Sosok di Balik Sukses Inacraft
18-22 April 2007. Lokasi parkir Jakarta Convention Center (JCC) dipenuhi mobil yang datang dari pelbagai penjuru Ibu Kota dan sekitarnya. Maklum, saat itu berlangsung pameran yang paling ditunggu penggemar produk kerajinan tangan: Inacraft. Bagaimana tidak ditunggu. Masyarakat bisa memperoleh berbagai produk kerajinan dengan harga miring karena membelinya langsung dari sang pemilik. Tahun ini saja sekitar 1.650 usaha kecil-menengah (UKM) yang datang dari 33 provinsi di Indonesia turut meramaikan pameran itu. Bahkan, tak hanya dimeriahkan peserta dalam negeri, pameran pun tercium hingga mancanegara.
Beberapa negara seperti Malaysia, Australia, Singapura dan India berpartisipasi dalam pameran tersebut. Bagi penggila kerajinan tangan, Inacraft tak ubahnya surga. Tak kurang dari 200 ribu pengunjung datang demi barang-barang yang disukai. Tak ayal, sukses besar pameran pun menimbulkan decak kagum. Hanya saja, yang tak banyak dipikirkan khalayak: siapa di balik perhelatan akbar itu?
Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata ajang ini merupakan hasil jerih payah Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) yang ingin memberdayakan UKM, khususnya yang membidangi pembuatan kerajinan tangan. Namun, asosiasi ini tidak bekerja sendirian. Sukses pameran yang terus meningkat dari tahun ke tahun ini tidak lepas dari tangan dingin Bramantyo W. Di bawah payung PT Mediatama Binakreasi (MB), ia membidani pameran akbar yang disukai banyak orang itu.
Diceritakan Bram, demikian ia akrab disapa, sebelum ada pameran dan Asephi, ia aktif di Asosiasi Perkayuan dan Permebelan Indonesia. “Waktu itu saya punya bisnis mebel,†ujarnya tanpa mau menyebut perusahaan mebel yang masih dikelolanya itu. Pada 1989, ia bersama teman-temannya aktif menggarap beberapa pameran mebel. Salah satunya, di Monumen Nasional (Monas). Tanpa ragu Bram mengatakan, pihaknya termasuk pionir dalam penyelenggaraan pameran mebel. Di tahun yang sama, ia mendirikan MB.
Diakuinya, ketertarikan mendirikan bisnis event organizer (EO) berawal dari pengalaman mengadakan pameran bersama organisasinya. Dan, ia kemudian mengamati sebuah tren: semakin berkembang industrinya, bisnis pameran pun akan selalu dibutuhkan. Dengan kata lain, pameran bisa dijadikan ajang promosi yang kuat. Pasalnya, di pameran orang bisa melihat langsung produk yang ingin dibeli dan bertemu dengan beberapa perusahaan dalam satu tempat.
Saat Inacraft pertama (1999) diselenggarakan Asephi, EO-nya bukan MB. Waktu itu pesertanya hanya 102 UKM dan bertempat di Bidakara. “Saya tidak terlibat pada tahun pertama Inacraft,†tutur Bram. Waktu itu EO-nya adalah Expose milik Hariman, pengusaha kontraktor stand pameran. Bram yang berteman baik dengan Hariman diserahi pekerjaan menyelenggarakan pameran Inacraft kedua. “Dia sudah seperti adik. Hariman selanjutnya ingin konsentrasi di bisnis ekspor mebel,†kata kelahiran Solo, 11 April 1940, ini menjelaskan keterlibatannya di pameran kedua.
Menurut Bram, suatu pameran bisa dikatakan berhasil bila dikelola dengan baik, pesertanya bagus dan pengunjungnya membludak. Karena alasan itu, lokasi pameran Inacraft kedua dipindah ke JCC. Ketika itu, MB hanya menyewa separuh JCC atau 10 ribu m2. Sayang, ia tidak ingat lagi nilai sewa kala itu. Selanjutnya, para peserta yang merupakan anggota Asephi ia jajaki. Namun, anggotanya saat itu belum banyak. Akhirnya, untuk menggalang peserta lebih banyak lagi, bersama Rudy Lengkong, Ketua Asephi, ia melakukan canvasing dan membentuk Badan Perwakilan Daerah (BPD) Asephi di daerah-daerah. Upaya ini membuahkan hasil, sehingga di pameran kedua jumlah peserta meningkat menjadi 307 UKM.
Langkah canvasing terus dilakukan Bram hingga kini demi menggalang peserta sebanyak-banyaknya. Untuk pameran tahun ini, ia bersama timnya melakukan canvasing sejak Agustus 2006. Sejak pameran kedua yang ditanganinya, jumlah peserta meningkat dari tahun ke tahun (lihat Tabel). “Waktu pertama kali Inacraft saya pegang, isu bom dan banyak demo sedang marak. Tapi alhamdulillah, pengunjungnya banyak,†ujarnya sambil mengatakan, angka pengunjungnya sekitar 25 ribuan. Ia menilai, pameran yang hanya berlangsung selama lima hari itu setiap tahun selalu mendapat sambutan positif masyarakat. Bahkan, sejak Inacraft pertama, pameran ini selalu dibuka pejabat penting negara, mulai dari menteri hingga presiden. “Pameran 2007 malah dibuka Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI),†ujar lulusan Fakultas Tata Niaga Akademi Pimpinan Perusahaan ini. Makin besarnya perhatian pemerintah terhadap industri kerajinan tangan dinilainya dapat mendorong perkembangan UKM di Tanah Air.
Sebenarnya, apa yang membuat penyelenggaraan Inacraft selalu ditunggu masyarakat dan sukses? Menjawab pertanyaan ini, Bram mengatakan, MB bukan sekadar menyelenggarakan pameran. Akan tetapi, juga mengupayakan para peserta bertemu dengan pembeli (buyer)-nya. Dalam hal ini, pihaknya mengundang pembeli dari seluruh dunia. Agar mereka tertarik datang ke Indonesia, Bram bekerja sama dengan Garuda Indonesia untuk mendapatkan diskon tiket. Selain itu, berupaya pula menggalang kerja sama dengan kedutaan dan BUMN.
Upaya promosi pun dilakukan, misalnya dengan beriklan di Garuda Flight Magazine, mengirim brosur di dalam dan luar negeri, membuat website Inacraft, hingga memasang iklan di majalah pameran luar negeri. “Kami juga menyediakan fasilitas yang lengkap untuk pengunjung, bahkan menyediakan shuttle bus, dokter jaga hingga toilet di luar,†katanya bersemangat. Adapun untuk peserta dari luar negeri, penyebaran undangan dikirim melalui berbagai jalur: langsung ke pembeli/pengimpor, melalui KBRI dan beragam lembaga promosi perdagangan asing, serta memasang iklan di sejumlah event di mancanegara, seperti Portal Bisnadeshows di India.
Penyuka lukisan ini tiap tahun memperbaiki penyenggaraan pameran yang dikelolanya. Bagi Bram dan ke-35 karyawannya, masukan dan kritik menjadi acuan agar di tahun berikutnya tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. “Waktu pameran kami malah menggunakan tenaga lepas untuk security, dokter dan resepsionis hingga 250-an orang,†ujarnya. Sponsor pun digaet, seperti Bank BNI, BRI, Bank Mandiri, dan perusahaan-perusahaan BUMN. Agar berjalan lancar, Bram bersama timnya menyiapkan pameran setahun sebelumnya. Seperti merancang anggaran dan pendapatan yang ingin dicapai, serta memasarkan Inacraft jauh-jauh hari sebelumnya. Pemasaran ini menggunakan tangan BPD Asephi di seluruh Indonesia. Ia merasa, dari hari ke hari persiapannya makin ketat. Apalagi, jika pameran akan dibuka Presiden. “Undangan paling cepat baru kami kirim empat hari sebelum acara. Soalnya, harus dicap di Sekretariat Negara. Agar cepat, kami faks saja undangannya ke seluruh Indonesia untuk gubernur dan kepala daerah lain. Faks itu untuk mengambil undangan yang asli,†Bram menjelaskan.
Menggaet sponsor, menurut Bram, tidaklah terlalu sulit. Terlebih, beberapa tahun belakangan bank-bank giat menggalang nasabah dari UKM. “Dalam sambutannya Pak SBY juga mengatakan, ia merasa wajib datang ke pameran Inacraft sehingga perbankan pun menghubungi kami, menawarkan diri jadi sponsor,†katanya semringah. Ia membenarkan, awalnya minat sponsor tidak terlalu besar. Namun, dengan makin banyaknya peserta, ditambah ruang pameran yang makin luas serta pengunjung yang berlimpah, otomatis pihak sponsor menganggap pameran ini cocok untuk ajang promosi. Sponsor menjadi penting bagi Bram karena dari sinilah ia mendapat pemasukan, selain dari sewa area dan tiket pengunjung.
Di awal penyelenggaraan Inacraft, Bram mengakui, produk yang dipamerkan tidak diseleksi. “Makin lama kami seleksi, lalu kami buat zoning product, seperti produk fashion, kayu, produk ekspor atau lainnya dikelompokkan di satu wilayah,†katanya sambil menambahkan, pengaturan yang lebih rapi ini dilakukan sejak tiga tahun lalu. Selama tiga tahun berturut-turut pula beberapa negara tetangga ikut serta dalam pameran ini. Langkah zoning dilakukan untuk memudahkan pengunjung mencari produk. “Kami juga mengumpulkan UKM-UKM yang dibina perusahaan BUMN, meski berbeda-beda produknya, dalam satu wilayah,†tuturnya. Untuk mengikuti pameran tahun ini, UKM individu — bukan binaan BUMN atau lainnya — harus membayar sewa Rp 1,4 juta/m2, sedangkan UKM binaan Rp 1,6 juta/m2. Para pengunjung pun ditarik karcis masuk Rp 10 ribu. Tahun ini MB menyewa seluruh ruangan di JCC seluas 24 ribu m2.
Sukses Inacraft setiap tahun membuat para peserta selalu ingin kembali mengikuti pameran ini. Bahkan, menurut angket yang diberikan ke peserta, lebih dari 50% ingin kembali berpameran. Salah satunya, Bambang Budi H., Pemilik Hanny’s Craft, peserta dari Demak. Perajin mainan anak-anak seperti klontong-klontong, gasing dan suara katak ini sudah 8 kali menjadi peserta pameran. Perusahaannya, yang berdiri pada 1999, memang banyak mendapat pembeli partai besar setelah mengikuti Inacraft. “Angka omsetnya saya tidak bisa bilang, tapi yang jelas tahun ini naik 200% dibanding tahun lalu,†kata pria yang datang menjadi peserta di bawah binaan PT Pelindo III (Persero) itu.
“Tahun ini paling bagus, karena posisi stand berada di Plenary Hall, jadi strategis. Tahun lalu di main lobby, jadi kurang strategis,†ujar pria berusia 40 tahun ini. Meski produk jualannya mainan anak-anak, menurut Bambang, produknya justru banyak dibeli buyer dari luar negeri atau para calon pengantin untuk cenderamata. “Produk kerajinan saya kecil-kecil dan khas, harganya hanya Rp 5-15 ribu. Kata mereka sih cocok untuk souvenir pengantin,†tuturnya. Ia mengaku juga mengikuti pameran serupa yang diadakan Debindo dan ICRA sebanyak tiga kali. Namun, menurutnya, pameran Inacraft yang paling banyak mendapat sambutan pembeli atau pemesan produk. “Di Inacraft kan semua hall dipakai, jadi gaungnya lebih besar,†katanya sambil menuturkan, di ICRA hanya hall A dan B yang digunakan. Bambang mengusulkan, Inacraft bisa diadakan dua kali setahun.
Selain Bambang, nada puas juga disampaikan Agus Lee. Pemilik Lee Concept ini 6 kali memamerkan produk-produk artwork dan pigura di Inacraft. “Tidak berturut-turut sih, pada pameran ke-4, 5 dan 6 saya tidak dapat ikut,†ujarnya sambil mengatakan, saat itu ia tidak punya waktu untuk mempersiapkan. Menurut Agus, Inacraft merupakan pameran kerajinan tangan paling baik di Jakarta. Dari pameran ini pula ia bisa menarik pembeli dari luar negeri. “Produk saya sangat eksklusif, tidak ada pemasaran lain selain melalui pameran,†katanya. Produk-produknya memang tidak dijual secara ritel. Kebanyakan pembelinya adalah hotel, perusahaan arsitektur, kondominium, pengusaha furnitur, dan pembeli partai besar lain. “Saya tidak punya sarana promosi lain selain pameran,†tutur pria yang memulai usaha ini sejak 9 tahun lalu. Tak mengherankan, ia menggunakan ajang ini untuk menarik pembeli dari luar negeri. Kini produknya sudah diekspor ke Singapura, Malaysia dan Australia.
“Di ajang Inacraft saya bisa menarik pelanggan baru,†katanya sambil menyebutkan, rata-rata peningkatan omsetnya 60%-70%. Sayangnya, Agus juga keberatan menyebutkan angka-angka yang terkait dengan omset. Meski tiap tahun omset meningkat, ia kurang menyetujui usul Bambang agar Inacraft diadakan setahun dua kali. “Biar pengunjung dan buyer ada penasarannya untuk datang jika diadakan setahun sekali,†demikian alasannya.
Selain Inacraft, Bram pun berhasil menyelenggarakan Jakarta Furniture Fair (saban Mei) dan Indonesian Furniture Fair (setiap Desember). “Saya juga sempat membantu pemerintah Thailand mengadakan pameran kerajinan di sini (Indonesia) beberapa waktu lalu,†ujarnya. Dalam waktu dekat, ia juga diminta menyelenggarakan pameran (bukan pameran kerajinan) di Singapura. Seringnya mengadakan pameran membuat Bram bisa memetakan peserta mana yang siap dibawa mengikuti pameran ke luar negeri. “Saya sudah dorong ke pemerintah dan Asephi. Saya bersyukur bisa mengajak beberapa peserta ke Thailand.â€Â
Kendati sukses, Bram merasa belum termasuk penyelenggara pameran yang terbesar. “Ada Diandra dan Debindo yang besar. Ya, kami mungkin baru masuk lima besarlah,†ujarnya merendah. Namun, ia berharap pameran-pameran lain yang diselenggarakannya di tahun mendatang akan memperoleh respons seperti Inacraft. Di antaranya, pameran geopasial, gelar batik nasional, pameran furnitur dan satu pameran lagi yang sedang dirintis. â€ÂYang terakhir belum bisa disebutkan namanya. Tunggu tanggal mainnya saja,†katanya seraya tersenyum.
Tabel
Perkembangan Peserta, Pembeli, Kontrak Bisnis, Penjualan Ritel dan Luas Area yang Disewa 1999-2007
Tahun Peserta (Perusahaan) Pembeli Kontrak Bisnis (US$) Penjualan Ritel (Rp Ribu) Area (m2) 1999 102 65 (dari 22 negara) 195.000 206.918 4.000 2000 307 205 (dari 30 negara) 235.620 1.061.700 6.000 2001 420 189 (dari 50 negara) 380.000 2.517.858 7.000 2002 488 202 (dari 32 negara) 1.401.266 6.375.600 9.000 2003 600 120 (dari 19 negara) 1.187.185 11.688.594 11.000 2004 750 358 (dari 38 negara) 3.250.000 37.500.000 14.821 2005 1.350 750 (dari 83 negara) 5.121.500 51.856.000 22.000 2006 1.600 876 (dari 62 negara) 6.021.860 59.686.256 22.000 2007 1.650 436 (dari 48 negara) 6.473.500 67.147.038 24.080
Sumber: Mediatama Binakreasi
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.