Menggelindingkan Oenpao dengan Passion

Menggelindingkan Oenpao dengan Passion

Oenpao juga memasok dimsum ke beberapa hotel dan rumah sakit di Jakarta Selatan sejak Desember 2006. Tak hanya dimsum, tapi aneka pao, siomay, bebek panggang, dan berbagai olahan ayam besutan Oenpao pun laris manis. Setiap bulan, Dian menghabiskan 1.500 ekor ayam dan 300 ekor bebek. Sayang, ia tak mau menyebut berapa omsetnya.

Kelahiran Bandung, 30 Desember 1958, ini bercerita, ia mulai menggelindingkan Oenpao ketika seorang teman menawarinya ikut bazar yang diadakan sebuah sekolah di BSD. Waktu itu Dian belum berpikiran mau jualan apa. Sang istri, Lia Indrowati, memang piawai membuat berbagai olahan makanan. Mereka akhirnya sepakat menjual aneka pao dan dimsum di pameran yang digelar pada Januari 2005.

Usai ikut pameran, belum terpikir di benak Dian untuk menggarap bisnis dimsum. Sampai akhirnya, temannya menawarkan kios di Pasar Modern BSD. Karena harga sewanya relatif murah, ia tak menampik tawaran itu. Dengan nama Oenpao, Dian dan istri kemudian mulai menapaki babak baru kiprah mereka, dengan modal awal sekitar Rp 20 juta. Dua bulan berselang, mereka menambah satu kios. dan tiga bulan kemudian menambah lagi satu kios. Seiring dengan penambahan kios, varian makanan juga ditambah, seperti nasi Hainan, bebek panggang, dan berbagai olahan ayam. Tak hanya itu, Dian boleh dibilang memopulerkan gaya makan dimsum di kedai bergaya modern dengan desain unik dan menarik dalam sebuah pasar. “Dari hari pertama sampai sekarang boleh dibilang tidak pernah sepi,” ungkap lulusan S-2 Ekonomi Pembangunan dari sebuah universitas di Jerman ini.

Diakui Dian, sambutan positif di BSD melecutnya untuk mengembangkan Oenpao dalam bentuk restoran. Lahirlah resto Oenpao di Wisma Metropolitan dan di depan Rumah Sakit Pusat Pertamina. “Saya tidak mau masuk ke mal. Nggak kuat bayarnya,” katanya sambil tertawa. Untuk investasi satu resto, paling tidak ia harus mengeluarkan Rp 400-500 juta. Investasi terbesar teralokasi untuk tempat dan peralatan. Selama ini, ketiga restonya — termasuk yang di BSD — memberikan kontribusi bagus. Resto yang dikembangkannya memang tidak besar, 100-120 m2, dengan 70-80 tempat duduk. “Kami memilih konsep resto kecil tapi nyaman dengan lokasi yang mendekati customer kami,” ujarnya.

Para penikmat Asian snack, seperti dimsum dan pao, terutama yang tinggal di BSD, pastinya sudah akrab dengan Oenpao. Tak mengherankan, resto Oenpao tak pernah sepi. “Apalagi Sabtu-Minggu, wah penuh,” kata Rully Dasaad. Pria berusia 47 tahun ini mengaku termasuk pelanggan setia Oenpao sejak pertama buka. Saban Minggu pasti menyantap aneka olahan Oenpao. Bahkan, ia kerap membeli berbagai produk Oenpao untuk saudara-saudaranya yang tinggal di Kelapa Gading. “Istri saya malah sering memesan Oenpao untuk teman-teman dan relasinya,” ujar Rully. “Yang saya tahu,” katanya, “Oenpao tidak memakai bahan pengawet dan penyedap seperti vetsin. Itu yang membuat produknya laris.”

Oenpao, Rully menambahkan, juga memperhatikan kebersihan, termasuk dapur restonya. “Taste-nya bisa diterima oleh berbagai kalangan, termasuk orang-orang Chinesse,” ujar Wakil Bisnis Agustinus Sidharta Fotografi itu. Rully juga salut atas kewirausahaan Dian. “Bisnisnya bisa berkembang dalam tempo singkat. Saya bilang pada dia, untuk buka di Bali.”

Ekspansi bisnis memang sudah masuk dalam agenda Dian. Ayah dari Putra Arya Nugrakrista Muskita (18 tahun) dan Aditya Putralatu Muskita (16 tahun) ini berencana mengembangkan bisnis lewat pola waralaba dan mitra strategis. Hanya saja, saat ini ia lebih fokus mengepakkan sayap Oenpao dengan tangannya sendiri.

Dian kini memayungi 60 karyawan. Targetnya, setahun paling tidak membuka dua resto. Juni mendatang, ia akan membuka resto Oenpao di Kelapa Gading. Dengan semakin banyak resto Oenpao, ia terobsesi menjadikan Oenpao sebagai alternatif tempat makan yang selama ini didominasi merek-merek mancanegara. Terlebih, Oenpao mematok harga yang terjangkau semua kalangan, misalnya Rp 7.000 untuk bubur ayam, Rp 9.800 untuk tiga pieces dimsum, dan Rp 22.800 untuk seporsi nasi ayam atau bebek panggang.

Menurut Dian, selain karena berkah Tuhan, keberhasilan Oenpao juga karena, “Kita punya passion dalam menjalankannya.” Ia mengibaratkan Oenpao seorang bayi yang dirawat dan dijaga dengan penuh cinta. “Dengan passion, mengerjakan sepenuh hati, semuanya akan berjalan dengan baik,” ujar Dian yang sempat berkarier di IPTN dan sejak 1990 berkiprah sebagai pengusaha.

Henni T. Soelaeman

BOKS:

Kunci Sukses Oenpao

Dijalankan dengan passion Konsisten dengan kualitas produk dan layanan Citarasa makanan bisa diterima semua kalangan Harga terjangkau dengan rasa yang lezat

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag