Selamat Datang, Media-media Baru

Selamat Datang, Media-media Baru

Menurut Manajer Pengembangan SDM Harian Neraca Gita Stevanie, koran ekonomi ini akan terbit dengan format dan wajah baru. Neraca, menurut pengakuan Gita, telah mendapatkan investor baru tapi dia tak bersedia menyebutkan. Beberapa sumber menyebut-nyebut nama Grup Djarum. Namun, menurut Poer, salah seorang wartawan senior Neraca, investor lama tak ingin Neraca jatuh ke tangan Djarum.

Berbeda dari Neraca yang masih dirahasiakan investornya, JRP secara kasat mata diambil alih B. Iwan Kohar. Majalah bulanan yang sempat terbit tiga edisi di tahun 1995 itu, di tangan Iwan, segmentasinya diperluas. Majalah ini tidak lagi hanya membidik para alumni dan siswa sekolah kepribadian John Robert Powers, tapi juga kalangan profesional dan eksekutif lain perusahaan. Meski mengakui bahwa media bukanlah bidang yang ditekuninya selama ini, Iwan merasa tak ragu memasuki bidang baru itu.

Sementara itu, Thomas Hutasoit menuturkan, Majalah Port yang dikelolanya mengulas hal-hal seputar pelabuhan dan bea cukai — lahan yang tak pernah dijamah pemain lain. Untuk menerbitkan Port, Thomas memakai kendaraan PT Rambu Media Lintas Indonesia. “Saya ingin mencari uang,” jawabnya setengah bercanda saat ditanya alasannya masuk bisnis media cetak. “Ini adalah celah pasar. Maklum di lingkungan bea cukai, lebih khusus pelabuhan, belum ada satu pun majalah yang menggarapnya. Padahal informasi dan pertukaran uang di wilayah itu demikian tinggi. 90 persen komoditas yang ada di pasaran melalui pelabuhan (bea cukai),” papar Thomas.

Ide pendirian Port, sambung Thomas, datang darinya. Dan untuk mewujudkan ide itu, dia menggandeng beberapa teman wartawan untuk bergabung. Jika ditotal dengan beberapa staf di bagian administrasi, jumlah kru Port mencapai 30 orang. “Investor yang saya gandeng adalah pedagang biasa dan bukan pengusaha besar alias konglomerat,” ungkap Thomas seraya menambahkan bahwa ia telah mempersiapkan Port sejak awal 2005, tapi baru bulan Juli ia bertemu investor yang cocok, yaitu pengusaha asal Medan.

Dunia media tidaklah asing buat Thomas. Dia sudah mengenalnya selama 20 tahun, mulai dari Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan terakhir Suara Bangsa. Itu sebabnya, dia optimistis bisa sukses di situ. Itu pula yang memudahkannya merekrut wartawan untuk bergabung. Thomas menolak menyebut besaran dana yang dipertaruhkan dalam bisnis medianya yang berkantor di Apartemen Robinson, Jakarta Utara itu. “Setiap bulan Port terbit 30 ribu eksemplar dan sejak diluncurkan Desember 2005 mendapat sambutan pasar yang bagus,” tuturnya. Soal distribusinya, dia tidak khawatir sebab di lingkungan bea cukai saja ada 50 ribu pengusaha.

Dari edisi perdana itu Thomas mengaku mendapat pengalaman cukup berarti. Paling tidak, Port telah berhasil memasuki dunia bea cukai yang kata orang sangat sensitif. “Wartawan kami mengalami kesulitan dalam mengonfirmasi berita. Mereka pun nampaknya sedikit terancam. Maklum, tema yang diangkat agak keras dan membuat merah kuping sebagian pejabat,” katanya sambil tertawa. “Sebenarnya kami tidak menampilkan Port sebagai musuh bea cukai, tapi sebagai partner yang kritis,” tambah Thomas.

Soal balik modal, Thomas tak mau muluk-muluk pasang target ketat. Dia lebih senang menyerahkannya pada tim pemasaran dan iklan yang solid dan berpengalaman. Dia tak bersedia membeberkan siapa saja anggota tim andalannya itu. Dalam kesehariannya, menurut Thomas, mereka dilibatkan pula dalam rapat penentuan isi dan tema yang akan diusung. Hal itu dilakukan agar wartawan dan divisi lainnya memiliki spirit yang sama dalam memajukan Port ke depan.

Meski telah digarap banyak pemain, bagi Leily Arisy dunia anak tetap menarik dan potensial. Zeplin, yang terbit bulanan sejak Juni 2005 kini telah memasuki edisi ke-8. Menurut Adhe Nur Ayati, Pemimpin Redaksi Zeplin, ia dan rekan-rekannya tertarik menerbitkan Zeplin karena cinta pada anak-anak. Bersama-sama mereka menerbitkan Zeplin di bawah payung PT Dima Communcation. Adhe sendiri, di samping kenyang pengalaman wartawan, sudah menerbitkan sekitar 50 judul buku tentang anak-anak.

Adhe yakin, konsep Zeplin berbeda dari semua majalah anak-anak yang ada. Setiap edisi Zeplin cuma menampilkan satu tema. Misalnya, saat mengangkat masalah komputer maka seluruh 44 halaman itu diisi dengan segala sesuatu tentang komputer mulai pengenalan keyboard, RAM, monitor, sampai pernik-perniknya. Begitu pula manakala menampilkan tema film, dan sebagainya.

Kendati Zeplin hanya didukung 20 karyawan, Adhe cukup puas dengan sambutan pasar. Dari 8 edisi yang sudah dipasarkan (30 ribu eksemplar per edisi), returnya tidak terlalu banyak. Yang dibidik semua segmen anak. Namun, dari 8 edisi yang telah dipasarkan, yang paling banyak menyerap Zeplin yang dibanderol Rp 10 ribu/eksemplar ternyata segmen kelas A dan B. Zeplin paling banyak diserap pasar Jabotabek dan kota-kota di Jawa.

Adhe dan timnya nampaknya siap betul bertempur di segmen yang dipilihnya itu. Ini terlihat dari strategi pemasaran yang diterapkannya. Pihaknya tak segan melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah melalui lokakarya (workshop). Pesertanya bebas, asal membeli Majalah Zeplin sebagai “tiketnya”. Dalam lokakarya itu peserta diajar cara mengarang, membuat ilustrasi, tanya-jawab, dan lain-lain. Strategi itu, menurut Adhe, cukup efektif. Dia menolak menyebut berapa majalah yang terserap lewat jalur itu. Yang jelas, lanjutnya, sudah ada beberapa sekolah yang berminat menjadi pelanggan tetap Zeplin.

Adhe mengakui tidaklah mudah memasarkan Zeplin yang merupakan pendatang baru. Apalagi menangkap pemasang iklan. Namun, setelah 8 edisi, Zeplin telah menangkap dua-tiga pemasang iklan per edisi. Toh, diakui Adhe, yang dicapainya memang belum seberapa. Ke depan, Adhe akan terus memperbaiki konten Zeplin dengan cara melakukan pengkajian. Dari situ, dia yakin akan dapat menangkap keinginan pasar. Adhe bercita-cita menjadikan Zeplin sebagai majalah pilihan anak-anak Indonesia.

Menurut pengamat media Veven S.P., kehadiran pemain baru di bisnis media merupakan hal biasa saja, mereka umumnya melihat peluang. “Bila para pendatang baru itu tidak belajar dari pemain lama yang tumbang, bukan tidak mungkin mereka juga mengalami nasib serupa,” kata Veven mewanti-wanti.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag