Home » Updates » Perkasa Kala yang Lain Terkulai

Perkasa Kala yang Lain Terkulai

Sejumlah produk garmen seperti jaket olah raga, celana training, T-shirt, dan celana sport pendek dari beragam merek terkenal (seperti Nike, Reebok, Adidas, dan Vanity Fair) tampak tergantung di sebuah etalase di kantor PT Pancaprima Ekabrother. Namun tunggu dulu, ini bukan barang dagangan, melainkan sampel produk buatan Pancaprima. Ya, Pancaprima memang menjadi semacam “tukang jahit” bagi para pemilik merek beken itu. Banyaknya merek dan ragam produk menunjukkan cukup banyaknya pihak yang memercayakan pembuatan produknya pada Pancaprima.

Keberhasilan Pancaprima mengarungi bisnis garmen yang secara umum sedang dalam masa sulit itu memang terbilang istimewa. Pasalnya, banyak pemain di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mengeluhkan pelbagai kesulitan yang mereka hadapi, mulai dari persaingan bisnis yang kian ketat, tingginya biaya produksi, dan rendahnya daya beli konsumen. Tak heran, hingga saat ini sudah cukup banyak perusahaan di industri TPT yang sekarat, bahkan gulung tikar.

Dalam kondisi seperti itu, Pancaprima memang menjadi semacam sebuah anomali. Perusahaan ini justru kian ekspansif. Kepercayaan kreditor salah satu buktinya. Bulan lalu, Citibank mengucurkan dana sebesar US$ 15 juta untuk mendukung belanja modal produsen garmen ini. Dalam periode 2007-2012, Pancaprima memang menganggarkan belanja modal hingga US$ 30 juta untuk meningkatkan kemampuan produksinya. Khusus untuk 2007, belanja modalnya sudah ditentukan sekitar US$ 9 juta.

Peningkatan produksi dilakukan Pancaprima untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan internasional yang terus meningkat. “Secara bertahap, kami akan meningkatkan produksi sekitar 30% per tahun,” ujar Ludijanto Setidjo, Vice Chief Executive Officer Pancaprima. Menurutnya, hal itu dilakukan perusahaannya karena pihak buyer menargetkan peningkatan penjualan 20%-25% per tahun. Selain itu, ada tren makin membesarnya kebutuhan alih daya (outsourcing) pembuatan produk garmen. “Dua tahun yang lalu ada buyer kami yang memiliki 12 pabrik, tapi sekarang tinggal dua pabrik,” ungkapnya.

Ludijanto menyebutkan, selama ini merenovasi ataupun menambah mesin tanpa menggunakan pinjaman dari bank, melainkan mengambil dana dari keuntungan penjualan. “Sebelumnya kami ekspansi dengan modal sendiri,” kata putra Bambang Setidjo, pemegang saham terbesar PT Pan Brothers ini. Akan tetapi, dengan adanya tren ini, Pancaprima memutuskan hendak meminjam ke bank. Ekspansi ini sendiri diperkirakan bakal menyerap lima ribu tenaga kerja baru.

Kredit berjangka lima tahun dari Citibank tadi, dijelaskan Ludijanto, bakal digunakan untuk kebutuhan renovasi pabrik di Tangerang, dan membangun satu pabrik lagi di Boyolali, Jawa Tengah, yang pembangunannya dimulai pada 2008. “Kami berharap dapat meningkatkan produksi garmen sebesar 150% dalam waktu lima tahun ke depan,” ujar pria kelahiran Surabaya, 22 November 1970 ini. Sebagai gambaran, pabrik baru di Boyolali berada di atas lahan seluas 12 hektare. Di atas lahan itu rencananya didirikan dua workshop yang berisi 8 gedung dengan total mesin mencapai 10 ribu unit. “Selama ini kami sering terpaksa menolak order dari mereka. Nah, dengan peningkatan kapasitas produksi, kami berharap tak perlu lagi seperti itu,” katanya.

Ludijanto memproyeksikan pada 2012 penjualan perusahaannya bisa mencapai Rp 2,2 triliun. Tahun 2006, penjualan Pancaprima mencapai Rp 851 miliar. Dalam perhitungannya, dengan target penjualan customer yang terus meningkat, maka permintaan mereka ke Pancaprima pun akan terus meningkat. “Jadi, ini logika yang wajar saja,” ujar Ludijanto yang lulusan Nakano School of Business, Jepang.

Kahar Anwar, Commercial Relation Banking Head Citibank, mengungkapkan bahwa kucuran kredit sebesar US$ 15 juta buat Pancaprima merupakan kredit investasi terbesar yang pernah diberikan Citibank kepada perusahaan garmen pascakrisis. Ia menjelaskan, Citibank bersedia memberikan pinjaman kepada Pancaprima tak lain karena perusahaan ini dinilai memiliki kinerja yang bagus. Selama 10 tahun terakhir (1997-2007), Kahar menuturkan, Pancaprima mengalami peningkatan penjualan hingga empat kali lipat. Selain itu ia melihat Pancaprima memiliki komitmen yang tinggi terhadap kualitas produk. Hal ini tampak dari kecanggihan mesin-mesin yang mereka gunakan. “Dan yang terpenting, selama ini customer yang menjadi rekanan bisnis Pancaprima merupakan buyer yang punya nama internasional,” kata Kahar. Ia melihat tak mudah memiliki rekanan bisnis yang punya nama internasional, dan bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Kahar mengakui tak ada jaminan dari pihak buyer (pemilik merek) bahwa mereka akan meningkatkan order ke Pancaprima sampai lima tahun ke depan. Namun melihat kredibilitas dan kinerja Pancaprima, hal itu sudah cukup bisa meyakinkan Citibank untuk mengucurkan kredit investasi tersebut. Hal ini tampaknya sejalan dengan ucapan Ludijanto. “Kami hanya menyediakan ladangnya. Jika kami bekerja dengan baik, orang akan datang juga,” Ludijanto berujar sambil menjelaskan bahwa buyer yang dilayani Pancaprima adalah perusahaan yang memiliki kebutuhan amat besar. Itulah sebabnya manajemen Pancaprima optimistis dengan langkah ekspansinya.

Perlu diketahui, Pancaprima yang merupakan anak usaha dari PT Pan Brothers Tbk. ini adalah perusahaan tekstil yang memproduksi jaket, travel pant, cargo pant, dan garmen. Seluruh produksinya ditujukan untuk pasar ekspor antara lain Amerika Serikat dan Eropa. Sementara bahan baku untuk garmen, 70%-80% masih diimpor dari Taiwan, Hong Kong dan Korea.

Pancaprima 100% berperan sebagai pemasok bagi perusahaan pemegang merek global. Para pemilik merek global yang kini menjadi pelanggan Pancaprima, yaitu: Nike, Adidas, Bonfire Snowboarding Inc., Berghaus, VF Asia, dan Amer Sport Sourcing Ltd. Dari portofolio bisnis seperti itu, sekitar 90% produk buatan Pancaprima merupakan pesanan Nike dan Adidas. “Kami merupakan pemasok utama pakaian merek Nike, Adidas, North Face, dan Champion,” kata Ludijanto. Ikatan kerja sama antara Pancaprima dengan para buyer-nya telah berlangsung sejak 1994. Dan sampai saat ini Pancaprima tak meluncurkan produk garmen dengan merek sendiri.

Keberhasilan Pancaprima, disebutkan Ludijanto, tidak datang begitu saja. Ada sejumlah jurus yang dilakukannya agar prinsipal terus memercayainya. Pertama, perusahaan mengganti mesin lama dengan mesin baru setiap periode lima tahun. Ludijanto mengklaim, perusahaannya sangat peduli dengan masalah renovasi dan teknologi mesin.

Untuk itu, Pancaprima berusaha membeli mesin-mesin yang memiliki teknologi lebih maju. Contohnya, saat ini Pancaprima merupakan satu-satunya perusahaan tekstil yang memiliki duck down filling machine di Indonesia. Keistimewaan mesin ini karena mampu menempatkan bulu angsa secara otomatis ke dalam jaket. Pancaprima juga memiliki welding bonding machine, yaitu mesin yang mampu menghubungkan dua komponen dengan cara menempel, untuk menghasilkan produk yang antibocor, karena tanpa jahitan sama sekali. “ Itu juga merupakan salah satu kunci keberhasilan Pancaprima. Karena kami mengerjakan sesuatu yang tak bisa dikerjakan orang lain,” ujar Ludijanto. Maka, ia mengaku tak heran, order-order yang “sulit” semacam itu lari ke perusahaannya.

Ludijanto sendiri mengaku kerap mengikuti pameran mesin tekstil di luar negeri. Dalam setahun tak kurang dari empat pameran mesin yang diikutinya. “Mesin yang bagus tak hanya untuk memudahkan, tapi juga membuat kualitas produk lebih baik,” ia menerangkan. Baginya, bicara efisiensi adalah relatif, sebab biaya produksi terutama gaji karyawan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu cara untuk mengantisipasi hal ini adalah menjaga kualitas, yang terkait erat dengan teknologi mesin yang bagus. “Kami tak mungkin memangkas kualitas karena biaya produksi yang tinggi. Itu akan berakibat fatal,” kata Ludijanto menegaskan komitmennya.

Mulai September 2007, Pancaprima siap mengoperasikan automatic warehouse system. Ini merupakan sistem pergudangan yang dioperasikan dengan teknologi tinggi. “Di dalamnya hanya dua orang yang bekerja. Sebab, semuanya computerized,” ujarnya. Untuk penyediaan sistem ini Pancaprima mengucurkan dana US$ 1,2 juta.

Jurus kedua adalah menyiapkan SDM yang berkualitas. Ludijanto meyakinkan bahwa output dari garmen sangat tergantung pula pada kualitas SDM yang dimiliki. Jika perusahaan ingin kualitas produk meningkat, tak ada pilihan lain, perusahaan harus meningkatkan kualitas SDM-nya. “Jika ada satu pekerjaan dilakukan dua orang, berikutnya cukup dilakukan satu orang saja,” ujarnya. Ini juga merupakan terobosan yang dilakukan Pancaprima guna menyiasati biaya produksi yang meningkat. “Kami percaya, bagi industri tekstil, SDM dan pendidikan merupakan sesuatu yang vital. Jika hal ini berjalan dengan baik dan berkesinambungan, industri ini never die,” tutur Ludijanto.

Melihat pentingnya SDM di bidang ini, Pancaprima berinisiatif mendirikan sekolah di bidang garmen di Solo pada 2006. Sekolah yang baru beroperasi 6 bulan ini bisa dibilang training centre bagi karyawan Pancaprima level manajer ke bawah. Pelatihan untuk karyawan Pancaprima biasanya berlangsung selama dua bulan dan sifatnya sangat teknis. Mereka yang telah dididik siap ditempatkan di pabrik; sedangkan bagi karyawan lama, perusahaan memberikan pelatihan penyegaran dua kali dalam setahun di sekolah yang sama.

Sekolah ini sengaja berlokasi di Solo karena terkait dengan lokasi pabrik Pancaprima yang baru di Boyolali. Jarak antara Solo dan Boyolali terhitung dekat. “Sekitar 20 ribu orang yang nantinya bekerja di Boyolali,” ujarnya.

Untuk membangun sekolah ini perusahaan mengucurkan dana sekitar Rp 4 miliar. “Hal ini kami lakukan karena kami percaya bahwa karyawan merupakan aset perusahaan, dan pendidikan adalah sesuatu yang vital,” Ludijanto berucap. Ia menambahkan, sebelumnya perusahaan melakukan pula pelatihan kepada karyawan, tapi tanpa lembaga dan fasilitas khusus.

Selain itu, sebagai kepedulian terhadap peningkatan mutu SDM-nya, Pancaprima tak segan-segan memanggil konsultan asing untuk melatih para karyawan. Contohnya, baru-baru ini mereka memanggil dua konsultan tekstil/garmen dari Hong Kong untuk kebutuhan pelatihan karyawan Pancaprima. Sekadar diketahui, saat ini total karyawan Pancaprima mencapai 7 ribu oranng.

Jurus ketiga adalah memberikan pelayanan terbaik. Ludijanto menjamin, pihaknya akan standby dalam 24 jam untuk memberi servis yang terbaik buat para pelanggannya.

Di mata pengamat bisnis Jahja Soenarjo, target-target yang dipatok Pancaprima masih terhitung wajar. “Yang penting jangan terlalu ekspansif supaya tak ada HASI (pemasok sepatu Nike yang diputus kontraknya oleh pihak prinsipal, Nike Inc. – Red.) kedua,” tutur Jahja mengingatkan. Ia mencermati persaingan di bisnis ini terbilang amat ketat, karena pesaingnya bukan kelas lokal lagi, melainkan global terutama dari Cina. Di sisi lain, ia melihat menjadi pemasok merek asing tidaklah mudah. Pasalnya, pihak buyer atau prinsipal terkenal sangat ketat dan keras menerapkan standar kontrol kualitas.

Lantas, apalagi rencana Pancaprima ke depan? Menurut Ludijanto, pihaknya hendak melakukan sejumlah ekspansi baru. “Namun ini sebenarnya masih rahasia, karena semuanya tergantung pada pemerintah juga,” ujarnya seraya menjelaskan, pihaknya berketetapan bahwa ekspansi di Indonesia sudah cukup di Boyolali. Selanjutnya akan berekspansi ke luar negeri. Contohnya, Pancaprima sudah punya rencana akan beroperasi di Kamboja. Ekspansi ini ada kaitannya dengan program ekspansi Grup Pan Brothers.

Be Sociable, Share!
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


six + = 9