Home » Updates » Pilar Teknologi Pendukung Bisnis XL

Pilar Teknologi Pendukung Bisnis XL

“Dalam 6 tahun ke depan, XL harus menjadi operator terbesar kedua di Indonesia,” ungkap Yusof Annuar Yaacob, CEO TM International, dalam suatu kesempatan wawancara eksklusif dengan SWA seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) di Hotel Sheraton Bandara Jakarta, 5 September 2005. Untuk merealisasi targetnya itu kucuran dana besar dilakukan untuk pembenahan dan pengembangan infrastruktur. “Itu kan keinginan pemegang saham, yang lebih melihat hasil akhir. Bagi saya target menjadi nomor dua bukanlah tujuan utama. Itu hanya target sampingan. Target utama saya adalah memberi layanan terbaik bagi pelanggan,” ujar Hasnul Suhaimi, orang yang diusung TM International untuk menakhodai XL.

Guna memberi layanan terbaik kepada pelanggannya, Hasnul telah mencanangkan suatu konsep kerja yang disebutnya Minute Factory. Melalui konsepnya itu Hasnul berkeinginan menjadikan XL seolah-olah pabrik yang bisa menghasilkan produk berkualitas dengan harga terjangkau dan dalam jumlah besar. “Prinsip Minute Factory ini adalah high volume, high quality, tapi low price. Itu saja,” Hasnul menegaskan. Diyakininya, untuk mewujudkan Minute Factory itu diperlukan dukungan sistem teknologi informasi (TI) yang andal. “Kami memiliki perhatian tinggi terhadap teknologi. Tapi, investasi dan belanjanya disesuaikan dengan kebutuhan,” ia menandaskan. Disebutkan Hasnul, XL mengalokasikan dana untuk investasi dan belanja TI sebesar 10% dari total capital expenditure (capex). Tahun ini capex XL sebesar US$ 650 juta.

Lantas, seperti apa sistem TI yang dikembangkan di XL? Efri Gunawan, GM Sistem Informasi XL, menjelaskan, pada dasarnya bisnis XL ditopang oleh empat sistem yang menjadi pilar utama, yakni: sistem billing, back office, operating support, dan sistem untuk menopang kegiatan operasional karyawan sehari-hari. “Jadi, dari sudut pandang TI, bisnis XL dibangun dengan empat pilar utama itu,” kata Efri menggarisbawahi.

Sistem billing disebut yang pertama kali karena inilah sistem yang mengatur transaksi (telepon) dan perhitungan pembayaran di perusahaan telekomunikasi. Ibaratnya, urat nadi perusahaan yang bergerak di industri ini. Efri menerangkan, pada awalnya untuk pembayaran XL menggunakan sistem tradisional bernama BSIS, yang hanya bisa menangani pelanggan pascabayar. Maklum, ketika itu GSM belum mengenal layanan prabayar. Namun seiring perkembangan teknologi, dengan diimplementasikannya Intelligent Network (dari Siemens) tahun 1998, XL pun mulai menyediakan layanan prabayar. Jadi, ketika itu, XL mengenal dua sistem pembayaran, yakni BSIS untuk pascabayar dan Intelligent Network untuk prabayar. Begitu pula, seiring dengan kemajuan teknologi billing, sejak 2002 XL menggunakan Convergent Billing (CB) yang menggabungkan fungsi dua sistem tadi.

CB hanya memiliki satu rating engine. Menurut Efri inilah yang membedakan XL dibanding operator lain, yang umumnya menggunakan sistem distribusi. Sistem CB ini bisa mendukung setiap program pemasaran, baik untuk pascabayar maupun prabayar. “Jadi keuntungan yang kami dapat dari sistem CB ini adalah kecepatan project delivery ke pasar,” ujar Efri. Ia mengakui, yang mendorong penggantian sistem billing menjadi CB adalah divisi pemasaran, bukan TI. Sebab, orientasinya memang bisnis, bukan teknologi. “Di XL, teknologi berfungsi sebagai supporting tool untuk men-deliver apa yang diinginkan divisi pemasaran,” ujarnya.

Sistem CB yang dipakai XL menggunakan teknologi Amdocs dari Amerika Serikat. Di Indonesia, lanjut Efri, hanya XL yang menerapkan CB dengan teknologi Amdocs. Teknologi itu memiliki kemampuan perhitungan aktivitas menelepon – seperti pulsa yang dihabiskan, lama melakukan panggilan, dan sebagainya – dari seorang pengguna (user) hingga dalam hitungan detik. Nah, yang mengirim sinyal dari pengguna ke sistem billing adalah Intelligent Network. Dengan mengembangkan sistem CB, Efri mengklaim, XL bisa menjadi operator yang pertama kali memperkenalkan program pemasaran Rp 1 per detik. “Untuk menghitung Rp 1 per detik ini tidak gampang. Bisa dibayangkan, transaksi dari Intelligent Network ke CB per detik sangat cepat,” kata Efri.

Di XL, rata-rata trafik transaksi sebanyak 20-22 transaksi per pelanggan per hari. Trafik itu akan semakin meningkat jika harga pulsa semakin murah. Kalau sudah begitu, pastinya dibutuhkan sistem billing yang punya kapasitas lebih besar lagi. Saat ini, Efri mengklaim, kapasitas sistem billing Amdocs yang dipakai XL mampu menangani hingga 25 transaksi per pelanggan per hari.

Pilar kedua, yakni sistem back office, XL memakai teknologi ERP dari SAP. Sistem ini digunakan untuk menopang semua proses bisnis di XL. Sejauh ini XL sudah menggunakan solusi dari vendor asal Jerman itu untuk sejumlah proses di area penting, seperti area strategi, enterprise support, manajemen SDM, manajemen rantai pasokan, manajemen daur ulang produk, manajemen kontak, akuisisi pelanggan, pembelian barang, perhitungan keuangan, hingga pengelolaan gaji pegawai. Solusi itu juga sudah menyediakan modul customer relationship management (CRM). Semuanya sudah terintegrasi. Diklaim Efri, di lingkungan industri telekomunikasi se-Asia, implementasi ERP oleh XL ini merupakan yang paling lengkap dibandingkan dengan perusahaan lain. Saat ini, solusi itu juga tengah dijajaki untuk bisa membantu unit layanan korporat XL, yaitu Divisi Solusi Bisnis, agar dapat mengintegrasikan penggunaan aplikasi yang selama ini masih terpisah-pisah. Di unit itu pula hendak dilakukan ekspansi CRM untuk melayani pelanggan korporat.

Pilar ketiga untuk menopang proses bisnis di XL adalah operating support system (OSS). Fungsi utamanya adalah sebagai sistem manajemen jaringan. OSS inilah yang memonitor jaringan selama 24 jam. Menurut Efri, untuk OSS ini banyak vendor yang memasok, terutama Siemens, Ericsson dan Alcatel. Masing-masing menawarkan OSS sendiri. Begitu pula untuk transmisi, banyak vendor yang terlibat. Namun, itu semua digabungkan menjadi satu sistem monitoring, yaitu Post Management System.

Saat ini, disebutkan Efri, XL sudah memiliki jaringan infrastruktur yang berbasis protokol Internet (IP-based), dengan teknologi Multiprotocol Label Switching. Pada 2006, IP backbone XL sudah tersedia di 19 kota. Targetnya, tahun ini bisa ditingkatkan menjadi 50 kota. Jaringan utama serat optik XL berada di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Lombok, yang dibangun sejak 1996. Jaringan ini kemudian dihubungkan dengan kabel bawah laut di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara untuk jaringan internasional sudah tersambung hingga Singapura dan Malaysia, melalui proyek Batam-Rengit Cable System (BRCS).

Menurut Efri, beroperasinya jaringan kabel bawah laut BRCS ini sekaligus menjadikan XL sebagai operator seluler dengan jaringan backbone terpanjang di Indonesia. Sistem transmisi kabel bawah laut BRCS yang menelan investasi sebesar US$ 10 juta ini terdiri atas 48 serat inti, dengan kapasitas awal 1 STM-64 (setara dengan 10 Gbps). Kapasitas ini dapat ditingkatkan menjadi 24 STM-64 dengan menggunakan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing, yaitu teknologi terbaru serat optik yang memungkinkan kapasitas transmisi untuk satu serat inti ditingkatkan dengan biaya upgrade yang rendah. Selain itu, dibandingkan dengan transmisi satelit, sistem transmisi BRCS memiliki waktu tunda (delay) sangat rendah. Dengan begitu, BRCS memiliki keunggulan dalam hal kapasitas, kecepatan dan waktu tunda. “Dengan dukungan infrastruktur jaringan yang hebat itu, XL sudah siap untuk memasuki era protokol Internet penuh, yaitu adanya konvergensi layanan voice, data, video dan broadcasting,” papar Efri bangga.

Pilar keempat adalah sistem teknologi yang melayani keperluan operasional karyawan sehari-hari. Antara lain, kegiatan korespondensi (e-mail), membuat laporan, dan kegiatan administratif lainnya. Di sini XL banyak menggunakan sistem (aplikasi) dari Microsoft. Belakangan, XL juga tengah menjajaki (melakukan uji coba) solusi komunikasi dari perusahaan software terkemuka itu, yakni Unified Communication (UC) – di samping melakukan uji coba yang sama terhadap produk dari Cisco dan Avaya. Dijelaskan Efri, UC pada dasarnya adalah solusi IP telephony. Melalui UC ini perangkat PC bisa digunakan sebagai alat untuk melakukan video call, video conference, dan sebagainya. Rencananya, UC siap diimplementasikan XL di akhir tahun ini.

Perlu diketahui, untuk membangun semua sistem TI-nya ini, XL tak mengharamkan penggunaan teknologi dari berbagai vendor. Lihat saja. Untuk sistem operasional, perusahaan yang menginduk ke TM asal Malaysia ini menggunakan Solaris dari Sun Microsystems, dan Windows dari Microsoft. Sementara untuk database menggunakan Oracle (untuk bisnis) dan SQLServer (hanya untuk kepentingan internal yang kecil-kecil). Memang, sistem open source seperti Linux hanya digunakan untuk aplikasi tertentu yang jumlahnya sangat kecil, masih di bawah 1% dari total jumlah server. “Jadi, pengembangan TI melalui keempat pilar itu ditujukan untuk mendukung bisnis XL,” tutur Efri.

Secara keseluruhan, bisnis XL mengalami pertumbuhan signifikan. Jika pada 2004 jumlah pelanggan masih 3,8 juta, tahun berikutnya meningkat menjadi 7 juta. Lalu, pada 2006 menjadi 9,6 juta, dan hingga Desember 2007 jumlahnya mencapai 15,5 juta. Tahun 2007, kinerja XL cukup menggembirakan, dengan mencatat kenaikan gross revenue net of discount sebesar 38% menjadi Rp 8 triliun, dan kenaikan EBITDA sebesar 37% menjadi Rp 3,5 triliun. Padahal, kompetisinya semakin ketat. “Jika konsep Minute Factory dijalankan dengan baik, yakni bisa high volume, high quality, tapi low price, saya yakin XL bisa menjadi pemenang,” kata Hasnul tandas.

Menyikapi ambisi XL tersebut, pengamat telekomunikasi Anjar Priandoyo menilainya wajar dan semestinya bisa dilakukan. Memang, untuk pasar konsumer cukup berat, tetapi untuk pasar korporat sangat menjanjikan. “Secara umum, XL bisa melakukannya. XL punya potensi yang besar dalam hal infrastruktur TI untuk mengembangkan jaringan telekomunikasi yang berkualitas,” ucap Anjar.

Untuk mencapai maksudnya tersebut, Anjar menyarankan agar lebih dulu dibangun komitmen yang kuat dari internal XL dalam setiap strategi ekspansinya. Ini terkait dengan sering bergantinya manajemen XL, yang tentunya berpengaruh terhadap strategi kebijakan TI. Contohnya, sistem billing yang merupakan salah satu aplikasi paling penting dalam arsitektur TI perusahaan telekomunikasi. XL, diakui Anjar, memiliki sistem CB yang lebih baik dibandingkan dengan operator lain. Namun, ia mengingatkan, sistem billing yang mahal ini bisa mubazir kinerjanya bila server pendukungnya tidak optimal. Ia menyarankan XL untuk mengadopsi framework konsolidasi infrastruktur TI, seperti enhanced telecommunication operation map. Satu hal yang juga diingatkannya, segala strategi pemanfaatan TI itu harus difokuskan untuk meningkatkan kualitas layanan, yang ujung-ujungnya adalah meningkatkan kepuasan pelanggan.

BOKS:

Tentang XL dan Kiprahnya

· XL beroperasi secara komersial sejak 8 Oktober 1996. Saat ini, bisnisnya mencakup Solusi Konsumer (sebagai penyedia jaringan seluler dual band melalui kartu prabayar Jimat, Jempol, Bebas, dan pascabayar Xplor); serta Solusi Bisnis (sebagai penyedia layanan solusi korporat berbasis sirkuit sewa/leased line, broadband dan protokol Internet).

· Jumlah pelanggan 15,5 juta (Desember 2007). Pada 2007, XL telah membelanjakan Rp 7,1 triliun dari capex untuk perluasan jangkauan dan peningkatan kapasitas, dengan membangun 3.897 BTS (termasuk 394 Node B).

· Jumlah BTS (termasuk Node B) pada 2007 mencapai 11.157. Sementara itu, pada 2005, panjang kabel optik bawah laut mencapai 2.316,36 km; sedangkan kabel yang ditanam mencapai 5.525,34 km (2006).

· Hingga akhir 2007, XL telah menjangkau sekitar 90% kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Tahun 2008, XL akan mulai menjangkau Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua. Memiliki 400 ribu direct & indirect channel distribusi; 110 ribu gerai XL Kita; dan 238 XL Center.

Be Sociable, Share!
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


+ four = 8