Jika Anda ingin menjadi entrepreneur di bidang  information and communication technology –selanjutntya disebut Digitalpreneur, alangkah baiknya memperhatikan tips yang diberikan oleh Fajar Asikin. Fajar sudah terbukti sukses merintis dan membesarkan perusahaan software bernama PT Digital Sistem Semesta (DSS). Dan salah satu produk unggulan DSS adalah SiPAMOR, sistem pembayaran pajak kendaraan bermotor yang hanya butuh waktu 5 menit untuk mengurusnya.
Fajar mengungkapkan, untuk memulai usaha Digitalpreneur harus menetapkan segmen yang akan dibidik terlebih dahulu. Sebab, dunia ICT itu memiliki cakupan yang sangat luas. Beda segmen berarti beda strategi masuknya. â€Kebutuhannya juga berbeda, kebutuhan di bisnis distribusi dengan bisnis manufaktur jelas berbeda. Saya memilih public sector,†ujar Direktur Pengelola DSS, itu. Ia mengaku, sengaja membidik pasar Surabaya karena belum banyak pemain yang terjun di bisnis ini. Selain itu, banyak pemain di Jakarta yang belum membidik layanan publik.
Untuk produk andalan DSS, Fajar menjagokan SiPAMOR. Ia mengklaim, kelebihan SiPAMOR terletak pada sistem yang end to end, karena sejak awal hingga akhir sistemya dikerjakan penuh oleh SiPAMOR. Biasanya, aplikasi lain hanya bagian per bagian saja dalam membuat sistem, akibatnya jika beda bagian, terjadi perbedaan aplikasi. Dengan SiPAMOR, kantor-kanto Samsat yang selama ini menjadi klien DSSÂ bisa menerapkan sistem yang terintegrasi.
Agar pelayanan publik lebih transparan, Fajar mengaku akan terus mendekati pemerintah pusat supaya mendorong pemerintah daerah dalam menerapkan kebijakan publik itu. SiPAMOR adalah salah satu usaha tersebut. â€Kami masuk ke level policy maker karena sistem hampir sama tapi bisa berbeda-beda penerapannya di daerah,†katanya.
DSS juga akan melibatkan perbankan dalam membantu mengembangkan perusahaannya. Sebab, diakuinya tidak mudah mengembangkan perusahaan dengan cepat tanpa bantuan dari bank. Hanya saja bisnis ICT ini termasuk baru di Indonesia sehingga diperlukan usaha yang lebih giat agar bisa meyakinkan bank.
Bagi Fajar, seorang Digitalpreneur harus membaca kondisi pasar terlebih dahulu. Setelah itu baru memperhatikan perkembangan teknologinya. Ia berpendapat, aplikasi atau sistem canggih dengan teknologi terbaru hanya akan sia-sia jika tidak bisa melihat peluang pasar. Sebab, pasar itu sangat luas dan memiliki kebutuhan teknologi yang berbeda satu dengan yang lainnya. â€Kalau berangkat dari teknologi, belum tentu teknologi itu yang dibutuhkan,†ia menambahkan.
Kepada Digitalpreneur, Fajar menyarankan beberapa hal agar lebih sukes. Pertama, seorang Digitalpreneur harus memperhatikan aset yang dimilikinya. Juga, team knowledge-nya. Kedua, Digitalprenuer harus membidik pasar dan fokus menggarapnya. Jadi, seorang Digitalpreneur harus memperhitungkan semua itu agar investasi dari segi dana, waktu, dan tim bisa dikelola dengan optimal. (EVA)
