Panduan Baru Bernama Kompas-100

Panduan Baru Bernama Kompas-100

Menurut Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo, ide membuat indeks tercetus pada 1999. Hanya saja, kala itu pihaknya tidak memiliki sumber daya yang tahu cara membuatnya. ”Kami coba mengajak BEJ. Tetapi waktu itu BEJ juga kesulitan kalau hanya memikirkan Kompas,” tuturnya. Ide ini muncul lagi ketika di awal tahun ini BEJ ingin memperingati 30 tahun hidupnya pasar modal Indonesia. Nah, kali ini tawarannya datang dari bursa terbesar di Tanah Air ini.

Kenapa Kompas yang dipilih? Suryo menilai, BEJ memilih perusahaannya karena ingin indeksnya dikaitkan dengan surat kabar nasional bertiras besar dan telah dikenal di dalam dan di luar negeri. Diakuinya, Kompas bukan harian ekonomi. Namun, BEJ melihat Kompas punya nama besar. ”Di Inggris, koran yang besar memang Financial Times, sementara di Jepang, Nikkei. Tapi Strait Times yang menerbitkan indeks di Singapura bukan koran bisnis. Jadi, memang tidak mesti koran bisnis,” katanya seraya melanjutkan, yang penting adalah kredibilitas korannya.

Direktur Perdagangan BEJ M.S. Sembiring membenarkan, pihaknya memilih Kompas karena melihatnya sebagai salah satu koran referensi dan informasi terbesar dengan cakupan nasional. ”Kalau dia (Kompas) memuat informasi tentang kinerja bursa, orang akan lebih terinformasi karena ada indeksnya,” ujarnya.

Kali ini penggarapan dan pengelolaan indeks Kompas-100 dilakukan sepenuhnya oleh BEJ. ”Kompas hanya dipakai namanya untuk kepentingan indeks baru di pasar modal Indonesia. Selain itu, Kompas menyediakan halaman saja,” kata Suryo. Kesepakatan tersebut berlangsung untuk tahun pertama saja. Setelah itu, menurut Suryo, Kompas akan mengelolanya sendiri. ”Kami sedang menyiapkan tim khusus. Teman-teman Kompas setahun ke depan akan di-training BEJ. Ada lima orang yang ditugaskan dari bagian penelitian dan pengembangan (litbang), juga wartawan,” ujarnya. Dalam hal ini, wartawan dilibatkan untuk menentukan kriteria emiten yang pantas masuk ke dalam daftar indeks. ”Mereka yang tahu informasinya dan litbang yang akan mengelola datanya,” lanjut Suryo. Tiap 6 bulan Kompas bersama BEJ akan melakukan evaluasi bersama.

Bagi Kompas, keberadaan indeks ini tidak akan memengaruhi iklan. ”Tujuannya lebih mengarah ke promosi,” ungkap Suryo. Jika indeks ini menjadi acuan pelaku pasar dan dikutip banyak orang dari dalam dan luar negeri, hal itu akan menjadi promosi yang luar biasa bagi Kompas. Di luar itu, dia menuturkan, Kompas ingin memainkan peran yang lebih aktif guna mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di bidang pasar modal.

Lantas, mengapa hanya 100 emiten? Sembiring menjelaskan, angka 100 dianggap telah mencerminkan kinerja saham gabungan yang saat ini berjumlah 346 emiten. Bisa saja memasukkan 110 atau 120 saham. Namun, dia berpendapat, kalau ke-100 saham ini dites, pergerakannya akan relatif sama dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang jumlahnya 346 emiten itu. Paling tidak, lanjutnya, dengan Kompas-100, investor akan memiliki acuan lain. ”Kalau investor melihat IHSG kan sangat luas. Sementara LQ-45, pilihannya tidak terlalu banyak.”

Sembiring yakin, Kompas-100 bisa dijadikan alat ukur mengikuti pergerakan saham — naik atau turun — berdasarkan populasi yang dikumpulkan. Dalam hal ini, investor bisa menilai sendiri investasinya sudah baik ataukah belum. ”Investasi saham dikatakan baik bila sejajar atau di atas kinerja indeks. Kalau hasilnya di bawah indeks, berarti investasinya kurang baik,” katanya memaparkan.

Di mata Presdir PT Trimegah Securities, Avi Yasa Dwipayana, Kompas-100 bisa dijadikan panduan investasi alternatif. “IHSG kan berasal dari seluruh kelompok saham, lalu ada LQ-45 dari 45 saham. Kompas-100 ini dari 100 saham, sehingga akan sangat membantu sebagai indikator pergerakan saham. Jadi, masyarakat bisa melihat pergerakan 100 saham terbesar itu seperti apa,” ujar pria berpenampilan klimis ini.

Avi menilai langkah BEJ meluncurkan Kompas-100 sangat tepat lantaran posisinya berada di tengah-tengah di antara yang sudah ada (IHSG dan LQ-45). “Dengan 100 saham, jadi lebih kelihatan pergerakannya. Menurut saya, ini smart moves-lah,” demikian komentarnya.

Menanggapi peluncuran Kompas-100, Hari C.A., investor individu yang dijumpai SWA di acara Public Expose PT SAT Nusapersada, mengaku belum terlalu mencermati. “Saya baru melihatnya sekilas saja. Saya masih pakai LQ-45 sebagai acuan,” ujar profesional teknologi informasi yang bekerja di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu. Meski demikian, Hari yang biasa bermain saham sendiri melalui PT Sari Jaya Sekuritas mengakui, Kompas-100 bisa menjadi panduan investasinya. “Selama ini saya lihat saham blue chips hanya ada di LQ-45. Dengan begini, saya ada pilihan lain. Mungkin Kompas-100 lebih bagus sebagai panduan saya,” tutur pria yang mengaku bermain saham senilai Rp 10 juta/hari itu.

Firdanianty/Eddy Dwinanto Iskandar

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag