Sukses Sejoli Membangun Da Vinci

Sukses Sejoli Membangun Da Vinci

Gedung setinggi 177 meter (34 lantai) yang menempati lahan 100 ribu square feet ini memang sengaja hendak diciptakan suasana Eropa abad pertengahan. Dari 34 lantai yang ada, 12 lantai didesain sebagai galeri one stop shopping produk-produk Da Vinci Collection dan Da Vinci Presentation, sedangkan 22 lantai sisanya akan dijadikan 38 unit penthouse supermewah yang fully furnished.

“Da Vinci Tower akan menjadi landmark baru di Jakarta. Keindahan arsitektur klasiknya, cerminan selera abadi Da Vinci, serta cerminan selera pribadi pengguna Da Vinci yang berkelas dan memiliki prestise tersendiri!,” kata Tony dan Doris Phua, pasangan pemilik gedung ini. Inilah gedung pertama — pencakar langit, lagi! — yang dibangun di kawasan Segitiga Emas semenjak krisis. Artinya, pastilah pemiliknya tergolong pengusaha yang sangat likuid.

Da Vinci Tower boleh dibilang simbol keberhasilan pasangan Doris Phua-Tony Phua mengembangkan bisnis furnitur premiumnya yang kini telah merambah Malaysia, Brunei, Taiwan, Hong Kong, Cina, dan Indonesia. Padahal, setidaknya menurut pengakuan mereka, pasangan sekaligus pendiri Da Vinci Holdings Pte. Ltd. (DVHPL) ini sebelumnya tak pernah menyangka bisnisnya bakal semelesat sekarang.

Sejarah bisnis furnitur Da Vinci sebenarnya mulai ditoreh pada 1978. Ketika itu Doris mulai bekerja sebagai demonstrator produk perlengkapan memasak bermerek Fissler asal Jerman. Pelan tapi pasti, peran ini sukses ia jalankan, hingga pada 1980 statusnya naik menjadi distributor produk itu. Sebagai distributor, kinerjanya juga mengkilap. Tak heran oleh kantor pusat ia dinobatkan sebagai importir Fissler paling sukses di Asia. “Kami menggunakan strategi pemasaran direct selling,? Doris mengungkapkan rahasianya.

Tahun 1993 Doris mengunjungi pameran furnitur akbar di Milan, Italia. Ternyata event inilah yang kemudian melecut semangatnya untuk segera berbisnis furnitur premium dengan konsep yang berbeda. Di sana, ia mendapatkan feeling bisnis bahwa sebenarnya banyak produk furnitur yang berpotensi laris dijual di Asia. Maka, sepulang dari Milan Fair, bersama suaminya Tony Phua — pengembang ternama di Singapura — mendirikan DVHPL di Singapura.

Da Vinci didesain bukan lagi sebagai perusahaan distributor peranti masak, tapi distributor atau penjual furnitur premium. Konsep Da Vinci menyatukan berbagai merek furnitur top dunia dalam satu gerai. Pilihan deferensiasi ini dilakukan karena sebelum Da Vinci lahir, biasanya toko furnitur hanya menjual satu merek. “Da Vinci menawarkan konsep one stop shopping berbagai merek furnitur ternama dunia,? ujar wanita lulusan kedokteran ini. Adapun nama Da Vinci mereka ambil dari nama maestro pelukis Italia, Leonardo Da Vinci — lukisan masterpiece-nya, Mona Lisa, dipampang jelas di depan pintu utama Da Vinci Tower, Jakarta.

Selanjutnya, Agustus 1994, pasangan suami-istri ini mendirikan PT Davicindo Nusantara (DN) sebagai entitas bisnis Da Vinci Indonesia. Konsepnya sama, menyatukan berbagai merek furnitur premium dalam satu gerai. Indonesia memang negara pertama di luar Singapura yang dipilih sebagai medan baru sebelum ke Malaysia, Brunei, Cina, Taiwan, Hong Kong, dan Italia. Bisa jadi karena Doris Phua berasal dari Indonesia. Jadi, Da Vinci di Indonesia telah 9 tahun. Kini, di Jakarta gerainya dapat dijumpai di Duta Merlin, Tanah Abang, Melawai, dan Fatmawati, serta di Surabaya. Namun berdirinya Da Vinci Tower di Sudirman membuat gerai Duta Merlin (gerai perdana) dan Tanah Abang ditutup. Da Vinci di Indonesia (DN) kini didikung 370 karyawan.

Dengan manajemen yang solid, didukung kekompakan Doris dan Tony, dari waktu ke waktu bisnis Da Vinci terus berkembang. Kini setidaknya DVHPL memiliki tiga anak perusahaan: Da Vinci Collection Pte. Ltd., Da Vinci Presentation Pte. Ltd., dan Supreme Stainless Steel Pte. Ltd. Da Vinci juga makin dikenal sebagai merek premium yang terpandang dalam melayani pasar ceruk (niche market). Merek furnitur top yang dipasarkan, antara lain Thomasville, Natuzzi, Scavolini, Harrods, dan Vidal. Juga, merek premium seperti Bvlgari, Versace, Lenox, Rosenthal, Villeroy & Boch, Hutschenreuter, Rogaska, Mikasa, dan Fissler. Di Indonesia, kabarnya tak kurang dari 8 ribu kalangan menengah-atas yang masuk dalam database pelanggan Da Vinci.

Menurut Doris, suskes Da Vinci karena tak hanya menjual nilai fungsi produk tapi juga layanan pascajual. Layanan ini tidak didesain sebagai unit profit center. “Saya berusaha memberikan layanan personal dan detail, mengingat mereka berasal dari niche market,” Doris menceritakan kiatnya. Kini ada tiga jenis layanan pascajual Da Vinci. Pertama, layanan pemasangan produk. Kedua, layanan perawatan khusus produk sofa kulit Natuzzi (Natuzzi Sales Service). Ketiga, layanan interior berupa konsultasi hingga layanan teknis yang disebut Architecture Design Interior Department.

Yang pasti, kesuksesan Doris mulai diakui banyak pihak. Wanita rendah hati ini sempat meraih penghargaan Woman Enterpreneur of the Year 2001 dari Association of Small and Medium Enterprises (ASME), serta Montblanc Businesswomen Award 2002. Sementara itu, Da Vinci meraih penghargaan Singapore Promising Brand Award dari ASME pertengahan 2003. Doris mengakui, dirinya bisa sukses berkat dukungan suami dan anak-anaknya. Terlebih, suaminya juga terjun langsung dalam pengelolaan DVHPL sebagai chairman.

Tony lebih jauh menjelaskan, salah satu elemen sukses bisnisnya ialah memelihara sense of belonging di kalangan karyawan. Di sini, ada tiga nilai yang sering ditekankan termasuk bagi owner-nya, yaitu: strong capability, hardworking attitude, dan luck. Masing-masing elemen memiliki bobot yang sama dan harus dijalankan seimbang. “Kami berusaha menghargai jerih payah awak perusahaan. Tanpa mereka, kami bukanlah siapa-siapa,” ujar Tony dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah.

Bagi Tony, meski kali ini merupakan proyek terbesar, sebenarnya kehadiran penthouse mewah Da Vinci Tower bukanlah barang baru dalam perjalanan bisnisnya. Sebelumnya, Tony telah membangun 24 megastore yang menjadi ruang pamer Da Vinci Collection, tersebar di Singapura, Malaysia, Brunei, Taiwan, Hong Kong dan Cina. Ke-24 megastore itu adalah aset properti (real estate) DVHPL. “Jangan bilang kami sudah sukses. Kami masih terus belajar dan bekerja,? kata Tony yang rambutnya bergaya ekor kuda.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag