Banyak cara yang dilakukan para pengusaha untuk memberikan keteladanan kepada generasi penerusnya. Menurut pengamat manajemen, Paulus Bambang WS., beberapa konglomerat yang ia kenal dalam menurunkan wisdom kepada anak-anaknya melalui tiga cara.
Â
Cara pertama, metode nyantol, yaitu mengikuti bapaknya kemana saja. Anak melihat dan mendengarkan apa yang dipikirkan dan dilakukan bapaknya. Kedua, lewat mentor, menurunkan wisdom ini terkadang tidak bisa langsung, apalagi kalau anaknya punya pendidikan di luar negeri sedangkan bapaknya dari lokal. Yang sering dilakukan adalahu orang tuanya menunjuk mentor, melalui perantara mentor tersebut diberikan wisdom-wisdom yang cocok. Mentoring atau transfer wisdom ini jalan karena menggunakan mentor. Ketiga, metode ‘cemplung’ yang mana si anak diberi kepercayaan terjun sekaligus, kalau tidak bisa baru diberitahu oleh orang tuanya. “Jadi ketiga metode tersebut yang bisa digunakan, dari direct 100% full, 50% dan 0%,” ia menambahkan.
Â
Â
Paulus sendiri menerapkan metode direct 100% kepada anaknya. Kemana pun pergi dalam urusan bisnis akan diajak untuk belajar memahami dunia bisnis yang dijalani sang ayah. “Saya berpikir lebih cepat memberi secara bertahap lebih baik daripapada ‘mencemplungkan’,” ujarnya. Namun, cara ini diakuinya, ada juga anak-anak pengusaha yang tidak menyukainya.
Â
Â
Lalu apa yang harus dilakukan anak untuk bisa menerima wisdom dari orangtuanya? Ia mengatakan, akhirnya kembali lagi ke anaknya, kalau si anak ingin dibimbing maka berikanlah bimbingan. Sebaliknya, jika anak merasa bisa melakukan segalanya tidak perlu dipaksa atau dicekoki ajaran dari bapaknya, maka perlu diberi kebebasan. “Konflik terjadi ketika antara orang tua dan anak tidak mengerti kemauan satu sama lain,” ungkapnya.
Â
Â
Untuk mengatasi perbedaan tersebut, yang pertama dilakukan yaitu komunikasi. Orang tua juga harus melihat apa yang diinginkan si anak. Orang tua sebagai guru harus berubah dan punya waktu untuk melihat anaknya seperti apa.
Â
Â
Menurutnya, nilai-nilai yang bagus harus dipaksakan untuk diturunkan, misal tentang kejujuran. Nilai yang menurut orang tuanya bagus harus diturunkan agar tidak hilang. Inilah yang membedakan dengan harga yang bisa cepat hilang sedangkan nilai tidak. Ini harus diungkapkan secara eksplisit, jadi tidak ada grey area di antara anak dan orangtua. Orang tua harus mengatakan sesuatu yang tidak disukainya, misalny bisnis yang bisa mengganggu kesehatan, seperti rokok. Dengan demikian anak juga tahu mana yang baik dan buruk.
Â
Â
Orang tua harus mewariskan nilai-nilai yang dianggapnya benar, persoalan nanti dalam perkembanganya berubah sesuai dengan era anaknya bisa disesuaikan. “Tidak ada masalah karena setiap pimpinan memiliki value tersendiri, minimal ada benang merahnya. Yang penting basic value tetap, nanti penjabarannya dapat diseuaikan dengan zaman,†ujar Paulus.(EVA)
