Ikin Wirawan, Pengembang Aplikasi Kelas Dunia dari Bandung

Ikin Wirawan

~~

Saya ingin menjadikan Indonesia sebagai IT outsourcing hub seperti India.” Itulah mimpi Ikin Wirawan yang membuatnya pulang kampung untuk mendirikan perusahaan pengembang aplikasi bernama PT Walden Global Service (WGS) pada 2006. Sebelumnya, baru sekitar setahun lelaki asal Bandung ini menjadi web programmer di sebuah perusahaan Internet di Silicon Valley, Amerika Serikat, setelah ia menyelesaikan kuliah bidang ilmu komputer di Foothill College dan University of California, Berkeley.

Di masa awal pengembangan WGS, Ikin dibantu empat orang developer/programmer yang bekerja dari jam 10 malam hingga 6 pagi mengikuti waktu kerja di AS. Maklumlah, klien pertama yang menggunakan jasa WGS adalah perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya di Silicon Valley. “Mantan bos saya menerima tawaran jasa outsourcing dari saya. Jadi, perusahaan itu menjadi klien pertama WGS,” ungkap pria kelahiran 28 Desember 1982 ini seraya tertawa. Seiring bergulirnya waktu, bisnis WGS berkembang, dan sekarang tidak ada lagi tenaga pengembang WGS yang bekerja malam hari. “Saya jadi punya waktu untuk keluarga,” ujar Ikin.

Setelah WGS berkembang, beberapa klien dari kalangan digital start-up di Silicon Valley menjadi kliennya. Perkembangan itu tidak lepas dari keputusannya untuk fokus pada satu platform teknologi yang tengah hot saat itu, yakni Ruby on Rails – web development framework mutakhir yang dapat dipakai sehingga pengembang tidak perlu membangun situs web dari nol. “Memang banyak framework serupa, tapi Ruby on Rails merupakan yang terbaik untuk aplikasi web,” katanya.

Menurut rumusan Ikin, dengan fokus pada satu niche market, ia mampu memperoleh klien dari luar negeri yang membutuhkan skill khusus dalam teknologi tersebut. Ia mengandalkan pemasaran Internet sebagai senjata awalnya. Lalu, untuk mendatangkan pengunjung ke web, pihaknya menerapkan teknik seach engine optimation. Ia juga menilai, desain dan copywriting yang baik dapat melahirkan leads, dan closing technique yang tepat dapat mengonversi leads menjadi penjualan. “Proposisi nilai yang kami tawarkan adalah reliabilitas,” ia menegaskan.

Saat ini, WGS diperkuat sekitar 200 karyawan, yang mengelola 50 concurrent project (proyek yang dikelola berbarengan). Ikin mengaku WGS telah mengerjakan ratusan proyek dari kliennya di 23 negara di dunia. Ia mengklaim bisnisnya mampu tumbuh 50% setiap tahun.

Kebanyakan, WGS mengerjakan pengembangan aplikasi yang bersifat custom (sesuai dengan kebutuhan klien), mulai dari yang berbasis Ruby on Rails, sampai PHP, DotNet, Java, Android, iOS, dan sebagainya.

Selain memiliki banyak klien start-up digital di luar negeri, WGS juga memiliki klien dari kalangan korporasi/enterprise di Indonesia (lihat di situs www.wgs.co.id). Antara lain ada Nutrifood, Gramedia, Elnusa, dan sebagainya. Untuk klien enterprise, selain membuatkan aplikasi, WGS juga berperan sebagai konsultan IT development framework perusahaan tersebut. Misalnya, Nutrifood meminta jasa WGS membuatkan aplikasi untuk keperluan kampanye pemasaran, atau Gramedia membutuhkan online shop untuk penjualan buku elektroniknya.

Selain menerima order dari perusahaan, WGS juga mencoba membuat produk sendiri yang dilakukan sejak 2012. Produknya semacam ERP sederhana untuk UKM, dalam bentuk cloud computing untuk software, yang penggunaannya dengan membayar sekian ratus ribu per bulannya.

Ke depan, Ikin memiliki visi dapat menjadikan Indonesia sebagai IT outsourcing hub seperti India. “Ini memang masih jauh, tapi yang pasti kami harus punya mimpi dan melangkah sedikit demi sedikit ke arah sana,” katanya. Ia membandingkan Indonesia yang kalah jauh dari Vietnam dalam hal jasa alih daya TI. Vietnam sudah memiliki sekitar 14 ribu orang yang bekerja sebagai tenaga alih daya di bidang TI ini, jauh lebih banyak dibanding Indonesia. Ikin sendiri mengklaim WGS merupakan perusahaan outsourcing TI di Tanah Air yang paling banyak mempekerjakan pegawai. “Tahun depan kami berkembang menjadi sekitar 300 karyawan dan kami akan segera menempati lahan dan gedung kantor baru yang cukup besar di Bandung,” katanya dengan semringah.

A. Mohammad B.S. & Denoan Rinaldi

Riset: Adinda Khalil

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Lewat Bebemama, Nutricia Masuk ke Pasar Susu Ibu Hamil Segmen Menengah

Setelah sukses dengan dua produk susu bayi yakni Bebelac dan Nutrilon, PT Nutricia Indonesia Sejahtera mulai akhir November 2013 ini...

Close