Pandangan HIPMI untuk Tahun 2008

Pandangan HIPMI untuk Tahun 2008

“Dua hal yang paling mengkhawatirkan adalah tekanan harga minyak dunia yang mendekati US$100 serta semakin dekatnya Pemilu 2009. Jangan sampai pengusaha berpikir terlalu defensif dan protektif terhadap operasional usahanya sehingga memperlambat pertumbuhan usahanya,” ujar Sandiaga Uno, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat HIPMI.

Selain itu, lanjutnya, pejabat pemerintah jangan sampai terkuras waktunya karena terseret persaingan politik kelompok mempersiapkan Pemilu 2009 karena akan semakin mengganggu efektivitas pemerintahan. Kombinasi kedua efek ini bisa berpengaruh negatif kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah semakin baik.

Laporan akhir tahun HIPMI juga memprediksi bahwa sektor riil akan bergerak positif di tahun 2008 terutama bila didukung dengan semakin derasnya penyaluran kredit lunak kepada pengusaha kecil di daerah. Dari sisi konsumsi HIPMI tidak khawatir karena diharapkan konsumsi masyarakat akan meningkat menjelang pemilu. Apalagi belanja/konsumsi publik biasanya makin meningkat menjelang pemilu.

“Namun jangan sampai konsumsi publik yang meningkat justru menjadi indikator akan semakin merebaknya politik uang,” tambah Made Suryadana, Sekretaris Jenderal HIPMI

Yang sangat menggembirakan dari Laporan akhir tahun HIPMI adalah adanya indikasi positif semakin matangnya proses demokratisasi di pusat dan daerah ditunjukkan oleh proses rekruitmen kader partai politik yang semakin ketat dan berkwalitas.

“Kalau memang para politisi mau bersaing dalam melindungi bahkan semakin meningkatkan tren pertumbuhan ekonomi di 2007 yang sudah semakin baik, ya kita dukung persaingan politik menuju 2009. Namun kalau saling menjatuhkan dan pada akhirnya justru merugikan perekonomian baik di pusat maupun di daerah, HIPMI secara proaktif akan mengindentifikasi dan menyampaikannya kepada masyarakat sehingga kontrol publik bisa semakin kuat dan efektif,” kata Made.

Dalam kesimpulannya, Laporan Akhir Tahun HIPMI mengajukan empat rekomendasi utama kepada pemerintah, tokoh politik dan tokoh masyarakat. Pertama, pemerintah harus lebih konsisten dalam mengimplementasikan kebijakan ekonomi yang bertujuan untuk menarik investasi asing dan lokal.

“Ujian terberat bagi pemerintah di tahun 2008 adalah mempercepat pembangunan infrastruktur publik, merevisi UU Pajak dan Perburuhan, serta memberantas pungli dan faktor lain penyebab ekonomi biaya tinggi,” Sandi Uno menegaskan.

Kedua, seluruh komponen bangsa harus bersiap-siap menghadapi tahun penuh gejolak. Lebih spesifik laporan tersebut menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terlalu mudah terpancing dengan sentimen nasionalisme sempit anti investasi yang berpotensi dihembuskan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi atau golongannya.

“Di era globalisasi ini kita harus pandai merangkul dan bekerjasama dengan pihak investor baik asing maupun lokal atas azas saling menguntungkan. Jangan asal menolak kemudian yang rugi kita semua, terutama dunia usaha nasional,” kata Sandi.

Ketiga, aparat pemerintah (birokrasi) harus bersikap netral dan profesional dalam melayani publik, tidak mudah terpengaruh kompetisi politik jelang Pemilu 2009. Keempat, masyarakat juga harus proaktif memaksa elite politik untuk duduk bersama dengan pemerintah dan pelaku ekonomi agar tercipta iklim usaha yang punya manfaat nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag