Seni Tertawa

Seni Tertawa

Unsur humoris dapat dirunut dari kata humor yang dalam bahasa Latin berarti cairan. Ilmu kedokteran Yunani kuno mengidentifikasi empat jenis cairan dalam tubuh manusia, yaitu: darah, lendir, empedu kuning dan empedu hitam. Orang yang kelebihan salah satu cairan (humor) disebut humoris, dan ia menjadi objek tertawaan orang lain. Tertawa dianggap dapat mengurangi bahkan menyembuhkan kelebihan cairan tersebut. Sejak abad ke-18, pemahaman itu sudah ditinggalkan. Kini, humoris berarti orang yang terampil mengungkapkan humor, baik secara tertulis (Oscar Wilde, George Bernard Shaw, Mark Twain), lisan (Charlie Chaplin), maupun dengan gerak tubuh tanpa kata-kata (Rowan Atkinson alias Mr. Bean).

Di sebuah pertemuan sosial, rapat, temu kangen tak jarang disajikan bahan untuk memancing tawa. Dan agar khalayak pendengar dan pencerita bisa menikmati humor yang disajikan, tentulah diperlukan seseorang untuk “dikorbankan”. Yang terjadi bukan berbagi tawa secara santun, melainkan beramai-ramai menertawakan orang lain yang dijadikan korban dan bulan-bulanan lelucon itu.

Siapa yang biasanya dijadikan korban humor? Umumnya, seseorang yang memiliki kelebihan positif atau negatif tertentu.

@@@@@@@@@@

Istilah “korban” memang kait-mengait dengan berhaha-hihi. Ada beberapa tip untuk keluar dengan aman dari pesta tawa liar tersebut. Ambil sikap positif, proaktif, tetapi jangan defensif. Saya pernah dijadikan korban lelucon yang tidak nyaman. Saya ikut tertawa ringan, lalu menjawab, “Saya bangga berada di tengah-tengah kaum yang mengaku masih usia muda ini. Justru berada di antara kaum muda, saya kok tidak merasa awet tua.” Jawaban itu pun melahirkan geeerrr berkepanjangan. Rela dijadikan korban lelucon, sejatinya merupakan sikap seseorang yang memahami dengan arif seni tertawa.

Yang perlu Anda ingat, jangan bersikap defensif. Makin defensif, makin garang para anggota kelompok menertawakan Anda. Yang sangat kurang terpuji adalah menundukkan kepala dengan wajah cenberut menahan emosi. Dan yang paling merugikan Anda bilamana meninggalkan mereka yang sedang berpesta tawa. Dalam situasi yang tidak nyaman ini, sebaiknya Anda menerima dengan rela hati. Tertawa itu sehat dan perlu. Jadilah insan yang turut berperan sedikit menyehatkan jiwa orang lain.

Olah seni berbagi tawa tanpa mengundang hadirin menertawakan orang lain memang menuntut sikap nan arif. Bersedia menertawakan diri sendiri merupakan wajah kearifan dan kedewasaan. Yang penting berbagi tawa untuk dinikmati bersama. Dan yang lebih penting, menikmati kebenaran ungkapan kuno ini: Umor longa, vita brevis. Humor dan tawa sehat itu hidup sepanjang masa, sedangkan hidup itu sendiri hanya berlalu sekejap.

@@@@@@@@@@@

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag