Siapa yang Menjemput?
Alam nyata tak mampu memisahkan kita Bagiku, engkau masih hidup di kalbuku Petuahmu, jalan hidupmu dan teladanmu tak akan pernah sirna dari ingatanku
Bukan harta yang kauminta Bukan kedudukan yang kautanyakan Bukan ketenaran yang kaukagumi Tapi Adakah kebenaran mendasari kehidupan anak-anakmu
Papa, selamat jalan Kutuliskan petuahmu di loh hatiku Sebagai pedoman kehidupan yang tak akan kulupakan Sampai kita bertemu lagi.
Puisi itu adalah sebagian puisi yang kutulis untuk mengenang Papa yang baru saja dipanggil pulang Bapa di Surga. Dua bulan menemaninya bergumul dengan penyakit yang paling ditakuti manusia. Kanker stadium empat yang sudah menjalar sampai ke otak. Ia tidak pernah mengeluh kesakitan. Itu sebabnya, kami sempat syok tatkala dokter di Singapura menjatuhkan vonis itu. “Tinggal dua bulan lagi,†kata sang dokter tanpa bermaksud menakuti.
Dua bulan aku belajar memainkan peran sebagai pemimpin di sebuah perusahaan publik dan pemimpin di organisasi terkecil, yakni keluarga inti. Dua peran itu ternyata sulit dimainkan dengan sempurna. Apalagi kalau peran yang satu berhubungan dengan life and death. Antara karier dan keluarga memang ada titik temu, tapi pada saat tertentu ternyata titik temu itu hampir tak mungkin beradu.
Namun, itulah fakta. Aku harus terus berjalan dengan dua peran dan dua persoalan yang tidak mudah dicarikan formula prioritasnya. Tanpa teori, akhirnya pada saat tertentu, sekuat apa pun manusia, setinggi apa pun tanggung jawab seorang pemimpin, ia harus menyerah pada suatu tuntutan di luar akal. Tuntutan hati dan kewajiban sebagai anak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kewajiban kepada pemegang saham. Aku memilih memberi prioritas untuk papaku.
Keputusan demi keputusan aku lakukan dalam bilangan jam dan menit. Ternyata, memimpin rapat dan membuat keputusan pada perusahaan yang beromset triliunan lebih mudah dibandingkan dengan memutuskan “ya†atau “tidak†pada tawaran dokter buat papaku. Keputusan harus cepat diambil dengan dua konsekuensi utama, tetap hidup atau mati. Seluruh ilmu dan pengalaman dicurahkan untuk berani mengambil keputusan dan berani pula menerima risikonya. Ternyata, ilmu di sekolah dan perusahaan terasa amat dangkal tatkala berhadapan dengan kata yang paling ditakuti semua orang: maut.
Ketika semua usaha sudah diupayakan. Semua upaya sudah diusahakan. Tuhan jualah yang tahu kapan manusia harus berpulang kehadirat-Nya. Setelah dua bulan berjuang, ia dipanggil pulang dengan tenang.
Pagi itu upacara pemakaman buat papa tercinta dilakukan. â€ÂYang terpenting, bukan banyaknya bunga ucapan duka cita yang kita lihat hari ini — 192 buah — atau siapa dan banyaknya orang yang mengantar ke pekuburan, tapi siapa dan banyaknya yang menjemput,†begitu kalimat pertama pendeta pemimpin acara yang membuatku terbelalak. â€ÂBooomâ€Â. Bagai kilat menyambar di tengah hari yang cerah itu.
Siapa yang menjemput? Ah, kenapa ini tak pernah kupikirkan. Kenapa bukan itu yang kupikirkan selalu? Kenapa terlalu sibuk memikirkan kinerja tubuh? Kenapa sibuk memajang plakat dan penghargaan fana yang menyenangkan jiwa yang tak akan kubawa tatkala aku menemui Penciptaku? Lalu, bagaimana dengan kinerja spiritualku? Siapa yang menjemput? Kata-kata ini mengiang terus di telinga.
Mata hatiku kembali terbuka, teringat kata bijak yang sangat aku sukai. Man is a spirit, he has a soul and resides in a body. Artinya, aku memiliki bagian yang kekal dan tak kenal dengan kata it is finished. Tubuh akan semakin renta dan akhirnya kembali ke asalnya. Debu kembali menjadi debu. Jiwaku lari entah kemana. Namun, rohku akan kembali ke Penciptanya. Ia yang mencipta, Ia yang berhak menerima kembali ciptaan-Nya.
Ternyata, hidup ini bukan sekadar kerja. Kerja ini bukanlah sekadar untuk hidup. Bagaimana agar kerja ini menghasilkan hidup dan kehidupan yang sempurna. Bukan hanya ketika penilaian kinerja itu datang dari shareholders yang memberi bonus besar sebagai balasannya. Akan tetapi, juga dari soulholders yang memberi pahala yang baka.
Ketika lonceng kematian itu berdentang, tak ada yang mampu menahannya. Semua amal kebaikan berhenti. Tak ada yang menolong di alam sana. Kita berdiri sendiri dan mempertanggungjawabkan semua perilaku kita, termasuk tatkala kita jadi pemimpin di dunia ini. Beruntunglah kalau kita dikenal oleh Sang Hakim yang adil itu. Dikenal dan dikatakan, “Syabaslah engkau hai hambaku yang baik.†Kalau tidak, berarti itu kegagalan total. Seluruh kinerja dan plakat di dunia tak ada gunanya. Buat apa memiliki isi seluruh dunia kalau roh kita binasa? Siapkah kita?
Sidang pembaca SWA.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.