Home » Updates » TNT Asia Road Network Menjangkau Cina

TNT Asia Road Network Menjangkau Cina

ARN akan terhubung dengan jaringan ekspress internasional TNT di Cina, di mana langkah berikutnya adalah menghubungkan jaringan transportasi darat tersebut dengan jaringan domestik di Cina. Perluasan tersebut akan memberi nilai tambah berupa jaringan transportasi darat yang ekstensif bagi pelanggan TNT di kawasan tersebut.

Sejak diluncurkan pada akhir tahun 2005, ARN telah menghubungkan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina melalui perbatasan timur laut Vietnam. Dilengkapi
dengan sistem lacak 24×7 real time Global Positioning Satellite (GPS) untuk memonitor pergerakan setiap truk kontainer, TNT mencatat pertumbuhan volume pengiriman
sebesar dua digit sejak ARN mulai beroperasi. Pengiriman berbagai barang-barang dengan kategori bernilai tinggi, seperti elektronik, otomotif, dan komponen komputer, adalah faktor pendorong pertumbuhan volume kiriman melalui jalur darat. Jaringan
transportasi darat tersebut dua hingga tiga kali lebih cepat dari pengiriman melalui laut, dengan efisiensi biaya hingga 30 % jika dibandingkan dengan layanan kargo udara.

Marie-Christine Lombard, Managing Director TNT Express, menjelaskan bahwa masuknya Cina ke dalam jaringan ARN, merupakan pencapaian atas strategi TNT
untuk membangun dan mengintegrasikan jaringan di dalam dan antar pasar berkembang yang terpilih, yang menjadi bukti komitmen TNT untuk berkembang di Asia. Seiring dengan pengembangan jalur intra-kawasan melalui jaringan transportasi darat yang kuat, selesainya pembangunan tahap akhir dari TNT ARN akan memperkuat
kapabilitas TNT dalam melayani arus perdagangan intra-regional dengan menawarkan layanan yang aman, tepat waktu dengan tarif yang kompetitif ke berbagai kota tujuan di pasar berkembang Asia. “Cina merupakan bagian yang tak terpisahkan dari strategi pertumbuhan global karena Cina adalah pasar yang penting bagi pelanggan regional dan global TNT ARN akan menjadi kunci pembeda antara TNT di Cina dan wilayah lain di Asia,” ujarnya.

Hubungan bilateral antara Indonesia and Cina makin erat seiring dengan aktivitas perdagangan antara kedua negara yang meningkat secara signifikan beberapa tahun
terakhir, terutama setelah penandatanganan kerja sama kemitraan strategis antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Wen Jiabao dalam
ASEAN-Cina Commemorative Summit tahun 2006 di Nanning, Cina. Kedua kepala pemerintahan telah menyatakan komitmennya untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral sebesar US$ 30 miliar pada tahun 2010.

Posisi Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan ekonomi yang kuat, membuatnya dilirik oleh Cina untuk menjadi basis ekspansi Cina ke sepuluh negara ASEAN melalui ASEAN free trade agreement. Kesepakatan tersebut akan membangun wilayah perdagangan yang amat besar, dengan lalu lintas barang, layanan, dan investasi yang bebas, dengan populasi kawasan sebesar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah populasi dunia dan nilai GDP di atas $ 2 triliun. Tercatat nilai perdagangan antara Cina-ASEAN meningkat sebesar $100 juta dollar di tahun 2004, atau naik 30% dalam kurun waktu 12 bulan.

Dalam bidang investasi, Cina adalah investor terbesar kelima di Indonesia dengan nilai investasi US$ 7,4 miliar. Investasi di luar sektor minyak dan gas, bernilai US$ 170 juta (38 proyek) tahun 2003, dan meningkat menjadi US$ 205 juta (80 proyek) di tahun
2005. Sementara itu, nilai investasi Indonesia di Cina tercatat sebesar US$100,8 juta dengan jumlah 115 proyek di tahun 2006. Perdagangan bilateral antara Indonesia dan Cina melonjak tiga kali lipat menjadi US$ 19,06 miliar di tahun 2006 dari US$ 6,7 miliar di tahun 2001.

SHARE SOCIAL MEDIA


Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


7 + four =