Solusi Perempuan di Antara Dua Pilihan

Solusi Perempuan di Antara Dua Pilihan

Anita Roddick, pendiri The Body Shop, memang sudah tiada, tapi semangatnya tetap menginspirasi setiap perempuan di seluruh dunia. Dari sebuah garasi, Anita mengembangkan produk yang memiliki nilai tambah untuk kelestarian lingkungan dan binatang. Dinamai The Body Shop, ia juga memperkenalkan konsep tanggung jawab sosial (social responsibility) dan tanggung jawab moral dalam bisnis. Bahkan, konsep corporate social responsibility yang diperkenalkannya itu kini berkembang menjadi cirikhas yang membedakan The Body Shop dari produk kosmetik lain.

Dari sisi keperempuanannya, Anita tetap seorang ibu rumah tangga yang hingga akhir hayatnya hidup tenang bersama Gordon, sang suami, dan kedua putrinya. Kedekatan hubungan antar-anggota keluarga ini tercermin dari cara mereka mengelola dan membangun bisnis The Body Shop. Sedari awal, Anita sudah melibatkan keluarga dalam membesarkan The Body Shop. Dan terbukti, bisnis kosmetik yang tumbuh dari usaha rumahan ini akhirnya menjelma menjadi jaringan bisnis yang melibatkan ribuan gerai di puluhan negara seluruh dunia.

Kedekatan dan hubungan unik juga ditunjukkan Anita kepada sang cucu. Bukunya Business as Unusual secara khusus ia persembahkan buat cucu-cucu tercinta: Maiya, Atticus dan O’sha. Dalam buku itu, ia berpesan kepada mereka agar terus mencintai ilmu pengetahuan seperti orang tua dan kakek-nenek mereka. Anita menyisipkan anjuran kepada ketiga cucunya agar bersedia membuka diri, berkata apa adanya, dan berpikir bebas. Bagi Anita, sikap terbuka, berpikiran positif dan tidak konfrontatif merupakan kunci pembuka menuju hidup aman dan tenteram di masa depan.

Di Indonesia, sosok seperti Anita yang sukses di bidang bisnis dan sekaligus dalam rumah tangga, menurut Novita Tandry, Direktur Tumble Tots Indonesia, sangat sulit — kalau tidak mau disebut mustahil — dicari. Pasalnya, memadukan fungsi dalam bisnis sebagai pengusaha dan rumah tangga secara optimal dan ideal tidaklah mudah. Masing-masing fungsi, baik sebagai pengusaha maupun ibu rumah tangga, membutuhkan waktu, energi, konsentrasi dan perhatian tinggi. ”Adalah mustahil jika kedua fungsi dapat berjalan bersamaan secara optimal. Pasti ada salah satu yang dikorbankan,” ujar Novita.

Novita mencontohkan, ketika anak-anak membutuhkan waktu dan perhatian ibunya, dan saat itu perusahaan juga membutuhkan kehadiran sang ibu untuk memimpin rapat. ”Mana bisa waktu untuk anak ini lalu dipinjamkan untuk urusan pekerjaan, terus diganti hari lain?” ungkap Novita. Ibu dua putra ini meyakini, masa pertumbuhan anak dan kebutuhan mereka akan perhatian tidak bisa ditunda, dialihkan, atau disubsidikan. ”Jadi, ya harus ada yang dikorbankan,” lanjutnya. Ia menyangsikan alasan quality of time yang sering diajukan para ibu.

Tentu, bukan berarti tidak ada jalan tengah untuk masalah ini. Rifda Ammarina, Direktur event organizer Performax yang juga seorang ibu rumah tangga, mengatakan, jalan tengah yang dapat ditempuh adalah memberikan prioritas. ”Tidak ada pilihan baik atau buruk pada seorang perempuan selama ia tahu prioritas mana yang dipilihnya,” ujarnya. Jika ingin memprioritaskan kepentingan keluarga (rumah tangga), urusan bisnis menjadi nomor dua. Sebaliknya, kalau ingin menomorsatukan bisnis, urusan keluarga menjadi nomor dua. Rifda menegaskan, itulah konsekuensi pilihan seorang perempuan.

Yang penting, menurut Rifda, setiap perempuan harus sadar atas pilihannya. Artinya, jangan ada perasaan terpaksa karena hasilnya tidak akan optimal. Hal senada juga disampaikan Arvan Pradiansyah, Direktur Pengelola ILM. Menurutnya, siapa pun berhak dan harus menghormati pilihan perempuan. Dan bagi perempuan sendiri, Arvan menyarankan, pilihan yang diambil harus disadari untuk mendapatkan situasi yang lebih baik daripada dulu. Maksudnya, apa pun pilihannya, harus dilakukan dengan kesadaran penuh agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Termasuk, pilihan mengambil dua peran sekaligus, sebagai pengusaha sekaligus ibu rumah tangga. ”Kalau mereka berhasil berperan ganda, layak dan harus dipuji,” kata Arvan yang mengagumi perempuan yang bisa sukses baik di karier maupun keluarga.

Eileen Rachman, Direktur Experd, konsultan sumber daya manusia, tidak menyebutkan mana yang diprioritaskan dalam hidupnya. Hanya saja, ia mengakui, tuntutan dunia usaha bagi perempuan cukup berat. Dibutuhkan kriteria-kriteria umum layaknya seorang pengusaha sukses, seperti ambisius, passioned, punya semangat kompetisi yang tinggi dan ulet. ”Tak perlu malu-malu menunjukkan karakter-karakter seperti itu, karena sikap totalitas sangat penting dalam hidup ini,” ujar master of science bidang hubungan industri & manajemen SDM dari London School of Economics, Inggris, itu.

Menurut Eileen, totalitas sebagai perempuan pengusaha itu tidak jelek, meskipun berat. Dari pengalamannya, yang dibutuhkan seorang perempuan pengusaha, pertama-tama, manajemen waktu yang luar biasa canggih Mengapa? Banyak tugas kewanitaan dan kodrat sebagai wanita yang tidak bisa dihindari. ”Sebagai entrepreneur yang juga seorang ibu di rumah, sebisa mungkin dapat membagi waktu untuk keluarganya,” Eileen menandaskan.

Yang kedua, manajemen pembagian tugas. Ketika menjalankan fungsinya di rumah, perempuan bisa berbagi tugas dengan pembantu rumah tangga dan anggota keluarga lain. Sementara itu, ketika di perusahaan, perempuan bisa berbagi tugas dengan anak buah dan koleganya. Eileen percaya, jika seorang perempuan bisa mendelegasikan tugas dengan baik dan memanfaatkan semua sumber alat bantu itu secara maksimal, hasilnya pasti akan lebih baik.

Arvan sepakat dengan pendekatan itu. Menurutnya, yang kini dicari memang bukan superwoman, melainkan superteam. Superwoman cenderung ingin melakukan segala hal dalam kendali penuhnya, baik di dalam rumah tangga maupun perusahaan. Adapun superteam lebih kepada bagaimana dapat menunjang eksistensi seorang perempuan bekerja, tapi bisa lebih menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga. “Selama ada orang lain yang bisa mengerjakan pekerjaan yang bisa kita lakukan, mestinya kita tidak perlu mengerjakannya. Karena, kita tidak bisa memberikan value added apa pun,” kata Arvan. Membangun tim super merupakan jalan tengah mengatasi pilihan sebagai perempuan pengusaha sekaligus sukses dalam keluarga. ”Daripada menganut paradigma memilih antara keluarga atau karier yang justru akan melahirkan sikap setengah-setengah alias tidak total dalam berbisnis, saya cenderung mengajak perempuan membangun superteam,” ungkapnya.

Bila seorang perempuan masih mengerjakan tugas tanpa ada pendelegasian, menurut Arvan, ia bisa disebut tipe perempuan yang masuk dalam istilah Robert T. Kiyosaki sebagai Self Employed, yaitu orang yang melakukan segala sesuatunya sendiri. “Esensi bisnis adalah Anda tidak perlu mengerjakan pekerjaan sendiri. Karena Anda bisa menyerahkan pekerjaan itu pada orang lain, maka tidak ada batas pada bisnis Anda.”

Eileen menambahkan, manajemen pembagian tugas sekaligus bisa menjadi alat ukur dukungan keluarga terhadap ibu dan sekaligus istri. Dari pengamatannya, jika mendapat dukungan dari anak-anak dan suami, perempuan pasti akan sukses. Sebaliknya, perempuan akan gagal dalam bisnisnya kalau anak dan suami tidak mendukung sepenuh hati. ”Manajemen pembagian tugas pun akan menjadi berantakan,” ujar Eileen yang biasa melibatkan anak-anak sedari mereka masih kecil. ”Saya merasa anak-anak cepat sekali bisa terlibat dalam setiap kegiatan orang tuanya,” ujarnya lagi.

Ketiga, upaya untuk terus belajar membangun komunikasi. Kemampuan komunikasi mutlak penting buat perempuan yang berada di dua dunia sekaligus. Pasalnya, dengan taraf kesibukan yang begitu ketat, kemungkinan friksi dan konflik baik di rumah maupun di kantor sangat tinggi. Jika dalam situasi emosional tersebut tidak bisa berkomunikasi dengan baik, bahaya! Dalam hal ini, dibutuhkan kecerdasan emosional yang tinggi agar setiap masalah terselesaikan dengan baik. ”Harus diakui, wanita lebih emosional. Namun, bukan alasan untuk kemudian dimaklumi kalau terus meledak-ledak.”

Pengalaman Mien R. Uno, Presdir Kampus Duta Bangsa yang sukses membangun bisnis sekaligus keluarga, kurang-lebih sama dengan Eileen. Ia juga menyadari dirinya berada di lingkungan yang cenderung menganut paham patriarkat, di mana posisi perempuan di belakang suami. Itu sebabnya, ketika memulai karier di luar rumah tahun 1973, Mien tidak serta-merta supersibuk. Ia perlahan-lahan memberi pengertian kepada kedua putranya, Sandiaga Uno dan Indra Uno, bahwa ia bekerja di luar rumah untuk kebahagiaan keluarga dan masa depan mereka. ”Jadi, bukan untuk kemauan dan kesenangan sendiri,” katanya tandas. Mien mengaku ikut mencari uang agar anak-anak bersekolah di tempat yang berkualitas.

Sejauh ini ia tak pernah memaksakan anak-anak atau suaminya melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya sebagai istri ataupun ibu. Kendati demikian, dua hal penting yang ia terapkan kepada keluarga: kedisplinan dan komitmen. “Kedisiplinan itu sangat memengaruhi seluruh tatanan apa pun yang kita kerjakan. Sedangkan komitmen itu sangat menentukan sukses seseorang,” ujar Mien. Menurutnya, komitmen memiliki nilai yang luar biasa tinggi. ”Dengan komitmen, kita menjadi sangat bertanggung jawab.”

Sebagai perempuan, komitmen bisa diterjemahkan satu kata dengan perbuatan. “Landasan komitmen itu adalah kepercayaan yang akan pupus bila kita melanggarnya,” kata Mien yang terlihat masih energik. Seperti yang dilakukannya selama ini: berusaha mempertahankan kepercayaan keluarga untuk bekerja di luar rumah dengan selalu menjaga nama keluarga. ”Pak Uno selalu bilang, ‘Kamu boleh bekerja di luar rumah, tapi jaga nama baik keluarga’,” Mien bercerita. Ia pun berkomitmen mematuhinya. ”Karena saya sangat menghargai kepercayaan itu.”

Dukungan keluarga, terutama suami, juga didapatkan Tri Mumpuni, Direktur Eksekutif LSM Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka), perempuan yang sukses berkiprah di dunia usaha. Menurut Puni, begitu panggilannya, suami tercintanya sangat mendukung kariernya. “Alhamdulillah, saya dikaruniai suami yang satu visi dengan saya dan baik luar biasa,” ujar Puni memuji suaminya, Iskandar Kuntoaji (52 tahun), alumni Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung.

Sedari awal, ia dan suami bervisi sama, membangun bangsa dengan fokus memberdayakan masyarakat pedesaan. Keduanya bertemu di Tasikmalaya pada 1980-an, ketika ada program pemberdayaan pedesaan. “Saya sempat diajak bertukar visi sebelum menikah. Saya merasa sepaham dengan apa yang dipikirkannya,” kata Puni mengenang sambil tersenyum lebar.

Dalam mewujudkan mimpi-mimpinya, Puni tidak pernah dikekang suami. “Kami sering melakukan intellectual discussion. Dia partner saya dalam bertukar pikiran tentang pekerjaan,” kata Puni tentang sang suami yang setia menunggu setiap kali ia harus rapat hingga pukul 21.00.

Kendati suami sangat memahami pekerjaannya, Puni tidak lantas besar kepala. Ia mengaku tetap memperhatikan sang suami dan anak-anaknya, Ayu Larasati (21 tahun) dan Astri Saraswati (19 tahun). Kedua putrinya tengah kuliah di luar negeri. Ayu mengambil bidang desain industri di Universitas Toronto, dan Astri mendalami bio prosessing engineering di Universitas Teknologi Malaysia.

Bagi Puni, agar sukses dalam membangun rumah tangga dan bisnis, yang penting jangan merasa terpaksa atau bersalah terhadap apa yang dilakukannya. Menjalani fungsi masing-masing dengan hati dan perasaan senang. Mengapa? ”Karena semua yang kita lakukan ini adalah untuk kebaikan keluarga. Mengapa harus merasa bersalah?” katanya tandas. Perasaan bersalah justru akan menyebabkan perempuan tidak fokus pada bisnis dan kariernya.

Berbagai perasaan tidak enak ini bisa dihindari dengan berkomunikasi. “Kuncinya, komunikasi. Bicarakan saja dengan pasangan, insya Allah mengerti, meski ada juga yang tidak,” tutur Puni. Namun, diakuinya, yang juga sering memperumit masalah adalah banyak perempuan yang segan untuk sekadar membicarakan itu dengan suami. “Padahal, tidak mesti begitu. Harus ada komunikasi,” Puni menandaskan.

Reportase: S. Ruslina, Eddy D. Iskandar, Rias Andriati dan Husni Mubarak.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag