Nancy Go: Go Global dengan Bagteria
Sebuah tas terpajang di etalase butik di Plaza Indonesia. Foxlove, begitulah nama tas yang berada di bawah payung label Bagteria itu. Katalog di dekat tas tersebut menampilkan foto selebriti dunia Paris Hilton dan Anggun C. Sasmi ketika sedang mengenakan tas seharga Rp 8,9 juta itu dalam sebuah momen penting. Paris dalam acara Fashion Week di New York, Amerika Serikat, sedangkan Anggun di Festival Cannes di Prancis.
Seorang selebriti dunia menggunakan tas mahal tentu bukan hal yang luar biasa. Namun, cerita jadi lain jika mengetahui tas mahal itu ternyata produk asli Indonesia, hasil karya orang yang tak begitu dikenal di Tanah Air, Nancy Go. Bahkan, di dalam negeri merek Bagteria tak begitu beken. Di sini namanya tak sepopuler tas-tas merek asing seperti Channel, Christian Lacroix dan Rochas.
Walaupun tak begitu terkenal di Indonesia, Bagteria mampu memasuki pasar kelas atas global. Kini tas yang juga disenangi artis Hollywood Emma Thompson ini telah didistribusikan di sejumlah rumah mode terkenal dunia dan hadir di 30 negara, di antaranya Prancis, Italia, Inggris, Australia dan Jepang.
Keberhasilan ini bermula dari kesenangan Nancy membuat kerajinan tangan, seperti sulaman dan rajutan. Dari sini timbul ide membuat tas berkualitas internasional. Di sisi lain, Nancy dan suaminya, Bert Ng, ingin mengenalkan produk Indonesia ini ke pasar dunia. Pada tahun 2000, dengan lima karyawan, mereka mulai memproduksi Bagteria. Saat itu Nancy menyewa satu rumah untuk produksi yang terletak di seberang rumah mereka di Jakarta Barat. Dan, suaminya memberi nama Bagteria. Alasannya, “Supaya kesannya humor saja. Mudah-mudahan seperti bakteri yang mewabah,†ujar perempuan kelahiran Brasil, 1963, itu sembari terkekeh. Adapun modal awal PT Metamorfosa Abadi (MA), perusahaan yang memayungi Bagteria, sekitar Rp 300 juta.
Sejak awal mereka memang berniat memasarkan Bagteria di pasar global. Karena itu, target pasar di awal produksi Bagteria adalah Hong Kong. “Untuk pasaran fashion di Asia, pakarnya adalah Hong Kong,†kata ibu dari Brendan, Brenda dan Bryna Ng ini. Problemnya, mereka tak punya seorang pun kenalan di luar negeri. Untungnya, mereka memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai butik-butik yang berpotensi menjual Bagteria.
Pengetahuan inilah yang memudahkan mereka bekerja sama dan memasukkan Bagteria di butik-butik terkenal dan distributor. “Kami tidak menjual ke end user. Sampai sekarang Bagteria hanya menjual ke berbagai distributor yang tersebar di berbagai benua. Kecuali, di Taiwan, kami punya partner,†ujar Nancy. Saat ini terwaralaba (franchisee) Bagteria di Taiwan terdapat di Sogo Taiwan. Nancy dan Bert hanya menjual ke franchisee sekaligus distributor Bagteria ini yang selanjutnya akan menyalurkan produk MA tersebut ke butik-butik.
Bert yang tampak setia mendampingi sang istri teringat satu kejadian pada tahun pertama Bagteria menembus pasar internasional. Kala itu ada orang Korea yang berminat memasarkan Bagteria di butiknya. Orang Korea ini mengira Bagteria berasal dari Italia. Karenanya, ketika ia tahu Bagteria buatan Indonesia, ia menawar dengan harga murah. “Tapi itu nggak fair dong. Kalau dia bisa membeli beberapa tas kami di Milan, dan akhirnya ingin memesan langsung dari kami, pasti ada nilainya,†kata Bert. Akhirnya, orang Korea tersebut bisa mengerti. Bahkan, sampai sekarang ia menjadi pelanggan setia Bagteria.
Bert menjelaskan, saat ini pasar internasional masih beranggapan produk Indonesia bisa jauh lebih murah. Harga Bagteria di Indonesia sekarang Rp 2,5-9 juta, sedangkan di luar negeri bisa tiga kali lipat, bahkan lebih.
Setelah Hong Kong, order terus berdatangan dari berbagai negara. Pada 2003 Jepang menjadi target berikutnya, karena negeri ini dikenal sebagai salah satu pusat berkumpulnya para fashionista dunia. Di Negeri Matahari Terbit, Bagteria memasuki pasar melalui pameran sebagai wahana untuk mengenalkan produknya. Dari sini datanglah distributor Jepang yang tertarik memasarkannya. “Tidak mudah masuk Jepang,†ujar Nancy, jebolan Bunka School of Fashion dan Akademi Kesenian Jakarta. Karena, “Sekali you telat kirim (barang) dan kualitas tidak terjamin, wah sudah jangan harap lagi,†kata Bert sambil menambahkan, kini Jepang merupakan salah satu negara dengan permintaan tertinggi terhadap Bagteria. Keduanya sepakat, konsistensi kualitas produk merupakan hal terpenting supaya bisa diterima di pasar internasional.
Saat ini mereka rutin berpameran untuk musim berikutnya, antara lain di Fashion Week AS, Jepang dan Prancis (Paris). Karena itulah, mereka selalu memproduksi Bagteria untuk beberapa bulan ke depan. Misalnya, pada awal 2008, MA sudah membuat tas untuk musim panas dan gugur 2008 dan 2009.
Berkat pameran ini pula, tas Bagteria digemari selebriti sekelas Paris Hilton. “Paris Hilton pertama kali mengenal Bagteria ketika kami berpameran di Fashion Week AS. Kebetulan saat itu ia sedang melewati stand kami dan mengaku suka dengan Bagteria. Ya sudah, karena dia menginginkan tas itu. Padahal, kami belum ada cadangan produksi lainnya, ya kami beri saja,†Bert menuturkan. Pasangan suami-istri tersebut menampik anggapan bahwa Paris merupakan ikon Bagteria. Keterlibatan artis Hollywood itu karena ketidaksengajaan.
Usaha Bagteria untuk dikenal pasar internasional mendapat apresiasi yang besar dari pengamat gaya hidup Samuel Mulia. “Saya pikir itu bagus karena dia mau mengikuti pameran dan berkecimpung di dunia fashion yang terbatas di mana orang harus mengeluarkan banyak uang,†tutur Samuel. Baginya, langkah Nancy dan Bert tergolong langka dan tak semua orang bisa mengikutinya. “Bahkan yang saya dengar, ada rumah mode yang sangat terkenal akan memesan tas dari mereka,†ujarnya.
Ketika apresiasi pasar global semakin meningkat, pasar dalam negeri mulai merespons kehadiran Bagteria. Untuk itu, pada akhir 2000 Bagteria hadir di Plaza Senayan. Menurut Nancy, ia berorientasi pasar luar negeri karena masyarakat Indonesia masih terseret dalam pemikiran bahwa segala sesuatu bergantung pada harganya. Jika harga sebuah tas jauh melesat di atas rata-rata harga tas produk Indonesia lainnya, sering kali tas tersebut tidak laku di pasaran.
Pernyataan Nancy diamini Samuel. Ia melihat orang Indonesia masih melihat merek terkenal ketimbang merek lokal yang berkualitas. “Mereka men-justify harga Rp 12 juta untuk sebuah nama,†katanya. Adapun masyarakat internasional tak lagi semata-mata mengagung-agungkan merek terkenal. Mereka memilih barang karena kualitasnya. Penghargaan orang Indonesia terhadap benda-benda bernilai itulah yang membuatnya prihatin.
Di Indonesia, klien Bagteria antara lain para artis, pengusaha dan pejabat. Ida Arimurti, penyiar terkenal Radio Delta Jakarta, merupakan salah satu penggemar berat Bagteria. “Sejak pertama kali Bagteria ada di Plaza Senayan, saya sudah membelinya,†ungkap wanita yang memiliki 20 tas Bagteria ini. Ida menjelaskan, ada kalanya Bagteria meluncurkan satu set perlengkapan pesta yang terdiri dari tas, gaun, sepatu dan perhiasan dengan warna senada. Atau, satu set tas beserta gaun, selendang dan perhiasannya. Ida sendiri memiliki 7 set produk Bagteria. Adapun harga koleksinya berkisar Rp 1-7,5 juta.
Ida memilih Bagteria karena produk ini menggunakan bahan baku Indonesia dan dipunyai orang Indonesia. “Saya bangga memilikinya,†ujarnya. Desain Bagteria, menurutnya, penuh detail. Meskipun Bagteria membuat produk bergaya sportif, detailnya tak dilupakan. Baginya, Bagteria berkualitas internasional dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan buatan luar negeri.
Apresiasi Ida terhadap Bagteria tak meleset. Nancy memang sangat senang dengan kedetailan sehingga Bagteria dibuat dengan tangan (handmade). Dijelaskannya, manik-manik, bebatuan atau hiasan aksesori lainnya dengan ukuran diameter dalam satuan milimeter tersebut harus dijahit satu per satu. Berdasarkan kedetailan dan bahan bakunya itulah harga ditetapkan. Semakin rumit detail Bagteria, semakin tinggi harganya. Harga yang melambung tinggi salah satunya disebabkan karena bahan baku yang didapatkan dari berbagai negara. Sebut saja, gading mammoth atau gajah purba yang didapat dari Siberia dan kulit ikan yang didatangkan dari Iceland. Dalam produk tasnya juga ada perpaduan antara kulit burung unta dengan ukiran perak. Lalu, ada kristal Swarovski, mother of pearls, tanduk rusa, oxbone dan glass beads atau mote dari kaca.
Tak hanya itu, mereka pun memakai berbagai teknik sulam dengan waktu pengerjaan yang cukup lama karena banyak menggunakan material yang sangat kecil. Satu tas rata-rata dikerjakan selama dua minggu. Nancy memperkirakan, dalam pembuatan satu tas bisa dihabiskan puluhan jarum, yang umumnya karena patah. “Bagi saya, ada suatu kepuasan jika dikerjakan dengan tangan. Detail-detail yang dimiliki Bagteria nggak mungkin dikerjakan dengan mesin,†katanya sambil mengungkapkan ketidakkhawatirannya terhadap duplikasi merek Bagteria di pasar tas lokal.
Bahkan, setiap melakukan perjalanan ke Eropa untuk trade show, Nancy selalu meluangkan waktu beberapa hari untuk pergi ke Venezia atau Lake Como. Di sana dia bisa refreshing sekaligus hunting material untuk kreasinya.
Dari sini tampak upaya keras Nancy dalam membuat setiap produk Bagteria. “Saya suka tantangan. Saya ingin berbeda dari lainnya,†ungkapnya mengenai latar belakang semua upayanya itu. Toh, “Kadang-kadang saya bertanya pada diri sendiri, mereka (pembeli — Red.) sadar nggak ya kalau dalam satu tas ini terdiri dari banyak barang (bahan baku) dari beberapa negara.â€Â
Keberhasilan Bagteria pun memacu permintaan. Kini, Bagteria memiliki tiga rumah produksi. Total produksi tertinggi MA terjadi sekitar dua tahun lalu, ketika kapasitas produksinya mencapai 1.500 buah/bulan. “Tapi, sebenarnya itu overtime, nggak sehat. Akhirnya, anak-anak banyak yang sakit,†ujarnya. Saat itu permintaan memang sangat tinggi dan mereka tidak memperhitungkan tenaga kerja yang hanya 250 orang. “Maklum, kami baru masuk ke pasar internasional. Tapi itu pelajaran buat kami. Terkadang kami tidak enak menolak permintaan orang,†kata Nancy dan Bert hampir bersamaan.
Produksi normal Bagteria adalah 900-1.000 buah/bulan. Sebanyak 80% untuk pasar mancanegara, sedangkan sisanya untuk pasar dalam negeri. Di Indonesia, MA menjual minimal 100 tas/bulan. Perkembangan pasar dalam negeri yang menggembirakan ini membuat Nancy dan Bert membuka dua butik lagi yaitu di Plaza Indonesia dan Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia. Namun, butik di Plaza Senayan ditutup.
Tak seperti sebelumnya ketika Nancy melakukan segalanya sendiri, kini ia membentuk tim desain. Bahkan, suaminya, yang sebelumnya menjadi konsultan sebuah perusahaan, kini lebih berkonsentrasi mengurusi bisnis dan pemasaran Bagteria. Nancy sendiri fokus menangani desain dan pengembangan produk.
Selain keberhasilan, Nancy dan Bert juga pernah mengalami peristiwa yang tak menyenangkan. Suatu kali mereka terlambat mengirimkan barang sesuai dengan perjanjian. Akhirnya, order dibatalkan sepihak. Ini terjadi karena bahan baku untuk tas, seperti manik-manik dan bebatuan, belum datang dari negara penghasilnya. “Jadi kalau mulai produksi, materialnya baru 30%. Kami nggak bisa mulai. Barang datang tepat waktu itu juga nggak gampang karena berasal dari berbagai negara.â€Â
Itulah sebabnya, setiap jenis produk Bagteria hanya berjumlah 299 buah dengan 2-3 warna. Namun, ada beberapa produk yang memang sengaja dibuat sangat terbatas: tiga buah untuk seluruh dunia. Di sisi lain, saat ini jumlah karyawannya hanya 200 orang sehingga pekerjaan pun menjadi terbatas. Menambah karyawan ternyata tak gampang. Alasannya, “Tak mudah mengajarkan keahlian tertentu pada orang lain,†kata Nancy yang berkolaborasi dengan sejumlah perajin di Indonesia.
Jumlah produksi yang terbatas ini membuat Nancy tidak ingin memasarkan Bagteria langsung ke end user. “Untuk monitoring dan kontrolnya sulit sekali. Apalagi, jauh,†ujar Bert. Dan, Nancy pun ingin melakukan terobosan lain. “Kalau bisa berbagi tugas, hasilnya bisa lebih bagus. Nggak mungkin kami bisa pegang semuanya,†kata Nancy yang sedang merancang pendirian butik sendiri di luar negeri.
Untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, kini Bagteria memberikan layanan pascajual. Di setiap distributornya, MA menyediakan aksesori cadangan. Jadi, bila tas rusak atau ada aksesori yang hilang, pelanggan bisa membetulkannya di butik-butik yang bekerja sama dengan distributor resmi Bagteria. Begitu pula di Indonesia, bila ada kecacatan fisik pada tas yang dibeli, tas tersebut bisa dibetulkan di butik Bagteria di Jakarta. “Bila ada aksesori yang dihilangkan oleh konsumen sendiri, nanti kami ganti aksesori yang hilang itu. Tapi, kami kenakan charge,†ujar Bert yang kini berusia 51 tahun.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.