Jarvis Store, Pelaku di Balik Menjamurnya Toko Online

jarvis-store-founder-img-20161031-wa0003

Sekarang eranya toko online, tidak sedikit yang berjualan produk dan jasa lewat toko online. Hal ini kemudian yang ditangkap Frianto Moerdowo (25) bersama dua rekannya Kadek Agus Yusida (25) dan Putu Gusindra Divanatha (25) untuk membuat bisnis jasa pembuatan toko online, Jarvis Store.

Tiga anak muda ini bertemu saat kuliah di HELP University Malaysia. Mereka punya passion yang sama yakni dunia digital. Frianto yang kini menjabat sebagai CEO Jarvis Store, mengisahkan, mereka mulanya hanya menerima pesanan dari beberapa perusahaan untuk dibuatkan website-nya. “Waktu itu kami masih kuliah, jadi dijalani sebagai freelancer saja,” kenang Frianto.

Seiring berjalannya waktu, pesanan untuk dibuatkan website dan toko online makin banyak, akhirnya mereka mulai berpikir untuk menekuninya menjadi sebuah bisnis.  “Modal awalnya Rp30 juta,” ungkap Frianto. Selepas lulus kuliah, akhir tahun 2013, mereka lalu kembali ke Tanah Air, tepatnya di Denpasar, Bali. Ketiganya lalu mencoba menawarkan secara resmi jasanya di sebuah mall di sana. Tak disangka, Jarvis Store mendapatkan klien cukup banyak, umumnya adalah para pelaku UMKM yang minta dibuatkan toko online.

Awal 2014, Jarvis Store mengikuti program inkubasi, Indigo Inkubator yang diselenggarakan oleh PT Telkom Indonesia. Dari program tersebut, Jarvis Store kemudian mendapatkan investasi pertamanya. Tak hanya Indigo Inkubator, tiga sekawan tersebut juga mengikuti Launchpad Accelerator 2 yang diselenggarakan oleh Google di Sillicon Valley, Amerika Serikat.

Lulus dari dua sekolah 'startup' itu, Jarvis Store semakin mantap menjalankan bisnis. “Sebelumnya kami tidak begitu mengerti bisnis, karena kami bertiga latar belakangnya orang Teknik Informatika, bukan bisnis,” ujar Frianto. Ia mengaku banyak ilmu yang bisa langsung diaplikasikan dalam usaha startup seperti Jarvis Store, antara lain manajemen tim, sistem perekrutan, pengembangan bisnis, hingga hal-hal teknis semacam user experience, user interface dan audience validation.

Pria yang akrab disapa Totok itu menjelaskan, Jarvis Store menawarkan jasa pembuatan toko online yan berbeda dengan kebanyakan jasa serupa. Pertama, mereka sudah menyediakan template, ada lebih dari 50 template, sehingga calon pelanggan tinggal memilih, kedua, proses pembuatanya hanya memakan waktu 3 menit, sangat singkat jika dibandingkan dengan developer lainnya yang rata-rata memakan waktu hingga beberapa hari. Ketiga, paket ditawarkan dengan harga yang relatif murah sehingga terjangkau untuk para pelaku UMKM dan pebisnis yang baru mau memulai usahanya lewat toko online. Keempat, Jarvis Store juga menyediakan aplikasi yang ramah dengan gawai mobile, sehingga si pengguna dapat memonitor tokonya lewat telepon pintarnya kapan pun dan dari mana pun. Untuk melengkapi layanannya, Jarvis Store juga bekerja sama dengan perusahaan penyedia payment gateway seperti Doku, Paypal, perbankan dan juga jasa logistik.

Kini, Jarvis Store telah membuatkan toko online untuk 30 ribu kliennya yang seluruhnya adalah pelaku UMKM. Ke depan, Totok mengaku, timnya mematok target melayani 500 ribu toko online hingga tahun 2018 nanti. Untuk mencapai target tersebut, tim Jarvis Store kini gencar berkeliling ke seluruh Indonesia mulai dari kota besar sampai ke kota kabupaten.

“Tahun ini kami sudah keliling ke 60 kota dan tahun depan ada 600 kota yang sudah masuk daftar kota yang akan kami datangi,” ujar Totok penuh semangat. Menurutnya, strategi jemput bola tersebut lebih tepat sasaran, karena mereka bisa bertemu langsung calon pelanggan dan mengedukasi mereka mengenai membangun dan mengelola toko online.

Tak hanya itu, ke depannya, Jarvis Store juga akan melebarkan saya bisnisnya. "Masih di bisnis platform untuk kebutuhan lainnya bukan untuk toko online,” ujar Totok yang masih enggan membuka agendanya itu. Mereka juga mulai memberikan layanan tambahan seperti perawatan toko online tetapi bagi klien yang skala bisnisnya sudah besar, “Ada lebih dari 30 ribu toko kami tidak bisa menangani semuanya, jadi kami akan layani bagi yang butuh biasanya yang skala bisnisnya sudah besar,” jelasnya.

Meski terlihat sangat prospektif, Totok mengaku bisnis ini tetap ada tantangannya. Layanan internet yang belum merata dan belum stabil dibeberapa daerah di luar pulau Jawa menjadi tantangan terbesar saat ini. Hal ini memengaruhi minat penjual dan pembeli di daerah-daerah untuk transaksi lewat online.

"Pembelian lewat online di beberapa daerah masih rendah, akibatnya pelaku usaha juga belum banyak yang mau membuka toko onlinenya,”ungkapnya. Oleh karena itu, strategi jemput bola dengan mendatangi langsung ke kota-kota di seluruh Indonesia juga menjadi ajang bagi Jarvis Store untuk mendedukasi masyarakat agar menjadi lebih familiar dengan toko online.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dari total startup yang lahir, 90 % dipastikan akan gugur ditengah jalan dan hanya 10 % yang akan bertahan hingga tumbuh besar. Totok mengakui ia dan rekan-rekannya di Jarvis Store sudah menyadar itu sejak semula, dan saat ini mereka tetap berusaha membangun bisnisnya sebaik mungkin .“Apakah nanti kami akan jadi yang 90% atau 10% yang terpenting saat ini kami mau menjalankan bisnis ini dengan fokus,” ungkapnya.

Tips dari Totok untuk para pemain startup khususnya bidang teknologi informasi adalah jangan berasumsi. Menurutnya, umumnya orang IT yang terjun ke bisnis menjalankan bisnis dengan asumsinya tanpa mengenali kebutuhan calon konsumennya terlebih dahulu. Akan lebih baik jika mereka melakukan audience validation sebelum mengembangkan produknya. “Kami pada mulanya membuat beragam fitur yang ternyata tidak dibutuhkan konsumen, akhirnya kami lakukan validasi audiens, dari sana kami mengetahui ternyata konsumen butuhnya fitur yang bahkan belum terpikirkan oleh kami,”jelasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)