Berarti, pertumbuhan pasar penerbangan domestik di Indonesia sejak tahun 2000 adalah 18%, 27%, 38%, dan mencapai puncaknya 44% pada 2003, kemudian menurun ke 7% tahun berikutnya. Angka-angka pertumbuhan pasar penerbangan domestik ini terungkap dalam riset Marketing Research Indonesia (MRI) bertajuk Konsumen dan Pasar Jasa Penerbangan Dalam Negeri. Dengan mempertimbangkan pengembangan di seluruh wilayah Indonesia dan persaingan harga yang terus terjadi, MRI memperkirakan dalam lima tahun mendatang rata-rata pertumbuhan arus penumpang domestik masih bisa mencapai 15%.
Arus penumpang di atas dihitung dari 204 bandara yang tersebar dan beroperasi di seluruh Indonesia. Dari semua bandara itu, Soekarno-Hatta adalah yang terbesar dan memiliki pangsa 31%. Pertumbuhan arus penumpang di bandara ini juga luar biasa, terakhir mencapai 52% pada 2003, tapi kemudian stagnan (naik1%). Bandara tersibuk berikutnya adalah Juanda (Surabaya) dan Ngurah Rai (Denpasar).
Jika di tahun 1999 Indonesia baru mempunyai lima perusahaan penerbangan, saat ini terdapat 25 perusahaan penerbangan dengan jadwal reguler. Bahkan pemerintah sudah memberikan izin kepada 37 perusahaan penerbangan. Perusahaan penerbangan yang tergabung dalam INACA (Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional) berjumlah 17, dan jumlah penumpang domestik yang mereka layani sebanyak 26 juta yang dilayani oleh 14 perusahaan. Garuda masih menjadi pemimpin pasar di industri penerbangan dalam negeri dengan pangsa 24%. Namun, pemain baru Lion Air menjadi penantang yang luar biasa (23%), disusul Merpati (11%), dan Mandala (11%). Berbagai maskapai penerbangan lain memiliki sekitar sepertiga pasar.
Menurut hasil survei MRI, di antara 529 penumpang dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar pada Maret-Juni 2005 menunjukkan Garuda masih merupakan merek yang paling diingat (top of mind) sebesar 38%, disusul Lion Air (22%), Mandala (9%), Merpati (7%) dan Batavia Air (7%). Dari survei itu diperoleh pangsa merek (brand share) Garuda sebesar 28% dan disusul Lion Air (23%). Membandingkan Garuda dan Lion sungguh menarik. Garuda dipilih konsumen lebih karena alasan pelayanan, kenyamanan, rasa aman, merek dan ketersediaan rute. Sebaliknya, Lion Air dipilih oleh konsumennya lebih karena faktor harga, ketepatan waktu dan akses memperoleh tiket.
Sebagai merek yang paling lama berkiprah di Indonesia, Garuda memang memiliki asosiasi merek yang paling kuat. Lion Air belum bisa mengimbangi Garuda dalam hal ini, kecuali dalam aspek atribut harga tiket yang murah. Namun sebagai pendatang yang relatif baru, Lion Air patut diacungi jempol. Merek ini mengalahkan pemain lama lain seperti Mandala, Merpati dan Bouraq, serta pemain baru seperti Batavia, Adam dan Citilink.
Di benak penumpang, maskapai penerbangan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu pemain lama seperti Garuda, Merpati, dan Mandala; serta pemain baru seperti Lion Air, Jatayu, Adam Air, dan Batavia Air. Pemain lama memiliki citra dapat dipercaya, lebih prestisius, dan merek yang direkomendasi. Sementara pemain baru terutama dicirikan oleh harganya yang murah. Pemain baru, khususnya Batavia Air, juga dipersepsikan banyak beriklan dan berpromosi.
Melihat kecenderungan pertumbuhan arus penumpang penerbangan dalam negeri yang mulai menurun, industri penerbangan perlu memberikan rangsangan jika ingin pasar ini terus berkembang. Peluang pertumbuhan ini ada mengingat makin berkembangnya ekonomi daerah yang dipicu oleh otonomi daerah, dan adanya perubahan pada konsumen yang semakin sadar waktu. Pemerintah harus hati-hati dengan penetapan tarif dasar, karena faktor harga sangat menentukan pertumbuhan industri.
Mengingat tren pasar yang melemah, masing-masing pemain jelas harus semakin tajam dalam menetapkan segmen pasar dan positioning-nya. Beberapa kebutuhan konsumen utama yang teridentifikasi melalui penelitian ini harus digarap betul oleh para pemain, yaitu faktor keselamatan, harga, kondisi pesawat prima, ketepatan waktu, jadwal, kemudahan dan pelayanan membeli tiket, serta awak kabin yang ramah.

ya memnag perlu mental baru untuk merubah budaya-budaya lama yang kurang membangun di negeri in.
jadi untuk memperbaiki negeri ini,
mulailah dari generasi mudanya..
sejak kahir hingga dewasa sebagai pemegang kendali di masa yang akan datang,,
wah kenapa LION AIR dikonotasikan dengan ketepatan waktu ? kapan survey dilakukan? realitanya maskapai ini hanya ticket yang murah tapi ketepatan jauh dari harapan..