiliki 25 gerai, ia akan terus mengembangkan jaringan Amazone.

Umumnya, gerai tersebut menempati ruangan di mal atau pusat belanja modern. ?Bisnis ini sangat terkait dengan pertumbuhan mal. Sejak 2003 saya banyak mendapat kepercayaan dari pengembang yang membutuhkan sarana entertainment center untuk melengkapi fasilitas shopping mall mereka. Jadi pola pengembangan yang kami tempuh adalah kerja sama kemitraan dengan pemilik pusat perbelanjaan dan pemilik mesin dalam bentuk simbiosis mutualisme,? Soegiandi menguraikan. Ia menambahkan, pola kemitraan lebih banyak dalam bentuk kerja sama modal dan tempat. ?Operasional tetap saya yang tangani,? sambungnya. Adapun soal keuntungan, dibagi berdasarkan kontribusi masing-masing.

Berdasarkan data Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia, menurut Soegiandi, tahun 2005 akan berdiri 29 shopping mall baru. Itu dilihat dari jumlah permohonan izin pendirian pusat belanja. ?Kalau semua mal meminta saya mengisi entertainment center, saya sih bisa saja. Tapi saya menginginkan pertumbuhan yang bisa diukur, jangan sampai nantinya malah menjadi tidak efisien. Kalau setiap bulan bisa menambah satu outlet saja, itu sudah bagus sekali,? kata Soegiandi panjang ketika ditanyakan target penambahan gerai Amazone tahun depan. Yang jelas, lanjutnya, dia berharap tahun 2005 gerai Amazone bertumbuh 30%. ?Untuk membangun sebuah outlet Amazone di pusat perbelanjaan setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 1 miliar. Tergantung lokasinya. Itu belum termasuk sewa ruangan. Bila lokasinya A, arena bermain dan mesin-mesin game-nya juga mesti kelas A,? papar orang nomor satu di Amazone itu serius.

Bisnis game center, menurut penyandang gelar MM Internasional dari Prasetiya Mulya, Jakarta ini tidak bisa beranjak dari hobi. Alasannya, ?Kalau beranjak dari hobi akan terkait dengan pemilihan mesin dan pemilihan permainannya. Padahal selera konsumenlah yang mesti diikuti,? Soegiandi menjelaskan. Menurutnya, bisnis ini sangat besar, mengingat penduduk Indonesia yang di atas 200 juta. Apalagi pemainnya masih bisa dihitung dengan jari.

Soegiandi tak mengada-ada. Ketika menyiapkan Amazone tahun 2001, pemain di bisnis game center tak sampai 10, di antaranya Time Zone (Australia) , Fun City, Zone 2000 ( Grup Ramayana) dan Fun Station. Dominasi asing di bisnis ini amat kentara. Time Zone, Fun City dan Zone 2000 adalah pemain asing di bisnis pusat permainan di Indonesia. Meski tampil belakangan, Soegiandi bangga karena kini cuma Amazone yang bisa dibandingkan secara apple to apple dengan Time Zone. Widya Anwar, Manajer Pemasaran PT Matahari Graha Fantasi (pengelola Time Zone) tidak membantah. Cuma, Widya menyatakan, dengan 98 gerai Time Zone tetap pemimpin pasar di bisnis ini. Kendati begitu, Amazone tetap memainkan strategi pricing rendah yang digabung dengan kenyamanan interior dan mesin yang lebih baik untuk memenangkan persaingan. Amazone membanderol permainannya 80% di angka Rp 1.000/game. Sisanya (20%), bertarif Rp 2.000/game.

Sejumlah jurus dimainkan Soegiandi agar bisa mematok harga lebih miring dibanding kompetitor. Pertama, mengembangkan jaringan dengan pola kemitraan. Dengan menggandeng pihak ketiga — seperti produsen, penyalur peralatan, dan investor lain yang menyediakan modal kerja — menyebabkan perusahaan tidak terbebani biaya modal. Kedua, menggunakan peralatan baru, sehingga biaya perbaikan menurun. Ketiga, promosi dilakukan dengan menggandeng pihak lain sehingga terjadi pembagian biaya. Keempat, pengunjung diberi diskon tambahan berupa bonus koin permainan untuk pembelian dalam jumlah tertentu. ?Langkah ini untuk menekan biaya promosi,? tutur Soegiandi. Dan kelima, Amazon tidak menempati lokasi utama untuk menekan biaya sewa.

Soegiandi menjelaskan, Amazone membidik keluarga sebagai segmen pasarnya. Ini berbeda dari pemain lain, yang lebih banyak membidik anak-anak. Karena itu, 80% peranti permainan yang tersedia di Amazone dirancang buat keluarga. Untuk pendidikan anak, Amazone menyediakan permainan yang melatih keterampilan dan kecepatan berpikir, misalnya anak adu cepat dengan mesin. Bahkan, di sini juga disediakan permainan yang melibatkan anak dan orang tua, sehingga interaksi mereka terbina dengan baik. Amazone, lanjut Soegiandi, dirancang tidak untuk mencari keuntungan semata, tapi juga mendidik. Jumlah game di setiap gerai Amazone tidak sama, tergantung luas ruangannya. Namun secara umum terdapat 50?70 permainan per gerai. Soegiandi tak bersedia menyebut berapa omset Amazone per tahun/gerai. ?Itu tergantung jumlah pengunjung dan berapa yang dibelanjakan mereka, serta luasnya outlet,? jawabnya diplomatis.

Namun dari penelusuran SWA di beberapa gerai Amazone, umumnya jumlah pengunjung per hari di arena bermain rata-rata sekitar 1.500 orang. Bila setiap pengunjung menghabiskan uangnya Rp 5-10 ribu, setiap gerai paling tidak membukukan pendapatan Rp 5 juta/hari. Luas gerai Amazone sendiri berkisar 300?400 m2.

Kini, ia berancang-ancang membuka gerai di Kelapa Gading seluas 1.600 m2. Gerai ini menelan investasi sekitar Rp 3 miliar. Modalnya, disebutkan Soegiandi, 30% dari kocek sendiri dan sisanya pinjaman bank. Interiornya dirancang menjadi tempat bermain tematis. Pusat permainan ini ditunjang dengan komposisi dan jenis mesin yang paling baik di industri ini. Kendati begitu, ia tetap akan mematok tarif permainan lebih rendah dibanding pemain lain. Gerai Amazone terbesar ini direncanakan rampung September 2004, dan dioperasionalkan bersamaan dengan pembukaaan Artha Gading. Tema yang ditonjolkan adalah underwater world, memgambarkan kehidupan Amazone kuno atau kota yang hilang di zaman dahulu. Atmosfernya mengajak pengunjung memasuki suatu dunia di bawah tanah yang penuh fantasi. Pengunjung diajak pula memasuki dunia yang tidak pernah terjangkau orang, yaitu virgin island dengan patung-patungnya yang dinamis. ?Ini akan menjadi salah satu game center terbesar di Indonesia,? kata Soegiandi.

Ini dibenarkan oleh Rosi, GM Pemasaran PT Swadaya Panduarta (pemilik Artha Gading Mall). ?Amazone berani menawarkan konsep yang bergeda dari pemain entertainment center lain. Konsepnya yang tematis akan menjadi daya tarik Artha Gading Mall nantinya,? tutur Rosi. Kehadiran Amazone di Kelapa Gading, menurut Rosi, hanya sebagai penyewa. Bonita P., Manajer Properti Mal Fantasi, Balikpapan, mengakui kehadiran Amazone menjadi magnet bagi pengunjung Mal Fantasi. ?Pengunjung Amazone, yang menyewa ruangan seluas 800 m2 di Mal Fantasi mencapai 200 ribu/bulan. Ini merupakan arena permainan terbesar yang diminati seluruh kalangan dari balita sampai orang tua,? ujar Bonita..

Kendati bertekad terus memperluas jaringan Amazone, Soegiandi tidak berencana mewaralabakannya. Dia cenderung memilih pola kemitraan yang sifatnya terbatas agar perkembangannya terukur. ?Kami ingin menjadikan Amazone sebagai game center terbaik dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kami ingin menjadi pemain lokal yang terbaik dan menjadi pemain lokal yang diperhitungkan oleh pemain asing,? ungkapnya bersungguh-sungguh.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag