Teh 63, Butik Teh dari Pulau Formosa

Teh 63, Butik Teh dari Pulau Formosa

Jauh sebelum Starbucks, Coffee Bean, dan kedai kopi/teh lainnya merajalela di mal-mal Ibu Kota, sebenarnya ada kedai teh yang mangkal di sana. Teh 63. Bahkan, Teh 63 bisa dibilang butik teh, karena khusus menyediakan teh berkualitas berikut perantinya. Teh 63 biasanya menyempil di lantai dasar mal dengan sales promotion girls (SPG) berkebaya hijau tua dan desain gerai berwarna serupa. ?Kami buka gerai di mal-mal sejak 1995,? ujar Eva Nainggolan, Asisten Manajer Public Relations dan Promosi PT Teh Enam Tiga yang pertama kali buka di Ratu Plaza.

Teh 63 memang bukan teh biasa. Lie Mei Chu adalah orang pertama yang memperkenalkan teh oolong — salah satu jenis tanaman teh dengan nama latin camellia sinesis yang termasuk dalam anggota keluarga Theaceae — di Indonesia (1995). Sebagai warga keturunan Taiwan yang menikah dengan pria Indonesia, Chu memang berasal dari keluarga yang berkecimpung di dunia teh oolong. Ia merupakan generasi keempat yang menekuni bidang ini di Taiwan (Republik Cina).

Tahun 1985, Chu membawa bibit teh oolong dari Taiwan dan menanamnya di daerah Bogor, Jawa Barat. Kebetulan waktu itu ia mendapatkan lahan tidur yang terbengkalai seluas 80 hektare. Kesempatan ini pun diraihnya. Ia bekerja sama dengan PTP setempat mengembangkan teh oolong.

Proses pembuatan teh oolong yang disediakan Teh 63 sangat istimewa. Hanya tiga pucuk daun teh teratas yang diambil. Sehingga ketika kita menyeduhnya, tiga pucuk daun itu akan mengembang, tanpa rusak atau robek. Tidak seperti jenis teh biasa yang daunnya cenderung koyak dan banyak terdapat batang kering, teh oolong murni hanya terdiri dari daun teh. Dalam proses pembuatannya tersedia mesin pengering yang berfungsi untuk meniriskan teh oolong sekaligus mengontrol hasil daun teh pilihan itu.

Sejak menanamnya tahun 1985, Chu baru bisa memetik hasilnya 10 tahun kemudian. Di bawah bendera PT Teh Enam Tiga, ia yakin, budaya minum teh yang sehat dan berkualitas dapat diterima dan disebarluaskan. Untuk menunjukkan keseriusannya, Chu merekrut seorang ahli teh dari Taiwan. Proses pengolahan pun dilakukan lebih profesional sampai pada tarap pengepakan. Cara mengemas teh juga perlu perhitungan dan tak sembarangan. Untuk itu, dipilih bahan baku pengemas yang tidak mengandung zat kimia. Sistem pengemasan terlebih dulu divakum agar kedap udara, sehingga teh bisa awet 1-2 tahun. “Untuk produk yang tidak divakum, kami menggunakan oxygen absorber, sehingga teh akan terus mengering,? kata Eva, yang menunjukkan bahwa daun teh kering bisa dikunyah untuk menghilangkan bau mulut.

Awalnya, hasil panen teh yang diberi nama Jawa oolong ini dilempar ke pasar ekspor, khususnya ke Taiwan. Tak terlalu sulit buatnya mengekspor ke kampung halaman karena ia memiliki jaringan di negara itu. Dengan menggunakan merek Jawa Oolong, ia menyasar ke Jepang dan Cina (Republik Rakyat Cina). Hingga kini sekitar 80% dari jumlah produksinya yang tak sampai 100 kg/hari, diperuntukkan buat pasar ekspor dan selebihnya masuk pasar dalam negeri. “Satu hari paling hanya beberapa kilo,” jelas Eva tentang volume produksi Jawa Oolong.

Budaya minum teh memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan etnis Cina. Upacara minum teh (teh pai) merupakan bagian terpenting dari rangkaian acara pernikahan di negara itu. Budaya minum teh yang berasal dari Negara Tirai Bambu ini terbawa hingga ke Indonesia. Pembudidayaan teh di Cina dan Taiwan makin berkembang. Demikian juga proses pengolahannya. Berdasarkan proses pengolahannya, teh dibagi menjadi teh hijau, yaitu yang diproses tanpa mengalami fermentasi, teh hitam yang mengalami fermentasi penuh dan teh oolong dengan proses semi fermentasi. Secara visual ketiga jenis teh ini dapat dibedakan: teh hijau berwarna hijau, teh hitam berwarna cokelat kemerahan dan teh oolong berwarna kuning keemasan. Dari segi rasa, teh hijau lebih sepat, teh hitam lebih pahit, sedangkan teh oolong tidak sesepat teh hijau dan tidak sepahit teh hitam. Kata ?oolong? berasal dari Taiwan yang artinya naga hitam — identik dengan segala sesuatu yang baik dan bagus di Cina.

Menanam mungkin bukan proses yang sulit bagi Chu, karena ia berasal dari keluarga petani yang pandai berkebun. Namun, bagaimana memasarkannya di sini, itu yang sulit. Maklum, tingkat konsumsi teh orang Indonesia masih terlampau kecil. Berdagang teh di Indonesia merupakan perjuangan berat bagi istri pemilik lisensi bolpoin Mont Blanc ini. Apalagi, harga tehnya 10 kali lipat lebih mahal dari harga teh yang beredar di pasaran lokal.

Ia memulainya dari salah satu sudut gerai di Ratu Plaza, Jakarta. Perlu keuletan dan kegigihan bagi para SPG Teh 63. Dengan seragam berwarna hijau yang anggun, mereka harus bisa menggaet calon konsumen dengan ramah dan komunikatif. Tidak mudah memang membujuk orang membeli produk yang belum dikenalnya.

Menurut Chu, menjual teh yang harganya 10 kali lipat bahkan lebih dari harga teh biasa, tentu tak sembarangan. Harus ada sejumlah SPG yang bisa mengedukasi pasar. “Siapa yang mau beli teh yang harganya 10 kali lipat lebih mahal dari teh biasa, kalau dia tidak tahu fungsinya,” tambahnya.

Di butik teh ini terdapat berbagai peranti pendukung untuk menyeduh teh. Ada meja tempat menyeduh teh yang terbuat dari kayu jati, asli buatan Indonesia. Meja ini dilengkapi dengan kontainer — tampungan air — untuk seduhan teh. Kemudian, ada berbagai peranti penyeduh seperti penyeduh poci, cawan, baki yang tersedia dengan berbagai bentuk dan ukuran, tea maker dan ketel listrik.

Untuk melengkapi merchandise-nya, Teh 63 menyediakan berbagai bingkisan berupa parsel yang terdiri dari peranti penyeduh dan beberapa jenis teh oolong. Peranti penyeduhnya, dari yang tradisional seperti poci tanah liat sampai dengan tea maker yang modern. Parsel-parsel ini ditawarkan dengan kisaran harga Rp 350 ribu-Rp 1 juta lebih.

Meja peranti dijual dengan kisaran harga Rp 4-8 juta. Adapun peranti penyeduh teh yang rata-rata terbuat dari porselen dan keramik, lebih dominan diimpor langsung dari Taiwan dan Cina. Harganya dari Rp 12 ribu (cawan/piece) hingga Rp 2 juta. Poci misalnya, dijual seharga Rp 150 ribu-1,4 juta. Poci termahal yang terbuat dari keramik ini tak hanya berfungsi sebagai pajangan, tapi juga sangat bermakna bagi pemiliknya. Sementara itu, poci dari tanah liat, sekilas tak jauh berbeda dari buatan Indonesia. Namun bila diperhatikan lebih detail, molekul-molekulnya lebih rapat dan air panas dalam poci ini tidak merembes keluar. “Setiap bulan ada saja yang beli poci keramik ini (harga Rp 1,4 juta). Biasanya mereka yang senang mengoleksi,” kata Rima, salah seorang SPG di Plaza Senayan.

Demikian halnya dengan barang-barang lain seperti meja peranti penyeduh. Menurut Rima, setidaknya sebulan ada tiga pelanggan yang membelinya.

Strategi getok tular memang jadi andalan produk premium ini. Tanpa disuruh dan diminta, pelanggan menyampaikannya kepada orang-orang terdekat. Dari sisi rasa, teh hijau terasa sepat dan teh hitam terasa pahit, sedangkan teh oolong memiliki kedua rasa itu tapi tak terlalu pekat. “Ini menjadi style bagi sebagian orang. Tanpa disadari mereka sudah berpromosi untuk Teh 63,” tambah Eva.

Saat ini mayoritas pelanggan Teh 63 memang dari warga keturunan Cina. Namun, tak sedikit pula pribumi dan orang asing yang rata-rata berasal dari Jepang dan Arab Saudi. “Para pejabat di DPR juga sering ke sini,” kata Rima.

Di beberapa gerai butik, per hari paling tidak ada lima pengunjung yang membeli teh oolong. Produk-produk yang laris, di antaranya teh Cawang yang harganya mencapai Rp 375 ribu/tiga ons, dan teh Kausan. Ada pula 1-2 pelanggan yang membeli teh Juara seharga Rp 2 juta/tiga ons setiap bulan.

Teh Juara merupakan teh nomor satu di Taiwan. Sesuai namanya, teh ini selalu menang dalam ajang kompetisi Festival Teh. Di Taiwan kepedulian pemerintah terhadap industri teh amat tinggi. “Mereka mewujudkannya lewat kompetisi teh. Apalagi, di negara ini teh sudah begitu identik dengan kesehatan,” tutur Eva.

Respons positif datang dari berbagai pihak di industri hotel-restoren-kafe, di antaranya hotel berbintang, resto dan spa. Selain bekerja sama dengan wholesaler dan hypermarket seperti Sogo, Diamond and Duty Free, Chu juga membangun jaringan di pasar horeka.

Teh 63 membagi distribusinya berdasarkan target yang hendak dibidik. Konsep di butik tidaklah sama dengan supermarket. Di supermarket, sasarannya adalah konsumen yang memang sudah mengenal Teh Oolong. Jenis barang yang ditawarkan hanya berupa produk yang harganya relatif lebih murah. Seperti teh celup, dijual seharga Rp 20 ribu/bungkus berisi 6 sachet. Adapun butik teh, selain konsepnya lebih terintegrasi, juga menyediakan produk-produk secara luas. Hampir semua kebutuhan minum teh ada di situ. Memang mahal, tapi berkelas.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag