Tingkat kepercayaan terhadap bisnis di kalangan pelaku usaha kecil menengah di Indonesia terus meningkat dan mendekati kondisi sebelum krisis global. Tren ini seiring dengan pulihnya optimisme pelaku usaha kecil di Asia maupun dunia ke tingkatan sebelum masa krisis ekonomi melanda. Demikian hasil surveil HSBC Global Small Business Confidence Monitor yang dipublikasikan awal tahun 2010.
Masih menurut riset itu, dalam skala global, akan semakin banyak pelaku usaha kecil yang berlaku agresif sepanjang semester pertama 2010. Bahkan di beberapa negara, mereka kembali berinvestasi dan menambah jumlah karyawan untuk pertama kali semenjak krisis ekonomi. Ini menandakan kesiapan untuk menjalankan bisnis sebelum masa krisis.
Di Asia, pulihnya tingkat kepercayaan pelaku usaha kecil ini ditunjukkan dengan menguatnya indeks kepercayaan bisnis secara signifikan sebesar 15 poin, dari 107 di kuartal kedua 2009 ke 122 poin di kuartal keempat 2009.
Sandy Flockhart, Chairman of HSBC Commercial Banking, mengatakan, di Indonesia, sejalan dengan penguatan regional dan global, kepercayaan pelaku usaha kecil ini meningkat sebesar 5 poin ke 106. Peningkatan ini melanjutkan tren penguatan optimisme pelaku usaha kecil di Indonesia, yang telah kembali ke zona positif semenjak kuartal kedua 2009.
Mengenai konsistensi penguatan optimisme UKM Indonesia, Jeffrey C. Tjoeng, Head of Business Banking HSBC Indonesia mengatakan, “Hasil HSBC Global Small Business Confidence Monitor ini sangat menggembirakan, terutama untuk Indonesia. Sejalan dengan pemulihan regional dan global, optimisme pelaku usaha kecil Indonesia terus meningkat secara konsisten, melanjutkan pergerakan positif dari survei sebelumnya. Meskipun pandangan mereka tidak seagresif pelaku usaha negara lain, kita harus melihat bahwa mereka tidak pernah memiliki pandangan terlalu negatif. Awal tahun ini, pelaku usaha kecil siap meningkatkan bisnisnya. Perilaku ini berbeda dengan pendekatan konservatif mereka selama masa krisis.â€
HSBC Global Small Business Confidence Monitor yang diadakan setiap enam bulan ini memotret pandangan pelaku usaha kecil terhadap pertumbuhan ekonomi di negaranya, perencanaan investasi modal operasional dan tenaga kerja. Memasuki survei kelima, jajak pendapat ini merupakan jajak pendapat internasional terbesar mengenai UKM yang melibatkan 6.000 pelaku usaha kecil di 20 negara di Asia, Timur Tengah, Eropa, Amerika Latin dan Utara.
Hasil kalkulasi jajak pendapat ini dituangkan dalam suatu indeks dari 0 sampai 100, di mana 0 menggambarkan tingkat kepercayaan yang paling negatif (paling pesimistis) dan 100 merupakan angka yang netral. Jajak pendapat dilakukan di bulan Oktober dan November 2009 atas kerjasama HSBC Commercial Banking dan TNS, lembaga riset terkemuka di dunia.
UKM Indonesia juga melanjutkan komitmen mereka di tahun lalu pada karyawannya. Dalam enam bulan ke depan, 94% responden tidak berencana untuk mengurangi jumlah tenaga kerja yang ada. Bahkan, 20% mulai untuk menambah tenaga kerja baru. Hal ini sedikit berbeda dibandingkan dengan kencenderungan mereka yang mengurangi karyawan pada jajak pendapat sebelumnya.
Untuk pertama kalinya HSBC Small Business Confidence Monitor juga menanyakan respondennya mengenai jangkauan bisnisnya; apakah mereka memiliki kebutuhan transaksi internasional seperti ekspor, impor, atau kegiatan operasional di luar negeri. Secara global, tiga dari 10 UKM mengaku menjalankan bisnis lintas batas. Sedangkan untuk Indonesia, 2 dari 10 pelaku usaha kecil mengaku memiliki kegiatan atau transaksi antar negara.
Internasionalisasi bisnis pelaku usaha kecil ini akan semakin meningkat dalam jangka waktu dua tahun ke depan. Ketika ditanya mengenai rencana mereka untuk mengembangkan bisnisnya ke luar negeri dalam jangka waktu dua tahun ke depan, jawabannya bervariasi. Bagi UKM Indonesia, kuatnya pasar domestik membuat mereka lebih memilih untuk menjalankan bisnisnya di dalam negeri. Dalam dua tahun ke depan, hanya 20% yang berencana melakukan ekspansi keluar negeri, naik 11 persen dari tahun 2009. Pasar utama bagi UKM Indonesia adalah Singapura (5%) yang proporsinya akan semakin signifikan dalam dua tahun ke depan (25%).
