SPC, Investasi DHL untuk Mengikat Pelanggan Kakap

SPC, Investasi DHL untuk Mengikat Pelanggan Kakap

Apa itu SPC? Menurut Edi Prayitno, Manajer Pemasaran Country DHL Express, SPC merupakan fasilitas khusus yang didesain untuk mengelola data penyimpanan dan pengiriman ekspres yang bisa dikelola sendiri oleh pelanggan. Polanya, di masing-masing kantor pelanggan ditempatkan satu personal computer (PC) plus beberapa peranti tambahan seperti thermal label printer, modem, report printer dan alat penimbang. “Melalui fasilitas yang terintegrasi dengan database DHL tersebut, semua pelanggan bisa mendapatkan jaminan ketepatan waktu dari barang yang mereka kirimkan,”? ujarnya.

Bagi DHL, layanan SPC sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelumnya, tepatnya sejak 1995, beberapa inisiatif serupa yang juga berbasis TI sempat diluncurkan. Sebut saja, mulai dari sistem track & trace, portal unik TAS (Trade Automation Service) — yang meliputi informasi mengenai peraturan bea & cukai, hingga pemanfaatan PDA scanner. “Jadi, fasilitas itu semata untuk melengkapi layanan kami sebelumnya,”? ujar Edi. Adapun yang membedakan, fasilitas SPC jauh lebih interaktif karena dikelola sendiri oleh pelanggan secara online.

Umumnya, berbagai peranti pendukung SPC itu, termasuk PC, sepenuhnya disediakan DHL dengan sistem pinjam. Semua peranti tersebut ditempatkan di masing-masing kantor pelanggan. Untuk sementara, sedikitnya ada sekitar 500 pelanggan yang bisa menikmati layanan ini. “?Semua pelanggan tidak ada yang dipungut biaya tambahan,”? katanya menjamin.

Edi menyebutnya program pro-aktif. Artinya, DHL tidak menunggu permintaan dari pelanggan, tapi justru sebaliknya. DHL sementara hanya akan memprioritaskan perusahaan pelanggan yang memiliki tingkat pengiriman relatif besar. Namun, DHL terlebih dulu menganalisis tantangan dan kesulitan mereka dalam proses pengiriman barang sebelumnya. Jika pelanggan yang bersangkutan dianggap layak menerima layanan SPC, DHL akan melakukan proses implementasi, atau lebih tepatnya konfigurasi sistem hingga bisa berjalan. Maklum, dikatakan Edi, pelanggan memiliki konfigurasi sistem yang berbeda-beda. “Dalam hal ini DHL harus bisa menyesuaikan konfigurasi sistem pelanggan hingga bisa terkoneksi dengan sistem DHL,”? ujarnya. Kalau pelanggan yang bersangkutan sudah memiliki sebagian peranti yang ditawarkan, misalkan PC yang sudah sesuai dengan standar, tinggal ditambahkan peranti lunaknya, plus timbangan dan thermal label printer untuk keperluan pencetakan bukti pengiriman.

Untuk meluncurkan program ini, DHL mengeluarkan dana Rp 1,3 miliar. Kendati terbilang besar, menurut Edi, pelanggan tidak dibebani sedikit pun, baik biaya untuk pengadaan peranti SPC maupun dalam bentuk pembebanan tarif.

Yang jelas, banyak manfaat yang bisa dinikmati pelanggan. Hanya dengan mengakses komputer yang dilengkapi aplikasi EasyShip dan WebShip, pelanggan dapat melakukan beberapa hal: mulai dari menampilkan laporan pengeluaran biaya pengiriman, memasukkan airway bill dan dokumen pengiriman, melacak pengiriman secara real time, mencetak laporan bukti pengiriman hingga memesan tambahan pasokan barang. “Sebelumnya, hal itu hanya bisa dilakukan pelanggan secara manual,”? kata Edi bangga.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag