Menyisir Pasar Daerah, AOC Berhasil Taklukan Market Monitor di Indonesia

Menyisir Pasar Daerah, AOC Berhasil Taklukan Market Monitor di Indonesia

Produsen panel monitor merek AOC berhasil memathakn mitos bahwa untuk menaklukkan pasar Indonesia harus lebih dulu menguasai Jakarta. Toh, perusahaan asal Taiwan ini justru berhasil menyisir daerah-daerah untuk menaklukkan market negara kita. Strategi ini nyatanya mampu mengangkat AOC ke jajaran 5 besar pemain monitor di Indonesia dengan market share 10%.

Dina Bhirawa, Regional Marketing Manager AOC, mengaku, strategi tersebut diambil untuk menunda persaingan di Jakarta. Sebagai merek baru, pihaknya merasa berat bila harus bersaing dengan merek-merek yang sudah establish. Apalagi, AOC bukanlah merek multi-produk. “Produk kami cuma monitor. Kalau langsung menggarap Jakarta, effort-nya terlalu besar karena sudah banyak merek yang masuk,” dia menegaskan.

Keputusan ini diambil atas pengalaman buruk AOC di pasar Indonesia. Sekadar menengok ke belakang, AOC hadir di Indonesia tahun 2002. Kala itu, AOC menunjuk PT Agis Tbk sebagai distributor utama. Kerja sama ini berlangsung hingga tahun 2006. “Karena saat itu bisnis Agis sedang ada masalah internal, jadi kami putus kerja sama,” katanya. Namun, Dina enggan membeberkan performa AOC selama kerja sama dengan Agis. Bahkan, setelah putus kontrak tersebut, AOC sempat vakum sekitar 2 tahun. “Tahun 2005-2006 kami stop shipment hingga tahun 2008,” ujarnya tandas.

Untunglah hal itu tidak berlangsung lama. Lalu, AOC mendekati beberapa perusahaan distribusi guna menyebarkan produk-produk AOC. Pucuk dicita, ulam pun tiba. Akhir 2008, pihaknya menemukan partner yang tepat. AOC menunjuk PT Mega Komputindo Lestari (MKL) sebagai distributor utama. Memang, sampai saat ini AOC belum memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Kala itu, hanya Dina seorang yang menangani AOC untuk Indonesia. “Policy dari head quarter memang seperti itu. Kita belum ada perwakilan resmi di Indonesia,” ujar Dina yang juga menangani marketing untuk pasar Australia, New Zealand, dan Thailand ini.

Kerja sama AOC-MKL ini dirasakan Dina cukup solid. Dina mengaku antara pihaknya dengan MKL memiliki kesepahaman dalam konsep marketing. “MKL mau menjalankan strategi yang kami minta,” kata dia. Untuk mensukseskan AOC, Dina menyisir dari pinggiran―luar Jakarta―sebagai strategi penjualan. Jadilah, pihaknya menggarap daerah seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Aceh, dan beberapa kota besar lainnya. Dina menggunakan 5 lapis jaringan distribusi sebagai strateginya. Yakni, dari vendor (AOC) kepada distributor turun ke master dealer diteruskan ke dealer yang berujung pada reseller.

Namun, strategi tersebut bukan tanpa halangan. Meski masuk ke daerah-daerah, nyatanya banyak master dealer yang mempertanyakan produk AOC. “Kami kan merek baru. Mereka masih khawatir dengan kualitas AOC. Itu sih wajar,” kenang Dina. Pelan-pelan Dina menjelaskan pada master dealer soal latar belakang AOC. Sejatinya, AOC juga menjadi OEM (original equipment manufacturer) monitor untuk brand-brand besar di dunia. Dengan alasan etika, Dina enggan menyebutkan monitor merek apa saja yang telah diproduksi AOC. Yang pasti, calon master dealer bahkan diajak berkunjung ke Cina untuk melihat langsung dapur produksi AOC demi membangun kepercayaan.

Treatment lain pun diberikan guna menarik minat master dealer. Misalnya saja soal tawaran margin yang lebih besar dibanding merek lain. “Berapa besar disparitasnya dengan brand lain, itu rahasia,” ujar Dina diplomatis. Dan, yang paling penting AOC tidak memaksakan policy dengan menyamakan strategi penjualan.

AOC juga tak segan memberikan konsep dan mengerjakan booth pameran untuk master dealer. “Master Dealer tak perlu keluar uang. Dan, kami tidak menargetkan apa-apa di pameran tersebut. Saat ini Dina mengaku punya master dealer sebanyak provinsi di Indonesia. Setiap tahun, master dealer mendapat kesempatan jalan-jalan seperti ke Vietnam, Cina, atau Bali.

Beragamstrategi itu membuahkan hasil cukup bagus. Hanya dalam waktu sekitar 2 tahun, AOC mampu merebut 10% pasar monitor di Indonesia. “Target 5 tahun mampu kita capai 2 tahun,” kata Dina. Malah, salah satu produknya Rezer E943FW mampu tumbuh hingga 100% tiap tahunnya. “Itu hero product kami,” cetusnya. Kini AOC memiliki belasan range product monitor. Di pasaran harganya sekitar Rp 900 ribuan hingga Rp 3 jutaan. Dina menargetkan dalam tiga tahun ke depan pihaknya akan menjadi top 3 diantara Ben-Q, View Sonic, Acer, dan Asus dengan market share 15%. (EVA)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag