Kondisi persaingan ini pun menjadi alasan rencana dilepasnya 55% saham PT Alfa Retailindo Tbk. (AR) kepada PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (Ramayana), perusahaan yang didirikan Paulus Tumewu. Saat dikonfirmasi, Djoko Susanto, Preskom AR, membenarkan hal tersebut. Hanya saja, hingga saat ini belum terjadi transaksi pembelian, masih dalam proses. “Baru dalam tahap penandatanganan kesepakatan bahwa mereka (Ramayana) akan membeli 55% saham AR. Masih ada tahap due diligence dan confidenciality agreement,†tutur pendiri AR ini. Perlu dijelaskan, yang akan dilepas adalah saham AR yang mengembangkan Alfa Gudang Rabat, tidak termasuk Alfa Minimarket (Alfamart) di bawah PT Sumber Alfaria Trijaya, sister company AR.
Lalu, kenapa Ramayana yang dipilih? Menurutnya, karena Ramayana punya uang cash yang kuat dan mereka datang meminang AR. Namun, ia belum bersedia menjelaskan lebih jauh soal akuisisi ini. “Kami masih saling mengalkulasi,†imbuh Djoko tanpa mau menjelaskan lebih lanjut. “Ini baru MoU ya, bahwa kami akan jual saham Alfa Retailindo ke Ramayana. Tapi proses ini butuh waktu,†ia menandaskan.
Diakui Djoko, rencana ini membuat karyawannya merasa resah. Makanya, peritel nasional ini berupaya untuk memercayai calon pembeli AR, agar kelak akuisisi ini tak berimbas buruk bagi kurang-lebih 5 ribu karyawannya. Djoko pun mafhum bila para karyawannya khawatir, sehingga perlu dicari jalan tengah supaya karyawan tetap dijunjung tinggi hak-haknya.
Sebenarnya, saham AR yang ditawarkan ke Ramayana tak hanya 55%, melainkan 95%. Tak ada keterangan yang jelas kenapa hanya 55% yang diminati Ramayana. Saat ini, 55% saham AR itu 55% dimiliki PT Sigmantara Alfindo dan 40% milik Prime Horizon Pte. Ltd. Sementara total saham AR di lantai bursa mencapai 468 juta lembar. Dari jumlah itu, rencananya Ramayana membeli 257,4 juta saham dengan harga Rp 1.600 per saham atau senilai Rp 411,84 miliar. “AR memang mengajukan penawaran ke bursa untuk menjual mayoritas sahamnya, dan ternyata Ramayana yang merespons,†ujar Norico Gaman, analis saham BNI Securities.
Setyadi Surya, Direktur Sekretaris Korporat Ramayana, menambahkan, dengan membeli 55% saham AR diharapkan ada sinergi yang bisa disatukan antara kedua perusahaan itu. “Kami akan memajukan AR juga, tanpa harus mengubah bentuk lamanya. Kelebihan yang dimiliki AR akan kami ambil, dan disatukan dengan kelebihan yang kami miliki,†ungkapnya. Setyadi menambahkan, “Ramayana membeli saham AR karena ada penawaran kepada kami. Kami melihat ada keinginan dari pemegang saham AR untuk melepas sahamnya.â€Â
Kendati belum rampung, banyak yang menyambut baik rencana sinergi dua peritel jagoan ini. Sugianto Wibawa, Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, berkomentar bahwa sinergi tersebut sangatlah bagus untuk bargaining power, baik bagi Ramayana maupun AR, agar tetap eksis di industri ini. “Mudah-mudahan ada sinergi di antara keduanya,†tambah Sugianto.
Lalu, apa rencananya setelah AR diakuisisi Ramayana? “Semuanya masih dalam perundingan,†cetus Djoko. Namun, ia sempat menjelaskan, dengan didapatnya dana dari hasil penjualan saham itu, ia akan membuat format toko modern medium yang baru, yakni Alfa Medium Market (Alfa Midi) dengan luas gerai 200-500 m2. Konsepnya lebih besar dari minimarket dan lebih kecil dari supermarket. Tentu saja, investasi yang dibenamkan relatif lebih kecil – dibanding untuk membangun supermarket, yang diperlukan Rp 20 miliar per gerai. Menurutnya, satu gerai Alfa Midi dibutuhkan dana Rp 500 juta-1 miliar. Djoko menargetkan dalam waktu satu tahun dapat membangun 50-100 gerai. Saat ini, Djoko baru membangun dua gerai Alfa Midi.
Dan, berdasarkan MoU per 29 Juni 2007 tersebut, jika pembelian 55% saham AR tidak dapat diselesaikan oleh pihak Ramayana, gerai pasar swalayan Orange Mart milik Ramayana yang berkonsep medium market akan diambil alih PT Sigmantara Alfindo.
Boleh jadi, akuisisi ini merupakan upaya AR untuk menekan kerugian. Pasalnya, belakangan ini AR terlihat sangat tertekan dengan adanya persaingan hypermarket yang sangat ketat, sehingga Alfa Supermarket cabang Cikokol dan Puri Indah harus ditutup.
Dede Suryadi dan Siti Ruslina.
