Yudy Rizard: Penggila Kristal dan Benda Antik
Menginjakkan kaki di kediaman Yudy Rizard tak ubahnya mengunjungi galeri. Rumah kuno bergaya arsitektur kolonial tahun 1958 tampak berdiri megah di Jalan Sampit, Surabaya. Di atas lahan 800 m2, rumah itu memiliki halaman luas. Si empunya rumah mendesain taman ala tropis pedesaan dengan aksen banyak gentong besar di sekitarnya. Pohon belimbing, kelapa dan pisang turut menambah keteduhan rumah yang banyak unsur kayu jatinya itu.
Masuk ke dalam rumah, aneka rupa kristal tergeletak di lantai dengan susunan yang rapi. Ruang tamu dan ruang tengah dipenuhi oleh 7 lemari hias. Setiap lemari memiliki empat lajur rak, setiap lajur lebarnya empat meter dan tingginya tiga meter. Rak ini dipajang dengan kristal, keramik serta piring antik berukuran kecil hingga besar. Sementara itu, dindingnya disesaki hiasan lukisan dan litos, sedangkan di atap rumah bergantungan lampu kristal nan mewah. “Awalnya saya koleksi benda-benda seni itu karena senang dan hobi saja,” ujar Head of Public Relations PT HM Sampoerna Tbk. ini.
Lelaki berdarah Belanda-Jawa-Arab ini memulai hobi koleksi benda seni dari kebiasaan mengumpulkan perangko, koin dan buku. Seiring berjalannya waktu dan rasa bosan yang menggayuti dirinya, hobi koleksi ketiga barang itu dihentikan. Lalu beralih ke koleksi kristal, lukisan, litos, serta keramik dan barang antik.
Yudy mengaku, mulanya ia menginginkan koleksi benda langka. Namun, cita-cita itu ditepis karena ia merasa terlambat. “Waktu itu semua orang rata-rata sudah demam koleksi benda antik. Akhirnya saya putuskan koleksi kristal saja. Siapa tahu 30-50 tahun ke depan, kristal ini akan menjadi barang langka yang diburu orang,” lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya itu mengenang.
Ketertarikannya pada kristal bermula semasa ia kuliah program master dan tinggal di Amsterdam. Ceritanya begini. Empat belas tahun silam tatkala ia jalan-jalan ke Bonn, Jerman, dan kebetulan saat mau pulang temannya memberi hadiah swarosky berbentuk kucing. Ia pun jatuh hati dan ingin melengkapinya dengan kristal berbentuk anjing, burung, ayam, monyet, angsa dan beberapa figur binatang lain.
Nah, kecintaan pada kristal makin bertambah ketika ia mudik liburan ke Surabaya. Ia kaget melihat antusiasme teman-teman kampungnya pada oleh-oleh kristal yang dibelinya. Beberapa waktu kemudian ia balik lagi liburan ke Eropa, tepatnya di Praha, Cekoslovakia. Betapa terkejutnya ia saat berada di jalan protokol Vaslave, Praha, berjajar toko kristal. Hasratnya untuk segera memborong kristal di Vaslave itu ditahan sang teman dan dianjurkan untuk langsung belanja di pabrik. Sebab, harganya lebih murah 20%-30%. Bisa ditebak, Yudy pun bernafsu memborong kristal. Padahal, untuk mengirim balik ke apartemennya di Belanda, ada ketentuan batas cukai nilainya maksimal 250 ribu gulden. Lantas ia berpikir keras bagaimana caranya agar kristal itu selamat hingga di Belanda.
Beruntunglah Yudy mempunyai kawan di KBRI Jerman yang tidak terkena aturan batasan bawa barang senilai 250 ribu gulden tadi. Melalui bantuan sang teman, Yudy mengirim kristalnya transit dulu ke Jerman. Karena jarak Jerman-Belanda dekat, maka kristal dari Jerman itu cukup diangkut dengan mobil yang lama perjalanan hanya memakan waktu 4-5 jam.
Kalau perburuan kristal Yudy ke Ceko cukup berliku untuk membawanya balik ke Belanda, tidak demikian halnya dengan keinginan untuk mengirimnya kembali dari Belanda ke Indonesia. “Kala itu saya datangi KBRI di Den Haag dan saya jelaskan kristal yang banyak ini bukan untuk bisnis, tapi personal. Dengan demikian tidak usah bayar pajak,” ujar lajang kelahiran Surabaya 19 November 1966 ini.
Kalau dihitung-hitung, jumlah item kristalnya sekarang mencapai 600 piecies. Bentuknya, berbagai binatang, buah, lampu, vas, mangkuk, tempat lilin, bunga, tempat foto, permen, asbak, botol wiski dan teko. Harganya mulai puluhan ribu hingga Rp 6 juta per unit. Menurut Yudy, harga kristal di Indonesia lebih tinggi 4-5 kali lipat dibanding beli langsung di Ceko.
Perihal kualitas kristal, tambah Yudy, tergantung jenisnya. Ada lima jenis kristal yang dimiliki Yudy: gurat 500 pk, gurat 1.000 pk (semakin banyak guratannya semakin bagus), beraneka boru (ada lapisan emas) dan swarosky. Dulu Yudy pernah terdaftar sebagai anggota kolektor swarosky Hong Kong. Lelaki yang pernah memenangkan Cak Suroboyo 1988 itu menambahkan, untuk membedakan jenis kristal asli dan palsu dapat diteliti dari tempelan stiker dan terdengar bunyi dengung saat dua kristal diadu.
Bagi Yudy, perawatan kristal tak terlalu rumit, dan tidak pula memerlukan biaya gede. Yang mesti diingat, membersihkan kristal harus dengan air bersih dan hangat, lalu disikat halus dan dicuci. Selanjutnya dijemur di bawah terik matahari agar sinarnya berkilau. Jadi, jangan mencuci kristal ketika hujan, dan tak boleh dilap karena akan menjadi kusam. Namun, ia membenarkan membersihkan kristal cukup menyita waktu. “Yang penting sabar dan telaten,” ungkapnya. Biasanya, perawatan kristal Yudy dipercayakan kepada empat pembantunya. Apa boleh buat, perlu waktu hampir satu bulan untuk membersihkan 28 lajur rak kristalnya itu.
Kendati kristal-kristal itu telah menjadi bagian hidup Yudy belasan tahun lamanya, ia tak keberatan untuk melepas, terutama jenis baru. “Maunya saya ya dijual semua, tapi orang kan hanya ingin membeli satu per satu. Kalau ada yang mau beli semua silakan. Harganya Rp 800 juta. Uang itu akan saya serahkan ke masjid dan anak yatim,” tutur pria yang tak mau hidupnya dikategorikan hedonis gara-gara mengoleksi benda seni bernilai tinggi itu.
Mengoleksi kristal, sejatinya juga bisa berfungsi sebagai ajang investasi. Harganya akan terkatrol, karena kian lama makin langka. “Harusnya memang begitu. Ada peningkatan nilai jika umur barang tua dan jarang,” timpal Yudy. Masalahnya, karakter jual-beli barang seni atau benda collectible tidak sama dengan barang pada umumnya. Dalam transaksi benda seni, harga tergantung ketertarikan peminat. Jadi, tidak ada patokan harga tertentu. Bila ada orang tergila-gila dengan barang seni yang diincar, barang koleksi itu pun harganya meroket.
Dari sisi komposisi koleksi benda collectible Yudy, kristal mendominasi 40%, sedangkan sisanya tersebar di lukisan, litos, keramik dan barang antik.
Lukisan dijadikan barang seni koleksi Yudy sejak tahun 1998. “Sejak saat itu saya suka goresan bergaya ekspresionisme dan naturalisme,” paparnya. Total lukisan yang dimiliki Yudy 120 unit, yang dipajang hanya 40 lukisan dengan harga hingga ratusan juta per unit. Menurutnya, secara berkala dalam beberapa bulan, ia menggilir pajangan lukisan di rumahnya.
Yudy tidak sembarangan memilih pelukis favoritnya. Ia hanya mau membeli lukisan yang dia kenal betul jiwa dan sosok sang pelukis. “Saya bisa mengenal diri pelukis dari lukisannya. Itu saya buktikan dengan kenal lahir-batin dengan para pelukis yang saya kagumi,” ia bertutur. Lukisan koleksi Yudy antara lain, goresan keluarga Affandi (Affandi, Kartika Affandi dan Rukmini), Cak Kandar (pelukis bulu burung dan minyak), Nyoman Gunarse, Amri Yahya, Maria Tjui, plus Mbah Masmundari (pelukis damar kurung/lampion).
Litos dilirik Yudy sebagai barang koleksinya yang ketiga. Ia mulai mengenal litos pada 2000. Litos adalah cetakan kuno yang dibuat pada abad ke-17 dan 18. Sama halnya dengan kristal, mula-mula ia tak tahu ihwal litos. Lagi-lagi pas berlibur di Amsterdam wawasannya bertambah. Di Negeri Bunga Tulip itu ia melihat banyak kertas kuno yang indah dan berkualitas.
Cetakan kuno itu bisa berupa koran, sketsa pakaian dari kerajaan Louis ke XIV dari Prancis, sketsa arsitektur rumah zaman baheula, dan peta. “Saya beli lumayan banyak karena benda antik itu di Belanda harganya murah,” ungkapnya sembari menyebut sebuah litos dibanderol tak kurang dari US$ 150.
Setiba di Surabaya, ia melihat rumahnya lebih keren setelah dihiasi dengan litos. Alhasil, ia pun makin bergariah berburu litos di dalam negeri. Lalu ia mencari berbagai cetakan kuno di Surabaya, kota-kota di Jawa dan beberapa pulau di Indonesia.
Jenis koleksi benda collectible Yudy lainnya adalah keramik dan barang antik. Kebiasaan ini dilakoni terhitung pada 2002. Ia mengumpulkan berbagai piring antik buatan abad ke-14. Untuk mendapatkannya, Yudy harus keluar-masuk rumah penduduk di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke, terutama ketika ia mendapat tugas kantor ke luar kota.
Total koleksi keramik dan barang antik Yudy tercatat 80-an jenis. Untuk piring keramik antik ada 38 buah. Yang lain berbentuk teko, mangkuk, guci, tempat sirih, vas, lampu teplok dari Belanda, kompas dari Myanmar, gilingan kopi dari Jerman, dan masih seabrek barang antik lainnya. Untuk keramik antik mulai dari peninggalan Dinasti Cing, Ming, serta Ming Batu. Harga beli benda koleksinya itu mulai dari ratusan ribu rupiah hinga Rp 3 juta per unit.
Yudy mengaku puas dengan barang seni koleksinya. Persoalan harganya tumbuh seiring berjalannya waktu, itu hanya implikasi dari kelangkaan barang. Yang pasti, ia menikmati hari-hari senggangnya dengan memandang dan merawat aneka rupa benda seni itu. Itulah sebabnya ia tak mau menghabiskan liburan akhir pekan di luar rumah.
Betul, koleksi benda collectible menyimpan potensi return tinggi. Akan tetapi, di balik itu pasti ada risikonya. Bukan mustahil barang itu cacat, rusak, bahkan raib. Jadi, untuk mengantisipasi risiko buruk, tidak ada salahnya benda-benda tersebut diasuransikan. “Sejak tahun 1998 semua benda seni yang saya koleksi diasuransikan dengan nilai pertanggungan Rp 2 miliar,” ujar Yudy.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.