PT Ocean Mitramas merogoh kocek US$ 2 juta untuk peremajaan armada kapal. Tujuannya agar lebih efisien dan menjamin standarisasi pengelolaan mutu hasil tangkapan nelayan 10 tahun ke depan. Kini jumlah kapal OM 13 unit, terdiri dari 7 kapal pengangkut dan penampung berpendingin dan 6 kapal penangkap purseine.
Esther H.Satyono, Komisaris Ocean Mitramas, mengaku, pihaknya besar bersama nelayan. Makanya, ia berkomitmen untuk membesar perusahaannya yang bergerak di bidang penangkapan, pemrosesan dan pemasaran ikan itu juga untuk mengangkat kehidupan kaum nelayan. Jenis ikan-ikan yang ditangkap antara lain Tuna, Cakalang, Muroaji/Layang, dan Tongkol Beku. Pertumbuhannya bisa mencapai 100% per tahun. Kini, kapasitas penampungannya mencapai 8 ribu ton.
Selama ini, 70%-75% ikan tangkapan perusahaan ini dijual untuk kebutuhan bahan baku Tuna dan Cakalang pada industri pengalengan di Indonesia. Sementara, 25%-30% hasil tangkapan diekspor langsung ke Jepang sebagai bahan baku Katsuobushi mutu prima yang pengasapannya hanya menggunakan kayu Pinus Jepang. Untuk pasar ini Esther mengaku telah membuka pasar sendiri.
Ocean Mitramas beroperasi sejak 1993 dan sudah bermitra dengan nelayan di Indonesia Bagian Timur. “Kami bermitra dengan nelayan daerah-daerah terpencil dan jauh dari pasar,†ujarnya. Beberapa unit operasi Ocean Mitraman ada di Larantuka (NTT), Bitung (Sulawesi Utara), Ternate (Maluku), dan Sorong (Papua Barat) dalam membangun kemitraan dengan nelayan di wilayah tersebut.
Mengapa tertarik terjun ke bisnis perikana? “Potensi perikanan sangat besar. Tetapi di sisi lain kehidupan nelayan cukup memprihatinkan,†ujarnya memberi alasan sehingga ia berani menginvestasikan Rp 80 miliyar untuk memulai usaha yang dirintis sejak 17 tahun lalu itu..
Bagaimana Esther bisa mendongkrak kehidupan nelayan seperti itu? Menurutnya, nelayan harus dipaksa mengelola keuangan mereka. Itulah kenapa OM selalu mematok harga beli dari nelayan dengan mempertimbangkan biaya operasi, biaya makan, hingga cadangan masa paceklik. “Sementara kalau untuk cicilannya sebesar 10%-15% dari harga per kilogram ikan,†katanya. Dengan cicilan berbasis per kilogram ikan yang dihasilkan ini, nelayan bisa memiliki kapal dalam waktu sekitar 5 tahun. Perlu diketahui tahun 1994 harga kapal Rp 60 jutaan, tapi sejak 2008 harga kapal mencapai Rp 200 jutaan.
Untuk semakin memajukan bisnisnya ini, Ocean Mitramas juga bekerjasama dengan pihak bank, seperti Panin Bank Cab Senayan, BCA,BNI, BRI dan Bank Mandiri. “Kami pun membantu menjalankan kredit nelayan di BRI,†katanya sembari menambahkan ketika itu ada 200-an kapal nelayan hasil kerjasama dengan BRI. Pihak Ocean Mitramas memberlakukan komitmen pembayaran tunai dan tepat waktu. Tujuannya untuk menghindari nelayan nakal. “Kami punya sistem deteksi sendiri. Kalau nelayan masih nakal, biasanya kami hentikan segala bantuan termasuk modal kerjanya juga,†ujar Esther. (EVA)