Survei E&Y: Pelaku Bisnis Asia Tenggara dan Indonesia Tetap Optimis

Survei E&Y: Pelaku Bisnis Asia Tenggara dan Indonesia Tetap Optimis

Beradasarkan Studi Ernst & Young Southeast Asia Capital Confidence Barometer, kepercayaan perusahaan terus menguat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kondisi modal perusahaan Indonesia tetap sehat dengan harapan pendapatan yang stabil, dan ketersediaan serta akses yang mudah untuk pendanaan dan likuiditas. Faktor – faktor ini juga yang mempengaruhi perusahaan untuk menempatkan penekanan kuat pada pertumbuhan dengan kegiatan merger dan akusisi yang menjadi agenda mereka. Hasil survei global Ernst & Young, yang mewakili respon hingga 1,000 eksekutif senior dari perusahaan global terkemuka, lebih lanjut mengkonfirmasi adanya ketertarikan untuk investasi di pasar Asia Tenggara yang sekarang bergabung untuk FDIs dengan BRIC (Brazil, Russia, India, dan Cina).

Para pelaku bisnis di kawasan Asia Tenggara mengungkapkan kepercayaan pada ekonomi di wilayah lokal masing – masing, dan percaya bahwa pasar lokal mereka stabil atau membaik. Hal ini secara signifikan sangat kontras dengan perspektif mereka pada ekonomi global.

Baik responden SEA (65%) dan Indonesia (71%) menganggap bahwa ekonomi global sekali lagi menurun dilihat dari kembalinya fluktuasi pasar modal, yang disebabkan oleh penuruan peringkat kredit Amerika Serikat dan krisis hutang Eropa, dengan tanda-tanda pemulihan yang lemah terhadap krisis keuangan global.

Di balik kekhawatiran atas perekonomian global, responden Indonesia yakin bahwa pendapatan perusahaan-perusahaan akan tetap stabil atau bahkan meningkat. Namun demikian, sebagian dari responden Indonesia tetap khawatir atas kinerja pasar saham lokal karena mereka percaya bahwa ketidakpastian dalam ekonomi global berpotensi makin meredam suasana pasar modal terlepas dari kinerja perusahaan-perusahaan yang kuat.

Harsha Basnayake, Pimpinan Transaction Advisory Services untuk Ernst & Young Singapura dan Asia Tenggara, berkomentar: “Kami berada di pasar yang menarik di Asia Tenggara. Kebanyakan perusahaan tetap stabil, liquid dan berada di posisi yang strategis untuk meningkatkan stabilitas ekonomi lokal dan regional di mana mereka berada. Namun, berita buruk atas ekonomi di belahan dunia lain menjadi penyebab kekhawatiran para eksekutif perusahaan-perusahaan tersebut. Mereka sadar bahwa jika kestabilan ekonomi tidak tercapai di Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara berkembang lainnya, maka perasaan pesimis akan membayangi capital agenda di perusahaan- perusahaan Asia Tenggara. Inilah yang akan diperhatikan banyak orang secara teliti.”

Dalan hal sumber pendanaan, 91.0% dari responden Asia Tenggara percaya bahwa ada ketersediaan kredit yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan mereka, menegaskan tingkat likuditas yang kuat di berbagai pasar. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan mengambil keuntungan atas cost of debt yang lebih rendah dan ketersediaan kredit untuk memperpanjang jatuh tempo pembiayaan dan untuk mengoptimalkan struktur modal.

Tujuh puluh satu persen (71%) dari responden Indonesia berharap dapat melakukan refinance dalam 12 bulan ke depan, dibandingkan dengan 30% dari responden global dan Asia Tenggara.

Selain itu, perusahaan – perusahaan Indonesia mempunyai neraca yang relative kuat dan pengambil keputusan tidak mengindikasikan keengganan apapun untuk memanfaatkan saldo kas yang tersedia untuk berinvestasi dalam peluang pertumbuhan. Semua responden Indonesia berencana untuk menggunakan hutang atau ekuitas sebagai sumber pendanaan utama mereka untuk rencana pertumbuhan mereka. Sebuah neraca yang kuat dan tingkat leverage yang rendah ditambah dengan ketersediaan kredit memberi arti bahwa hutang terus menjadi sumber yang layak untuk pendanaan.

Di sisi lain, 39% dari responden Asia Tenggara dengan saldo kas yang tinggi, berencana untuk menggunakan uang tunai sebagai sumber pendanaan utama mereka dalam bertransaksi. Ini menunujukkan sebagian besar pelaku bisnis di Asia Tenggara memiliki neraca keuangan yang sehat dan menggunakan hutang secara minimal untuk mendukung pertumbuhan.

Untuk pertumbuhan organic, 57% responden Asia Tenggara dan 71% responden Indonesia menunjukkan bahwa mereka akan fokus untuk mengembangkan bisnis mereka, pilihan yang logis mengingat pertumbuhan pasar yang kuat. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa pertumbuhan organik serta merger dan akusisi tampak tinggi pada agenda.

Untuk responden Indonesia dengan kelebihan uang tunai, pertumbuhan organik adalah pilihan yang, karena 71% dari responden mengindikasikan rencana mereka untuk melakukannya selama 12 bulan ke depan yang lebih menunjukkan kepercayaan pada pasar domestik serta strategi yang jelas dari perusahaan untuk memanfaatkan kehadiran mereka dan pengetahuan di dalam pasar lokal. Beberapa responden Indonesia berencana untuk menggunakan kelebihan uang tunai mereka untuk de-leveraging dan membayar dividen.

Sementara bisnis di Indonesia bepusat pada pertumbuhan organik, 23% responden Asia Tenggara berencana untuk mengejar pertumbuhan non-organik melalui kegiatan merger dan akusisi, joint ventures dan aliansi dengan private equity.

Harsha Basnayake menambahkan: “Tidak mengherankan melihat perusahaan-perusahaan berusaha untuk bertumbuh secara organik maupun anorganik. Tingginya cadangan kas mereka, neraca yang sehat dan biaya pinjaman yang rendah menandakan bisnis di Asia Tenggara ada dalam situasi yang kuat untuk berkembang. Survei ini juga menunjukkan kepercayaan yang kuat yang juga membuka kesempatan untuk berbagai transaksi merger dan akusisi.”

Ketika ditanya apakah mereka berniat untuk melakukan berbagai aktivitas merger dan akusisi dalam 12 bulan ke depan, 53% dari responden Asia Tenggara mengindikasikan ketertarikan yang kuat. Ini merupakan peningkatan dari 6 bulan yang lalu di mana hanya 35% responden Asia Tenggara yang mengindikasikan bahwa mereka akan melalukan transaksi merger dan akusisi dalam 12 bulan ke depan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag