Menjual Gaya Orang Dewasa pada Anak-Anak
Harganya tergolong wah untuk orang kebanyakan, dari Rp 250 ribu hingga Rp 1,5 juta per potong. Maklum, target pasar Marco & Mari memang kelas atas. Kalaupun ada yang relatif murah, itu adalah aksesori yang dijual mulai dari Rp 79 ribu/biji. Segmen yang disasar adalah anak-anak usia 2-16 tahun.
Di negara asalnya, Marco & Mari terbilang berhasil. Diluncurkan Jenny Heung (31 tahun) di Hong Kong pada 2003, Marco & Mari kini memiliki 31 gerai. Produk ini tak hanya hadir di Hong Kong (10 gerai), tapi juga di Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Asia.
Untuk kawasan ASEAN, Indonesia adalah negara pertama yang dipercaya Jenny memegang waralabanya (walau bukan berupa master franchise). Mereka yang dipercaya memegang hak waralaba ini adalah tiga wanita muda, yakni Olivia Saujana (25 tahun), Wilyana Saujana (26 tahun) dan Henny Utomo (27 tahun). Wilyana dan Henny sudah menikah, sedangkan Olivia belum. Boleh jadi, karena itu, dalam usaha ini Olivia dipercaya sebagai pengelola, sedangkan dua rekannya sebagai investor.
Olivia mengungkapkan, ide membeli waralaba Marco & Mari muncul karena mereka bertiga melihat banyak orang Indonesia (kalangan atas) yang lebih suka berbelanja pakaian anak-anak ke luar negeri. Para orang kaya ini mengeluh, jumlah merek pakaian anak-anak yang beredar di Indonesia tak begitu banyak, terutama jika dibandingkan dengan baju orang dewasa bermerek. “Kalaupun ada yang berkualitas dan branded, harganya mahal,†ujar lulusan Melbourne University, Australia ini.
Di sisi lain, mereka melihat banyak pengusaha yang enggan masuk ke bisnis ini karena harga dagangannya mahal dan pasarnya relatif kecil. Kebanyakan, dikatakan Olivia, lebih memilih bermain di pasar menengah-bawah. Itulah sebabnya, Olivia dkk. melihatnya sebagai peluang. “Ada niche market di segmen ini,†ucap wanita yang pernah bekerja di perusahaan ritel pakaian dalam di Indonesia ini. Pilihan pun jatuh pada Marco & Mari yang sedang ngetop di Hong Kong.
Konsep yang menjadi cirikhas pakaian anak-anak ini adalah European style, yang tentunya mengacu pada empat musim. Diakui Olivia, tak semua baju yang diproduksi Marco & Mari di Hong Kong tersebut cocok dengan pasar Indonesia. Maka, timnya menyeleksi sejumlah produk dan hanya memilih produk yang diyakini bisa diterima pasar Indonesia.
Lucy, desainer Marco & Mari, mengungkapkan bahwa dua kali setahun ia ke Eropa mengikuti fashion show dunia. Itulah sebabnya, desain Marco & Mari pun selalu berubah setahun dua kali mengikuti tren dunia. Uniknya, tren yang dijadikan patokan justru desain orang dewasa. “Selalu ada yang unik dari desainnya,†ujar Olivia berpromosi
Menurutnya, desain Marco & Mari sengaja mengikuti tren baju orang dewasa. Sebab, ia melihat tak sedikit anak-anak yang ingin berpenampilan seperti orang tuanya, terutama ibunya. Karena alasan itu pula, slogan citra (tag line) yang dipakai adalah â€ÂI wanna be like mommyâ€Â.
Yang jelas, saat ini semua pakaian Marco & Mari diimpor dari Hong Kong. Namun Olivia menyatakan, jika pasar Marco & Mari semakin luas dan meningkat, tak menutup kemungkinan memproduksinya di Tanah Air. Tahap awal, mereka membawa lebih dari 1.000 potong dengan puluhan item.
Menurut Olivia, mereka sengaja mencitrakan produk ini sebagai pakaian anak-anak yang eksklusif dan berkelas. Sebab itu, toko yang mereka buka pun dibuat dengan konsep tersebut. Sang pewaralaba di Hong Kong memang mensyaratkan gerai harus terang dan menghindari konsep minimalis seperti yang sedang ngetren saat ini. “Kami memang menghindari ruangan yang sempit. Karena, anak-anak itu kan senangnya berlari-lari. Jadi kalau terlalu sempit, membuat mereka tak nyaman.â€Â
Sayangnya, ia enggan mengungkapkan nilai investasinya. Namun, ia berani memastikan, dalam tiga tahun bisnisnya bisa mencapai breakeven point. T ahun pertama, ia berencana minimal membuka 5 gerai di berbagai kota, yakni Jakarta, Surabaya, Medan dan Semarang.
Saat ini promosi dilakukan melalui sarana above dan below the line. Di above the line, mereka masuk ke media cetak, antara lain sejumlah majalah yang sesuai dengan segmennya.
Olivia tampak sangat optimistis terhadap masa depan Marco & Mari. Alasannya, sampai detik ini merek-merek besar dunia di Indonesia masih eksis. “Ini artinya, segmen ini masih ada,†ujarnya. Ia mengakui, ini merupakan bisnis pertamanya. Namun, ia menjamin akan menjaga kualitas produknya secermat mungkin. “Barang-barang yang kami jual adalah high fashion. Saya tidak mau curang dengan menjual produk yang old fashion,†ujar Olivia yang menargetkan omset penjualan Rp 5 miliar setahun.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.