Rudy Suardana,
Penguasa Jaringan Dealership Suzuki
Di Kal-Tim, pebisnis senior ini cukup populer dan disegani. Namanya identik dengan produk otomotif Suzuki. Maklum, kelahiran Banjarmasin, 13 Mei 1938, ini menjadi penguasa jaringan dealer Suzuki di Kal-Tim, baik sepeda motor maupun mobil. Di bawah bendera PT Samekar Indo Indah, kini Rudy memiliki 25 gerai dealer sepeda motor dan empat gerai mobil di seluruh Kal-Tim. Puncak penjualannya terjadi pada 2007: dalam sebulan ia mampu menjual 3.000 unit sepeda motor dan 120 unit mobil. Kini semua angkot di Balikpapan menggunakan Suzuki. Salah satu terobosan Rudy dalam mendongkrak penjualan adalah memperkenalkan sistem kredit kepemilikan sepeda motor kepada para guru dan pegawai negeri.
Kini, selain bisnis otomotif, peraih Upakarti 1993 ini juga mulai merambah bisnis properti, antara lain dengan membangun Sudirman Square serta beberapa kompleks perhotelan, pergudangan dan pertokoan.
H.M. Fauzi A. Bahtar,
Pengusaha HPH Lokal yang Ekspansif
Di bawah komando H.M. Fauzi A. Bahtar, bisnis perkayuan yang dirintis sang ayah kian moncer. Perusahaannya, PT Triwira Astra Brata, merupakan satu-satunya perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) lokal yang masih bertahan, dengan menguasai 51 ribu hektare hutan di kawasan Kutai Baru. Triwira pun kini telah merambah berbagai bidang usaha.
Selain HPH, kelahiran Long Iram, 30 Juni 1967, ini juga memiliki bisnis perkebunan sawit seluas 13 ribu ha dan usaha penambangan batu bara plus coal terminal-nya di Lohdua. Bisnis properti dimasukinya pada 1998, dengan membangun antara lain Perumahan Korpri Samarinda, Cahaya Mutiara Indah dan Bhumi Prestasi Kencana. Bidang pendidikan pun tak luput dari bidikannya. Bekerja sama dengan Universitas Mulawarman, pemilik beragam tipe motor gede ini mendirikan STIMIK Samarinda. Di luar itu, kini di bawah Grup ABC – di dalamnya bergabung PT Asta Bharata Cendana, PT Adha Bina Citra, PT Tunas Satria Muda, Triwira, dsb. — Fauzi menggarap industri bisnis penggergajian kayu, penyewaan alat berat hingga tambak ikan bandeng (dengan luas lahan tambak di Semboja 30 ha, di Bambu Laut 40 ha, dan di Muara Pantun 10 ha).
J. Sudiyanto,
Pengembang Perumahan Kelas Atas
Nama J. Sudiyanto di Kal-Tim lekat dengan perumahan mewah. Tak mengherankan, karena ia memang membangun beberapa perumahan mewah. Antara lain, Proyek Pesona Mahakam (lewat PT Daxa Kalimantan Putra) di kawasan Pengembangan Samarinda Seberang, yang dibangun di atas lahan seluas 250 ha, dengan harga jual Rp 500 juta-3,5 miliar/unit. Ada pula Grand Taman Sari (bekerja sama dengan Wika Realty) dan Pesona Bukit Sinto di Bontang. Dan, yang juga patut disebut adalah Proyek Rumah Kebun yang baru dikembangkan awal tahun ini di atas lahan seluas 43 ha, dengan harga jual Rp 1,5-3 miliar/unit.
Bisnis properti mulai diterjuni lulusan Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini pada 1992, dengan mendirikan PT Lamin Megah Raya. Proyek perdananya adalah Perumahan Citra Griya, yang dibangun di atas lahan seluas 6 ha. Bisnis properti Sudiyanto kian bersinar setelah bermitra dengan Grup Daxa sejak 1996.
Darmansyah,
Tamatan SMP yang Jadi Raja Kapal
Bosan menjadi tukang las di perusahaan perkapalan milik orang lain, Darmansyah nekat mengembangkan usaha sendiri dengan modal seadanya. Pada 1993, ia membeli perusahaan perdagangan PD Muji Rahayu senilai Rp 4,5 juta, yang kemudian diubahnya menjadi CV yang bergerak sebagai subkontraktor pembuatan kapal. Proyek perdananya diperoleh pada 1994 sebagai subkontraktor pembuatan tug boat senilai Rp 700 juta.
Pada 2000, bapak tiga anak kelahiran Samarinda, 16 Maret 1963, yang hanya mampu sekolah hingga kelas 2 SMA ini mendirikan PT Muji Rahayu Shipyard (MRS). Didukung dana pinjaman bank senilai Rp 3,3 miliar, ia membangun empat unit kapal tug boat dan landing craft tank (LCT). Dua unit LCT dibeli Pemda Banyuwangi senilai Rp 15 miliar, satu unit tug boat terjual Rp 800 juta dan satu lagi dipakai sendiri. Selama 2000-04, Darmansyah yang dibantu 500 karyawan rata-rata mampu memproduksi 20 unit kapal per tahun. Selain untuk memasok kebutuhan di dalam negeri, kapal yang diproduksi MRS diekspor ke Singapura, Malaysia dan negara-negara Timur Tengah. Kini, omsetnya diperkirakan di atas Rp 200 miliar/tahun. Anak usahanya pun beranak pinak, antara lain merambah bisnis batu bara. (*)