“Siapa bilang susah jualan produk asuransi. Gampang kok. Tiap minggu, omset premi tim saya mencapai Rp 1,2-1,6 miliar,†tutur Lanny Sugiharta. Tahun lalu, kelahiran 1967 ini berhasil meraup premi sebesar Rp 42 miliar. Atas prestasinya itu, Manajer Agensi Senior Prudential ini diganjar sebagai Top Agency Manager untuk yang kedua kalinya dalam ajang Top Agent Award Agen Asuransi Jiwa Indonesia (TAA AAJI). Tahun 2007, Lanny mencetak perolehan premi sebesar Rp 21 miliar.
Bagaimana Lanny bisa mendulang premi sebesar itu? Ibu dari Rebecca (9 tahun) dan Gloria (7 tahun) ini mengungkapkan, kunci keberhasilannya sebagai agen asuransi hanyalah totalitas, sepenuh hati, serta teguh pada pendirian dan impian. “Fokus pada apa yang kami kerjakan,†katanya. Di matanya, soal teknis dan kepintaran bukanlah nomor satu. “Teknis bagaimana menjadi agen yang baik, tinggal mengikuti panduan yang telah digariskan perusahaan asuransi. Saya tidak mencoba teknik-teknik lain dalam memasarkan asuransi. Saya mengikuti aturan yang telah digariskan Prudential 100%,†imbuh Lanny yang baru lima tahun merentas karier sebagai agen asuransi.
Lanny mengaku tidak membabi buta mengejar setoran. Untuk membidik nasabah, ia menceritakan pengalaman hidupnya sendiri dan membeberkan fakta pentingnya persiapan dana pendidikan dan pensiun. Ia memang tidak serta-merta menjadi agen asuransi. Ia baru memutuskan berkarier sebagai agen asuransi setelah merasakan sendiri manfaatnya sebagai nasabah. “Saya hanya memaparkan fakta biaya hidup yang selalu naik tiap tahun dan memberikan solusi. Keputusan ada di calon nasabah,†tuturnya.
Cara berjualan yang relatif sederhana itu ternyata cukup ampuh membius calon nasabah. Setiap tahun, jumlah nasabahnya terus meningkat. Begitu pula premi yang dihimpun. Padahal, di dunia asuransi Lanny boleh dibilang pemain baru. Tahun 2004 ia baru menceburkan diri di industri ini. Sebelumnya, ia sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan swasta. Fokus di bidang yang digeluti membuat kariernya dalam tempo singkat begitu benderang. Selama lima tahun berkiprah, berbagai penghargaan disematkan kepadanya, antara lain Quality Club, Top Unit Manager Regional, Agency of the Year, Top Leader National, President Club dan anggota MDRT. Ia memang selalu berhasil melampaui target yang ditetapkan perusahaan. Tahun 2005, misalnya, ia mencetak premi Rp 3,3 miliar, padahal target perusahaan hanya Rp 900 juta. Lalu, pada 2006, ia kembali unjuk gigi dengan membukukan premi Rp 13 miliar, jauh di atas yang ditargetkan Prudential senilai Rp 2,7 miliar.
Seperti Lanny, Rudy Lemong, Insurance Counselor PT Sequis Life, juga mengaku tidak memiliki trik khusus untuk menggaet nasabah. “Saya hanya mencoba membuat daftar bank nama dari kenalan dan sahabat-sahabat saya,†kata Rudy yang baru dua tahun terakhir ini berprofesi sebagai agen asuransi. Selanjutnya, dari pengembangan data yang diprospek itu, Rudy akhirnya berhasil mendapatkan referensi untuk menggaet calon prospek yang lain. Awalnya, ia menawarkan kepada teman-teman terdekatnya. “Saya memulai dengan mengobrol santai dan menunjukkan gambaran bahwa asuransi dibutuhkan dalam hal apa saja. Saya menunjukkan kalau saya juga memiliki polis asuransi, jadi tidak hanya berjualan,†paparnya. Jika teman dekatnya itu tertarik, Rudy membantu dia untuk memiliki asuransi. “Jika belum tertarik, saya tidak akan memaksa,†tambahnya.
Menurut Rudy, kesuksesannya tidak terlepas dari lingkungan teman-teman satu timnya, terutama leader, branch manager dan vice president di Sequis Life Samarinda. “Banyak hal yang harus dipelajari untuk menjadi seorang agen yang baik dan sukses,†ujarnya. Bagi Rudy, persiapan terpenting seorang agen sebelum menemui calon nasabah adalah fokus pada solusi terbaik yang diberikan kepada nasabah, dan tidak mementingkan kepentingan agen itu sendiri. “Dengan demikian, klien akan dapat mengerti tujuan baik kami dan hal ini akan membuat berkurangnya penolakan dari klien,†tuturnya.
Selain itu, imbuh Rudy, seorang agen harus menyadari bahwa penjualan atau closing memerlukan waktu dan kesabaran. “Dibutuhkan komitmen untuk selalu menindaklanjuti sesuatu yang dilakukan,†kata ayah empat anak ini. Ia berusaha membangun kepercayaan dari para kliennya, dan itu memang tidak mudah. “Namun semuanya akan dapat dituai sesuai dengan taburan yang kami lakukan. Butuh citra diri yang baik untuk sukses di bidang ini,†tambah Rudy yang memiliki klien bukan sebatas di Samarinda, tetapi juga di Balikpapan dan kota lainnya.
Memanfaatkan keluarga dan teman-teman dekat sebagai awal sasaran tembak juga dipilih Juniwati Tedja, yang akrab disapa Yuni. Pada awal kariernya, Perencana Finansial Senior PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia ini mencoba menawarkan produk asuransi kepada keluarga, kenalan dan relasinya. “Ternyata hasilnya tidak mengecewakan,†ungkap Yuni yang terjun menjadi agen asuransi setelah mengikuti pelatihan. Mulanya, ia hanya ingin membeli produk asuransi dan tidak terpikir untuk menjalani profesi sebagai agen asuransi. Melihat para pendahulunya menjadi top agen, ia pun semakin tertantang dan penasaran untuk mencapai posisi tinggi seperti mereka.
Demikian pula yang ditempuh Lina Susana Widjaja. Di awal kariernya sebagai agen asuransi, ibu dua anak ini menawarkan asuransi kepada keluarga dan teman-temannya. “Kalau sejak awal kami sudah sering gagal, kami akan lebih cepat merasa down. Untuk itu, sebaiknya sebagai pemula, kami mulai dengan menawarkan ke orang-orang terdekat, agar pendekatannya lebih mudah dan kemungkinan berhasil lebih besar,†paparnya. Ia pun tak akan memaksa jika ternyata rekan atau anggota keluarganya belum berminat membeli produk asuransi yang dia tawarkan. “Saya tidak ingin hubungan dengan rekan dan saudara-saudara saya menjadi tidak baik,†tutur Lina.
Yang terpenting, lanjut Lina, adalah memiliki jaringan. Ada jaringan, ada pasar. Sebab, dalam menjual asuransi, penjuallah yang mendatangi pembeli, bukan sebaliknya. “Jadi, sebaiknya kami mengembangkan pasar yang ada saja,†kata Lina yang sebelum menjadi agen asuransi sempat berbisnis pipa dengan adiknya. Ini jugalah yang membuat Lina memiliki jaringan yang bagus dan luas.
Menurut Lina, setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Maka, pendekatannya pun harus disesuaikan. Ada orang yang cenderung mempertimbangkan risiko dalam hidup sehingga ia mau membeli asuransi, tetapi ada juga yang acuh dan cenderung tidak peduli. Bagi yang peduli risiko hidup dan ingin ada yang diwariskan untuk keluarganya jika suatu saat ia meninggal atau semacamnya, Lina siap menawarkan produk asuransi yang menekankan pada manfaat asuransi terkait dengan risiko hidup itu. Namun, bagi calon klien yang cenderung acuh dan kurang menilai pentingnya risiko, ia menawarkan kesempatan berinvestasi di Bumiputera. “Selama ini, kebanyakan klien memang orang-orang yang memiliki tanggung jawab dan kepedulian pada keluarganya, sehingga mereka mempertimbangkan apa yang dapat ditinggalkan bagi keluarganya jika suatu saat nanti meninggal dunia,†ungkap Konsultan Eksekutif Bumiputera 1912 ini.
Ketika menghadapi klien kakap, Lina selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Hal paling utama yaitu mencari tahu dan menganalisis apa sebenarnya kebutuhan sang calon klien. Ia menganalisis pula dari segi keuangan untuk memastikan bahwa calon kliennya memang mampu membayar jumlah yang ditawarkan. Soal persiapan dari segi penampilan, ia selalu berusaha tampil rapi. “Ini penting karena saya merasa menjual kepercayaan,†ia berujar.
Dengan jaringan dan pendekatan yang tepat, tak heran karier perempuan mungil ini langsung melejit. Bergabung menjadi agen asuransi sejak April 2005, Lina langsung bertengger sebagai salah satu top agen asuransi jiwa yang patut diperhitungkan. Bahkan, belum lama ini ia diganjar Agent of the Year peringkat kedua, Top Premium dan Top Income dalam ajang TAA AAJI. “Porsi kerja saya dengan para agen asuransi lainnya mungkin sama. Tapi kuncinya adalah bekerja lebih cerdas,†kata Lina yang terjun sebagai agen asuransi bukan karena kemauan sendiri. Ia mengikuti pelatihan asuransi dan bergabung di Bumiputera atas ajakan temannya. Pelatihan itu ternyata mampu mengubah pandangannya mengenai asuransi. Kelahiran Jakarta 8 Agustus 1969 ini tidak lagi memiliki pandangan buruk tentang agen-agen asuransi. Dan, setelah menjalaninya, Lina sampai pada satu kesimpulan bahwa menjadi agen asuransi adalah pekerjaan yang cukup menjanjikan.
Hal senada diungkapkan Eva Nova Theodorus. Ia tertarik bergabung menjadi agen asuransi karena melihat orang-orang yang berhasil sebagian besar adalah mereka yang berkecimpung di dunia pemasaran. Selain itu, Eva melihat bahwa asuransi mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi pembelinya. “Jika seseorang meninggal, mungkin teman, tetangga dan keluarganya akan memberi sumbangan seadanya bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun, perusahaan asuransi akan menyampaikan titipan dalam jumlah besar bagi keluarga dan dapat digunakan misalnya untuk sekolah anak-anak yang ditinggalkan dan sebagainya,†papar Eva yang memenangi kategori Top Polis dan Top Agent Company dalam ajang TAA AAJI.
Penasihat Finansial Eksekutif PT AXA Life Indonesia ini mengakui, memasarkan produk asuransi tidaklah mudah karena produk asuransi tidak dapat dilihat secara kasatmata dan manfaatnya juga tidak dapat segera dirasakan langsung setelah membeli. Manfaat produk asuransi baru dapat dirasakan dalam waktu 10-20 tahun ke depan. “Terlebih lagi, masyarakat Indonesia tergolong belum memiliki kesadaran untuk berasuransi, berbeda dengan di luar negeri yang masyarakatnya lebih memiliki kesadaran berasuransi,†katanya menjelaskan.
Karena itu, Eva berusaha mengedukasi calon nasabahnya agar mereka memiliki kesadaran berasuransi. Ia selalu menjelaskan dan menanamkan prinsip kepada para calon nasabahnya bahwa berasuransi merupakan hal yang sangat penting bagi siapa saja dalam rangka mengurangi risiko yang dihadapi dalam hidup ini. Dengan pendekatan ini, Eva yang baru bergabung sebagai agen asuransi di AXA Life Indonesia pada Mei 2007 sudah mampu mencatat jumlah penjualan yang besar hingga diganjar sebagai Top Agent.
Menurut Eva, hal terpenting sebelum melakukan presentasi di hadapan calon nasabahnya adalah fact fine. Yakni, mengetahui secara detail apa yang menjadi kebutuhan calon nasabah (baik perorangan maupun perusahaan) untuk menentukan treat yang pas untuk mereka. “Sama seperti seorang dokter yang akan mengobati pasiennya,†ujar Eva yang sempat berkarier sebagai customer service di BCA (1993-1996). Sebelum bergabung sebagai Professional Financial Services AXA Life Indonesia, ia sempat vakum dan memilih menjadi ibu rumah tangga sembari menjalankan bisnis menjual baju, tas dan aksesori ke butik-butik selain membantu sang suami yang menjalankan usaha showroom mobil.
Pendekatan secara kekeluargaan juga menjadi trik Yuni untuk menggaet klien. Ia selalu mencari tahu apa sebenarnya kebutuhan sang calon klien, dan ia siap menawarkan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhannya. “Produk Manulife ini sangat bervariasi, ada lebih dari 10 program yang kami tawarkan. Karena itu, saya harus mengetahui apa kebutuhan calon klien saya,†kata Yuni yang mengaku selalu profesional saat menghadapi klien: tak membeda-bedakan antara yang berpremi besar dan kecil.
Yuni juga banyak meminta referensi dari para kliennya untuk memasarkan lebih jauh asuransi Manulife. Biasanya cara ini memudahkannya menjual produk asuransi. “Kalau sudah direferensikan, ketika saya datang, calon klien baru yang direferensikan klien saya sebelumnya itu biasanya hanya tinggal bilang, \’Saya mau produk yang seperti si A atau si B\’. Mereka sudah mau, tinggal menyesuaikan produk apa sebenarnya yang mereka butuhkan. Jadi, transaksi dapat segera berlangsung,†tutur lulusan Banking and Finance dari Sydney Institute of Technology ini.
Selain itu, Yuni juga siap menunggu sampai sang calon klien mengatakan “ya†untuk bergabung. Ia pernah menunggu seorang ibu yang akan membeli produk asuransinya dari pagi sampai malam. Akhirnya, ibu itu mau bergabung dengan pembayaran premi yang lumayan tinggi, mencapai Rp 70 juta per tahun. “Ketika saya datang ke rumah calon klien saya itu jam 9 pagi, sesuai dengan kesepakatan kami sebelumnya, ternyata ia belum bangun. Ia baru bangun pukul 10.30, dan ia lupa sudah ada janji dengan saya. Bahkan, ibu itu mengomel karena saya datang saat itu. Ia akhirnya menyuruh saya datang lagi pukul 12.30. Begitu sampai di rumahnya kembali, ibu itu menyuruh saya kembali lagi jam 4 sore di kantornya. Setelah jam 4 sore, saya harus menunggu sampai jam 7 malam,†kelahiran Jatibarang 15 Juni 1972 ini mengisahkan sambil tertawa. Menurut Yuni – yang bergabung dengan Manulife sejak Mei 2002 – penolakan dari calon klien selalu menjadi cerita duka bagi agen asuransi. Akan tetapi, ketika memperoleh komisi, seluruh duka itu seolah-olah terhapus.
Eva juga mengaku saat mendapat penolakan dari calon nasabah sebagai momen yang membuatnya berduka. “Saya juga mengalami banyak penolakan seperti pemasar pada umumnya,†tutur kelahiran Jakarta 7 September 1973 ini. Toh, ia tidak melihat penolakan itu sebagai sesuatu yang dapat mematahkan semangatnya. “Saya justru melihatnya sebagai seni dalam memasarkan produk-produk asuransi,†imbuhnya. Seperti Yuni, Eva juga mengaku kesedihan ditolak calon nasabah terbayarkan ketika memperoleh komisi. “Itu sisi yang menyenangkan,†katanya. Selain itu, “Saya sangat menikmati pengalaman bertemu banyak orang dari berbagai lapisan dan profesi, dan juga orang-orang dari daerah. Ada orang yang punya banyak uang, sampai ia bingung mau diapakan lagi uangnya itu,†cerita Eva yang mempunyai klien dari berbagai daerah.
Kesenangan bagi seorang agen asuransi, menurut Lina, tentu pada saat menerima penghasilan. “Saya rasa dukanya tidak ada. Begitu terima komisi, dukanya langsung hilang semua,†kata Lina sambil tertawa. Toh, ia tidak menampik bahwa perasaan down pasti akan dialami oleh setiap agen asuransi ketika penawarannya ditolak. Perasaan jenuh terkadang juga datang. “Kalau sedang jenuh, saya biasanya tidak bertemu orang dulu, seminggu misalnya. Karena, kalau saat jenuh itu datang, mood kerja saya juga tidak baik. Kalau dipaksakan akan sia-sia, saya tidak akan bisa memengaruhi orang lain,†ia menuturkan.
Lain halnya Rudy. Selama menjalani kariernya sebagai agen asuransi, ia hampir tak pernah merasakan tekanan atau kesulitan. Semuanya ia lakukan dengan enjoy dan fokus pada tujuan awal, yaitu memberikan solusi terbaik kepada seluruh klien. “Kalau pengalaman ditolak memang banyak, suka-duka pasti ada, tapi saya buat jadi enjoy saja semuanya,†ia menandaskan. Bahkan, saking enjoy-nya, ia tak terlalu memperhatikan apakah dirinya memperoleh penghargaan atau tidak. Baginya, yang penting melakukan yang terbaik bagi perusahaan. “Wah, saya lupa dapat penghargaan untuk kategori apa saja,†kata Rudy yang menjadi salah satu Agent of the Year pilihan AAJI tahun 2008. Namun, saat acara penganugerahan award itu, ia tidak dapat hadir karena sedang ada tur.
Suka dan duka dalam melakoni pekerjaan pastinya dialami semua orang, bukan hanya agen asuransi. Akan tetapi, yang menarik adalah pengakuan Lanny. Menurutnya, menjadi agen asuransi, seseorang bisa berubah dari zero menjadi hero, dari nothing menjadi something, dan dari diremehkan menjadi dihargai. Sebelum menjadi agen asuransi, ia bepergian dengan kendaraan umum. Meski ia tak bersedia membocorkan pendapatannya, ia mengaku saat ini tidak lagi memiliki beban finansial. Ia telah menjamin seluruh biaya pendidikan anak-anaknya sampai kuliah hingga ke luar negeri, biaya kesehatan seluruh keluarga, bahkan pensiun di hari tua.
Lanny juga memiliki sejumlah investasi di properti, reksa dana, saham, dan perhiasan. Untuk properti, ia menyebut tanah, rumah dan ruko. Sementara reksa dana ada jenis campuran dan pendapatan tetap. Dan, selama lima tahun menjadi agen asuransi, ia telah menjelajah 21 negara di berbagai benua sebagai buah dari prestasinya. Dibantu sekitar 50 agen sebagai anak buah, ia kini menyewa sendiri ruang kantor untuk aktivitas bisnisnya di Sudirman Tower, Jakarta.
Menginvestasikan penghasilan ke berbagai keranjang yang berbeda juga dilakukan Yuni. Bungsu dari 8 bersaudara ini mengaku, penghasilannya ia investasikan dalam bentuk deposito, saham, reksa dana dan valuta asing. Yang terbanyak di reksa dana. Ia melakukan investasi dengan tujuan jangka panjang, termasuk untuk kebutuhan masa depan ketika anak-anaknya telah semakin besar dan membutuhkan lebih banyak biaya untuk pendidikan.
Bagaimana dengan Eva? Ia lebih banyak menginvestasikan penghasilannya di reksa dana. “Karena jangka waktu investasinya yang panjang,†ucapnya. Ia melakukan top-up pada unit link yang juga dia miliki agar nilai investasinya semakin besar. Sejak awal, ia juga telah memiliki polis asuransi. Memiliki polis sendiri dinilai Eva penting bagi seorang agen asuransi untuk mengenal produk yang dijualnya secara lebih mendalam. Eva telah mengasuransikan kedua anaknya yang masing-masing berusia 7 dan 10 tahun.
Sebagai orang yang berperan menyadarkan masyarakat akan pentingnya persiapan masa depan, Lina aktif melakukan investasi untuk menjamin keberlanjutan masa depan dirinya dan keluarga. Ia mengalokasikan penghasilannya dari bekerja sebagai agen asuransi ke dalam tabungan. Ia menabung sebagian besar penghasilannya dalam bentuk mata uang asing dari beberapa negara. Yang paling banyak dalam bentuk dolar Australia karena kedua anaknya sempat bersekolah di Australia dalam beberapa tahun terakhir, meskipun saat ini keduanya telah kembali bersekolah di Indonesia. Ia juga mengalokasikan dananya ke reksa dana, properti berupa tanah dan sedikit pada saham. “Sisanya, saya mengalokasikan dana di bisnis yang dijalankan oleh suami,†ungkap Lina yang bersuamikan seorang pengusaha bahan kimia.
Dengan beragam investasi tersebut, berapa sih besaran pendapatan seorang agen asuransi? Diakui Lina yang kelahiran Jakarta 8 Agustus 1969, ia pernah memperoleh transaksi senilai Rp 1 miliar untuk produk investasi Mitra Permata pada 2007. Adapun pada 2008, ia tidak menjual produk premi tunggal sama sekali. Menurut Lina, di masa krisis seperti sekarang, agak sulit bagi pemilik dana untuk menginvestasikan dananya dalam jumlah besar pada suatu produk investasi. Beberapa waktu terakhir ini, diakuinya, premi terkecil dari seorang klien dapat mencapai Rp 10 juta per tahun. Jumlah ini biasanya diperoleh dari klien yang berpenghasilan sekitar Rp 200 juta per tahun. Bagi Lina yang telah menjadi agen dengan level eksekutif, minimum premi yang diperoleh dari setiap nasabah memang tidak boleh kurang dari Rp 5 juta. Ia pernah memperoleh premi terbesar senilai Rp 350 juta per tahun dari seorang pengusaha di Jakarta. Ia memang telah mengenal cukup baik pengusaha itu dan mengetahui bagaimana kondisi keuangannya. Dan, sang pengusaha ternyata merasa membutuhkan asuransi jiwa yang ia tawarkan.
Seperti Lina, Eva pun enggan berbagi ihwal besaran angka penjualan yang telah diraih. Apalagi komisi yang berhasil diraup. Ia hanya menceritakan bahwa polis terbesar yang pernah dia peroleh berasal dari sebuah perusahaan besar di Indonesia yang berlokasi di Jakarta. Perusahaan itu menjadi klien AXA sejak awal 2008. Eva berhasil meyakinkan perusahaan itu untuk menggunakan asuransi AXA dan mengasuransikan 250 karyawannya. Ketika itu ia bersaing dengan perusahaan asuransi lain yang telah digunakan oleh perusahaan tersebut.
Menurut Eva, yang dapat membuatnya memenangi persaingan itu adalah pemahamannya terhadap kebutuhan perusahaan tersebut, misalnya mengenai asuransi jiwa karyawan, pensiun karyawan, dan sebagainya. Ini karena perusahaan itu sangat peduli terhadap karyawannya. Selain itu, tambah Eva, maintain AXA terhadap para nasabahnya sangat baik. “Perusahaan besar itu pernah melakukan klaim atas karyawannya yang meninggal, dan klaim tersebut sudah mereka terima,†ujarnya.
Dengan masuknya 250 karyawan perusahaan itu, dapat dibayangkan besarnya premi yang dibayarkan per bulannya, karena biasanya klien perusahaan membayarkan premi bulanan dalam jangka waktu 10 tahun. Dapat dibayangkan pula besarnya komisi yang diperoleh Eva setiap bulan hanya dari satu perusahaan besar tadi, belum termasuk klien-klien lainnya. Eva memang tidak bersedia menyebutkan nilai transaksi klien perorangannya secara spesifik. Namun, menurutnya, ada beberapa klien perorangan yang memiliki nilai transaksi dengan kisaran Rp 200-500 juta. Angka tersebut meliputi asuransi jiwa dan investasi di unit link. Besarnya perbandingan asuransi jiwa dan investasinya tergantung pada kebutuhan nasabah.
Toh, lulusan Akademi Bank Indonesia ini mengatakan, “Pada dasarnya, saya hanya berusaha bekerja dengan sebaik mungkin. Soal jumlah premi tidak saya hitung-hitung setiap saat, tapi memang selalu ada report-nya. Yang jelas, saya hanya berusaha sebaik mungkin dalam memasarkan asuransi dan selalu berusaha mencapai target. Dan saya yakin, company pasti appreciate dengan apa yang saya kerjakan.â€Â
Adapun transaksi paling besar sepanjang karier Yuni sebagai agen asuransi adalah premi senilai Rp 400 juta per tahun dari empat orang yang merupakan anggota sebuah keluarga pengusaha. Premi tebesar itu diraih Yuni tahun lalu. Kebanyakan kliennya memang pengusaha. Karena itu, premi yang berhasil diraih dari tiap-tiap kliennya pun tidak dalam jumlah yang kecil. Ibu dua anak ini sering kali memperoleh premi dengan angka yang cukup besar misalnya Rp 70 juta atau Rp 100 juta per tahun dari setiap klien.
Namun, Yuni juga pernah memasukkan premi dengan jumlah hanya Rp 5 juta. “Bagi saya, setiap penjualan yang berhasil saya lakukan adalah rezeki dari Tuhan. Karena itu, saya tidak memilih-milih besarnya transaksi yang masuk,†ucap Yuni yang belum pernah menawarkan program asuransi untuk korporasi. Selama ini, ia lebih banyak menawarkan asuransi kepada individual. “Biasanya, saya tawarkan ke keluarga. Jadi sekali masuk, suami, istri dan anak,†ungkap Yuni yang kerap menyempatkan diri menjenguk jika ada kliennya yang sedang sakit atau semacamnya.
Reportase: Kristiana Anissa