Tanggapan untuk Iwan P. Pontjowinoto
(1) Untuk efektivitas pemanfaatan dan efisiensi pembiayaan, maka sesuai kesepakatan dengan Departemen Kesehatan, Jamsostek menggunakan fasilitas kesehatan yang sudah ada. 1) (2) Pada awalnya, PT Jamsostek mendirikan klinik sendiri dengan menggunakan dana Member Equity dan bekerja sama dengan Pemda. Namun, banyak permasalahan yang timbul antara lain tentang pengelolaannya yang kemudian diserahkan ke Jamsostek. 2) (3) Dalam pengelolaan klinik, yang sering kali menimbulkan permasalahan adalah perencanaan, pengadaan, dan pendistribusian obat ke klinik karena adanya keterbatasan, sehingga sering ditemui inefisiensi dalam pengadaan dan pembelian obat. Untuk itu direksi menerapkan kembali kesepakatan dengan Depkes untuk menggunakan fasilitas pelkes yang sudah ada. 3) (4) Untuk meningkatkan mutu pelkes, maka sejak 2001 dibuatkan penilaian kinerja terhadap PPK I yang dilakukan minimal setahun sekali. Untuk meningkatkan cakupan layanan PPK I, Jamsostek memberi bantuan berupa pinjaman untuk perluasan klinik dan hibah dalam bentuk pemberian alat kesehatan, komputer dan lain-lain. 4) 1. (5) Untuk mengetahui realisasi pembiayaan klinik, dapat dilakukan melalui analisis dan evaluasi penyelenggaraan klinik yang ditangani oleh PT Nayaka Era Husada. Pada dasarnya komponen biaya dalam pengelolaan klinik relatif sederhana, sehingga dengan transparansi sistem pelaporan hal ini mudah terdeteksi. 5) (6) Untuk mendirikan klinik dalam jumlah cukup banyak memerlukan anggaran yang besar, dan hal ini kami anggap tidak menyelesaikan masalah. Terlebih, apabila klinik itu dikelola oleh pihak yang belum mempunyai kompetensi sebagai pengelola klinik.
Akhirnya, dapat kami simpulkan bahwa penyelenggaraan program JPK harus dilakukan secara profesional, dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian, kemampuan deteksi kasus, manajemen kasus, investigasi kecurangan klaim yang harus dilakukan secara terus-menerus, dan berkesinambungan.
Basuki Siswanto Karo Humas PT Jamsostek (Persero)
Persyaratan Rubrik Siapa Dia
Saya ingin menanyakan apa kriteria pemilihan tokoh untuk rubrik Siapa Dia.
Daniel Kurnianto Direktur PT Formulatrix Indonesia Jl. Taman Pahlawan 32-E/5 Salatiga 50742 Jawa Tengah
*) Kriteria pemilihan tokoh untuk rubrik Siapa Dia, antara lain: (1) Umur kurang dari 40 tahun; (2) Berprestasi di bidangnya/kariernya melejit; (3) Sedang dipromosikan/pindah perusahaan untuk jabatan yang lebih tinggi/membuat terobosan baru di bidang bisnis/mendapat kepercayaan dari perusahaan untuk menangani proyek baru/beralih kuadran menjadi pengusaha, dan lain-lain.
Anda berminat? Silakan mengirim curriculum vitae dan catatan prestasi Anda ke Sekretariat Redaksi SWA melalui e-mail: [email protected]. Red.
Ralat dari Tango
Kami bermaksud menginformasikan bahwa ada kesalahan penulisan oleh Redaksi SWA berkaitan dengan penghargaan ICSA yang diperoleh Tango. Di Majalah SWA No. 19 (3-12 September) 2007, tepatnya di Sajian Utama halaman 31, tertulis bahwa Tango masuk dalam kategori merek yang telah menerima penghargaan ICSA lima kali berturut-turut. Seharusnya, Tango telah menerima penghargaan ICSA 6 kali berturut-turut, terhitung dari tahun 2002 hingga 2007.
Sheila Rachmat Manajer ATL Grup Orang Tua
*) Tango memang 6 kali berturut-turut menerima penghargaan ICSA periode 2002-2007. Hanya untuk tahun 2002 masuk dalam kategori biskuit, karena waktu itu belum ada kategori wafer. Baru untuk tahun-tahun berikutnya dilakukan pemisahan antara kategori biskuit dan wafer, dan Tango selalu menang di kategori wafer. Demikian penjelasan kami. Red.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.