Ramai-ramai Ber-Open House, Asyik Juga
Selepas Lebaran tahun lalu, Siti Hardijanti Rukmana, putri pertama mantan Presiden Soeharto, mengadakan open house. Sedemikian open house-nya, wartawan pun bebas keluar-masuk, tanpa acara protokoler yang berarti. Lihatlah, wartawan infotainment pun dengan leluasa mewawancarainya. Pemandangan yang sangat tabu di saat ayahnya masih berkuasa. ?Ya, untuk silaturahmilah,? kata Mbak Tutut enteng.
Tutut cuma salah satu contoh. Para pejabat, selebriti, juga pengusaha, belakangan memang kian gemar ber-open house ria. Selain gaya, konon banyak juga manfaatnya. Seperti Tutut, Adri Subono juga lebih setuju kalau disebut acara silahturahmi. ?Agama saya juga mengajarkan begitu,? ujar bos Java Musikindo ini. Kalangan yang diundang Adri pun beragam. Bukan hanya orang musik, tapi juga pebisnis, entertainer, bahkan pejabat. Adri mengatakan, mereka umumnya hanya kumpul-kumpul dan mengobrol santai di rumahnya.
?Orang bilang saya ini tuan rumah yang baik karena suka men-service orang,? ujarnya bangga. Ia menganggap, dalam hidup bermasyarakat, budaya silahturahmi sangatlah penting. Kemasannya bisa macam-macam, bisa ulang tahun, selamatan, syukuran, dan lain sebagainya. Sebaliknya, ia pun senang mendatangi acara open house yang diadakan teman ataupun pejabat. Bagi Adri, ia merasa berutang pada setiap orang yang pernah diundang dan mau datang ke acara yang diadakannya. Artinya, ia wajib datang jika mereka mengundangnya. Dengan cara begitu, ia merasa lebih dekat dengan orang yang diundangnya dan yang mengundangnya.
Di mata Sudhamek, orang nomor satu di Grup Garudafood, open house memungkinkan terciptanya suasana yang lebih santai dan manusiawi. Kalau di kantor, suasana yang terbangun biasanya cenderung formal dan kaku, misalnya hubungan antara atasan dan bawahan, hubungan dengan relasi maupun kolega bisnis. ?Padahal, hubungan manusia itu sangat multidimensi,? katanya. Keadaan seperti ini, sambungnya, bisa dicairkan lewat acara open house.
Selain memecahkan kekakuan, open house juga mempersempit gap yang muncul akibat lingkungan yang sangat formal. Kesenjangan itu bisa dijembatani dengan membangun komunikasi yang intens dengan seluruh anggota organisasi. ?Saya rasa itu bagian penting untuk membangun kredibilitas, sehingga kita bisa memimpin organisasi dengan lebih baik,? katanya. Organisasi pun mendapatkan dampak positif, misalnya kerja sama tim makin kuat, komunikasi makin lancar dan karyawan saling mengerti. Ini diamini oleh Muliawati, karyawan yang sudah empat tahun bekerja di Garudafood. ?Kami bisa ngobrol santai tanpa batas, seperti yang kami alami pada perayaan Tahun Baru Imlek lalu, yang kami rayakan di rumah Bapak (maksudnya Sudhamek -? Red.),? katanya.
Saat open house, karyawan juga membawa pasangan dan anak-anaknya. Dengan demikian, terciptalah iklim yang hangat. Perusahaan bukan hanya sebagai tempat bekerja dan mencari nafkah, tapi juga menjadi komunitas. ?Kami menyebutnya Gaty, yang artinya Garudafood Community,? kata Sudhamek. Dengan adanya komunitas ini, kehidupan di Garudafood bukan semata-mata hubungan antara pekerja dan pemilik, tapi juga hubungan antarkeluarga. Sudhamek yakin, sukses seseorang tidak terlepas dari kualitas kehidupan pribadinya.
?Pakaian pun tidak boleh formal, santailah, acaranya bincang bebas, makan bersama dan lepas dari berbicara masalah pekerjaan serta bergosip,? katanya. Ia tidak ingin kala melakukan open house, pasangan atau keluarga yang ikut serta pada acara itu merasa bosan. Acara pertunjukan pun sebisa mungkin dihindari, sehingga suasana yang tercipta hanya mengobrol dan kehangatan hubungan antarkaryawan. Tidak ada dekorasi khusus. Ia ingin rumahnya terlihat apa adanya. ?Suasananya sealami mungkin,? imbuhnya. Maka, ia tak menggunakan konsultan pesta. Namun, suguhan sangat diperhatikan dan harus bisa dinikmati seluruh tamu yang hadir. Jangan hanya satu menu, sehingga sekelompok orang tidak bisa menikmatinya karena tidak menyukai menu tersebut.
Open house yang digelar Adri juga bertujuan agar anak buah dan relasinya tidak canggung bertandang ke rumahnya. ?Mereka soalnya suka bilang, ah sungkan, ada satpamnya sih,? ujarnya sambil tersenyum. Pria berambut gondrong yang 11 Januari lalu menginjak usia setengah abad ini justru merasa tidak enak jika relasi atau anak buahnya merasa sungkan bertandang ke rumahnya saat ia tidak mengadakan acara khusus.
Rumahnya yang besar, dengan luas tanah 1.500 m2, memungkinkan Adri mengundang ratusan orang. Waktu acara ulang tahun ke-50 yang dirayakan bersama dengan ulang tahun istrinya pada 25 Januari lalu, misalnya, ia mengundang sekitar 600 orang ke rumahnya. ?Sambil peluncuran buku saya yang berjudul WOW!,? tambahnya. Adri tidak pernah membedakan acara open house khusus untuk relasi atau karyawannya. Sebab, dalam setiap acara di rumahnya, anak buahnya turut sibuk membantu jalannya acara.
Sedemikian enjoy-nya, Adri menangani sendiri konsep open house, mulai dari desain undangan, susunan menu hingga dekorasi rumahnya. ?Planning itu penting karena saya kan mau men-service orang,? katanya. Setelah itu, barulah anak buahnya dengan sukarela membantu pelaksanaannya. Istri dan anak-anaknya menyerahkan semua itu pada Adri.
Adri selalu mengambil waktu akhir pekan untuk acaranya. ?Pondok Indah kan terkenal macet di hari kerja,? ujarnya. Dan, tidak seperti open house yang dilakukan pejabat, ia tidak mau membatasi diri dengan acara protokoler. Ia juga tidak mencanangkan dress code tertentu. Kolam renang di rumahnya menjadi tempat favorit Adri menjamu tamu-tamunya. ?Saya dekor kolam renang dengan lilin-lilin, juga diberi sentuhan suara jangkrik supaya romantis,? tuturnya. Dengan suasana yang dibuat seperti itu, ia berharap para tamu betah di rumahnya.
Sejak dulu, setiap mengadakan acara di rumah, ia memercayakan hidangan pada William Wongso. ?Ia tahu betul apa yang saya mau,? katanya. Adri tidak pernah menargetkan anggaran dan seberapa sering mengadakan open house. Dulu, tiap mengadakan konser, diadakan open house. Sementara acara dinner di rumah dengan mengundang 50 tamu, sering dilakukan bersama teman dan relasinya. ?Teman-teman saya juga yang usul acara itu diadakan, mereka tahu sih saya tuan rumah yang baik,? katanya sambil tertawa.
Bagi Sudhamek, yang aktif di berbagai kegiatan bisnis, sosial dan keagamaan, acara open house dibuat beragam. ?Saya lakukan open house sesuai dengan komunitas yang kami undang,? tuturnya. Adapun open house untuk anak buahnya dilakukan per divisi setiap tiga bulan. Bahkan, bukan hanya dirinya yang aktif melakukan open house, antardivisi dalam perusahaan pun melakukannya dengan bawahannya masing-masing. Uniknya, tempat open house tidak melulu di rumah atasan, tetapi juga di rumah anak buah, bergantian.
Th. Wiryawan, Direktur Pemasaran Citibank, mengatakan bahwa di Citibank, istilah open house bukan hal baru. ?Salah satu strategi Citibank bukan hanya memberikan kepuasan kepada pelanggan, tapi juga kepada karyawan,? katanya. Menurut dia, open house memiliki arti sangat luas di Citibank. Bukan saat hari raya saja. Kerangka konsep open house di Citibank adalah cara bos melayani anak buahnya. ?Open house tidak boleh dingin, harus ada tema, jiwa dan bentuk,? katanya. Misalnya, bila temanya koboi, setiap orang yang datang berpakaian seperti koboi. Acaranya pun harus bersifat fun dan jauh dari kesan formal.
Open house bisa dikemas dalam berbagai bentuk. Misalnya, acara untuk mengucapkan terima kasih kepada karyawan yang berprestasi, buka bersama, halalbihalal, Natalan, serta ulang tahun bagi anak buah yang lahir di bulan yang sama. Di Citibank pun tiap unit atau departemen terbiasa mengadakan open house. Dan, acaranya tidak selalu di rumah bos, tapi bisa juga di rumah karyawan, bergiliran.
?Acaranya bisa makan di rumah saya atau di restoran,? kata Wiryawan. Seperti Sudhamek, dalam acara open house diharamkan berbicara tentang pekerjaan dan menggosip. Mereka boleh membawa pasangan masing-masing (suami atau istri, bahkan pacar). Dengan begitu, pasangan bisa tahu betul dengan siapa orang yang mereka cintai bekerja. ?Dengan saling mengenal, tidak timbul curiga atau khawatir,? tuturnya.
Namun, buat Citibank, open house bukanlah acara bertemu dengan relasi. ?Susah mengumpulkan dan mengajak mereka ke rumah. Waktu mereka kan juga sempit, biasanya acaranya makan siang bersama,? tuturnya. Wiryawan juga tidak pernah menggunakan konsultan khusus. ?Saya rancang sendiri bersama anak buah,? katanya.
Suguhan diadakan bersama, masing-masing anak buah membawa berbagai makanan untuk menunjang acara itu. ?Saya juga menyediakan, tapi kalau mereka mau bawa sendiri, tambah meriah,? tuturnya. Open house, ia menambahkan, lebih merupakan acara ?dari kita untuk kita?, sehingga istri dan anaknya pun tidak terlalu merasa direpotkan dengan acara itu.
Hal senada diungkapkan Sudhamek. Keluarganya tak merasa direpotkan oleh acara seperti itu, ?Keluarga sadar, acara ini membuat komunitas Gaty tercapai,? katanya. Bahkan, dengan semakin dekatnya hubungan atasan-bawahan, ide dan pandangan bawahan bisa disampaikan dengan lebih lancar.
Sejauh ini, Adri juga merasakan tak merasakan efek negatifnya. ?Tergantung tujuannya, kalau cuma hura-hura, pesta atau untuk ngelaba, pasti lebih banyak efek negatifnya,? katanya sambil tertawa.
Malah, Wiryawan menegaskan, survei terakhir di departemennya membuktikan bahwa kepuasan karyawannya mencapai 100%. ?Bagi saya, kepuasan karyawan bukan sekadar naik gaji, human touch jauh lebih penting,? ungkapnya. Diakuinya, acara keakraban lewat open house terkadang kurang leluasa karena dibatasi luas rumah. Maka, selain open house, ia dan anak buahnya juga rutin mengadakan outing yang melibatkan pula keluarga masing-masing. Salah satunya, acara nonton bareng.
Keke Harun, pemilik Look Entertainment, perusahaan yang biasa mendapat order mengadakan pesta atau perhelatan khusus, mengistilahkan open house sebagai house warming. ?Rumah kalau hangat kan lebih enak, yakni kalau banyak tamu yang bertandang,? tuturnya. Sedikitnya, setahun sekali klien mengadakan house warming.
Agar open house berjalan efektif dan tidak kebablasan, pertama kali harus ditentukan tujuan acaranya. Setelah itu, baru ditetapkan tamu yang akan diundang. Suasana dibuat serileks mungkin, dengan suguhan yang membuat mereka nyaman dan rileks juga. ?Mungkin perlu disediakan wine supaya rileks,? tuturnya. Yang jelas, kapan waktu diadakannya open house menentukan suasana dan hidangannya. Kalau siang hari, klien biasanya memilih outdoor, sedangkan malam hari biasanya setting-nya dinner. ?Sebelum itu, kami konsultasikan suasananya seperti apa, apakah ingin formal atau kasual,? tutur Keke.
Menurut Keke, pilihan hidangan menentukan betah-tidaknya tamu. Yang penting, jangan terkesan berlebihan. ?Makanannya tidak terlalu entertain, dekorasi juga tidak berlebihan, sehingga terjalin komunikasi antara tuan rumah dan tamu, serta ada feedback-nya,? katanya. Kalau berlebihan, esensi open house malah hilang, tidak rileks. ?Seperti datang ke pesta pernikahan saja,? katanya sambil tertawa.
Ia juga menyarankan, open house diadakan pada akhir pekan. Jangan sepulang kerja karena orang sudah lelah, sehingga tidak efektif. Selain itu, karena pesta diadakan di rumah, pasangan (suami atau istri) mesti ada dan mendampingi acara. Adapun untuk anak-anak, terutama yang masih kecil, disediakan ruang khusus untuk mereka. Di sana, mereka diberi acara sendiri agar tidak bosan menunggu selesainya acara orang tua mereka.
Soal anggaran, Keke tidak mematok harga tinggi. ?Biasanya acaranya rileks dengan tamu tidak banyak, anggarannya berkisar Rp 20-30 juta, tidak ada patokannya, sih,? katanya. Yang pasti, hidangan jangan sampai kurang. Air putih sekalipun. ?Malu dong tuan rumah kalau hidangannya habis, padahal tamu masih banyak,? katanya.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.