Pelabuhan Baru Adi J. Rusli

Pelabuhan Baru Adi J. Rusli

Pria kelahiran Pekalongan 1967 itu resmi menjabat sebagai Country Manager EMC2 Indonesia sejak Juni 2009. Bersamaan dengan itu, Adi pun membuka lembaran baru dalam perjalanan kariernya, setelah berbagai catatan positif telah dibuatnya selama 14 tahun berkarier di Oracle.

Ayah dua putra ini mengatakan, tidak mudah baginya mengambil keputusan meninggalkan Oracle. Pasalnya, ia telanjur cinta pada perusahaan yang bermarkas di California tersebut. “Sulit, tetapi keputusan harus diambil,” katanya.

Adi mengawali kariernya di Oracle tahun 1995 dengan menduduki posisi Support Manager. Kariernya terus menanjak. Seiring dengan itu, ia mulai bisa memetakan persaingan di industri ini. Tak hanya itu, ia pun mulai merumuskan solusi pengembangan Oracle. “Setelah menempati posisi managing director, saya melakukan lompatan,” ujarnya.

Ketika awal memimpin Oracle Indonesia, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa kontribusi Oracle Indonesia berada pada posisi paling bontot dibanding Oracle Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura. “Posisi total business revenue-nya paling bawah,” katanya mengenang.

Kenyataan itu justru melecutnya. Pelan tetapi pasti, kinerja Oracle terus tumbuh, bahkan mencapai dua digit. “Kalau dirata-rata, pertumbuhan per tahun mencapai 50%-60%,” kata Adi bangga. Keberhasilan itu merupakan buah dari kepiawaiannya merombak total Oracle. Ia mengubah persepsi masyarakat terhadap Oracle, dari persepsi bahwa Oracle hanya bermain di database, menjadi penyedia information management, application dan middle ware. “Jadi, persepsi Oracle sebagai database company sudah hilang,” katanya. Di tangannya, Oracle berhasil menjadi penyumbang terbesar di ASEAN.

Kepiawaian Adi dalam membenahi Oracle juga diakui Hari Surjanto, Presdir PT Computrade Technology International, salah satu distributor Oracle. Diakuinya, di bawah kepemimpinan Adi, kinerja Oracle naik secara drastis. “Sejak krisis (regional) yang lalu sampai sekarang itu mampu tumbuh ratusan persen,” ujarnya memuji. Keberhasilan ini, menurutnya, merupakan buah dari kebijakan Adi dalam mengubah organisasi di Oracle. “Setiap lini organisasi dibenahi,” katanya.

Berbagai keberhasilan itu bukan lantas membuat alumni Teknik Elektro Universitas Diponegoro ini betah berlama-lama di Oracle. Adi masih melihat banyak tantangan menarik di Oracle. “Tantangan di Oracle selalu ada meski bentuknya beda. Apalagi, Oracle banyak melakukan merger dan akuisisi,” ujarnya. Namun menurutnya, seorang pemimpin harus bisa melihat waktu yang tepat untuk pergi. “Saya meninggalkan legacy positif. Ketika pergi, perusahaan sedang ada di posisi puncak.”

Lantas, mengapa harus EMC2? “Saya juga heran, karena sepanjang karier saya tidak pernah bersentuhan langsung dengan storage,” katanya. Dia mengatakan, proses kepindahannya ke EMC2 memang cukup unik. EMC2 sudah melakukan pendekatan sejak akhir 2008. Dia masih bingung. Karena menurut pandangannya, EMC2 tidak lebih sebagai storage company.

Akan tetapi, akhirnya ia mengetahui bahwa EMC2 tidaklah sesederhana itu. EMC2 merupakan penyedia solusi untuk infrastruktur informasi yang bukan hanya storage, hardware dan box. Cara penjualannya pun sudah berbeda. Alih-alih cuma menjual memory, storage dan hardisk, sekarang malah menawarkan solusi. Yang mencengangkan Adi, EMC2 menempati urutan keenam bila ditinjau dari pendapatan dari penjualan software. EMC2 berada di bawah Microsoft, Oracle, SAP, IBM dan Simantech. Terlebih, strategi akuisisi EMC2 juga lumayan bagus. “Memang, bila dilihat, strategi akuisisi Oracle terbilang bagus. Tetapi ternyata EMC2 sudah melakukan itu sejak 2003 dengan mengakuisisi 45 perusahaan,” katanya menjelaskan.

Di EMC2, Adi sudah merancang serangkaian strategi. 100 hari pertama ia akan memfokuskan diri untuk membangun fondasi bisnis EMC2. Dalam empat minggu pertama dia banyak meluangkan waktu untuk bertemu dengan mitra bisnis, pelanggan dan internal untuk mendiagnosis denyut jantung di EMC2. Maksudnya, adakah permasalahan di tingkat internal, mitra bisnis atau pelanggan. Di sini Adi akan melakukan assessment dan pada saat yang bersamaan dia juga melihat infrastruktur atau kendaraan apa yang bisa digunakan untuk menumbuhkembangkan EMC2. “Infrastruktur bisa berupa alokasi resources yang dibutuhkan. Apakah orang-orang yang sekarang ada sudah mencukupi, atau harus membangun sebuah kompetensi baru untuk menemukan competitive advantage dengan kompetitor,” ujarnya.

Adi juga menelisik pasar yang dimiliki EMC2. “EMC2 masih punya banyak ruang untuk diisi dengan branding, main share dan awareness,” katanya mengistilahkan kurangnya brand awareness EMC2. Seharusnya, menurut dia, EMC2 mempunyai pendekatan yang terstruktur. Yakni, melakukan segmentasi pasar dengan benar. Apakah ingin menargetkan sebagai perusahaan yang fokus pada key account, enterprise account, atau ingin penetrasi lebih jauh ke middle market. “Tiga segmen ini yang akan dibidik,” ia meyakinkan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag