Andreas Senjaya: iGrow, Pertanian Virtual dengan Hasil Nyata

Banyaknya petani yang kesulitan modal dan melimpahnya lahan menganggur di Indonesia membuat Andreas Senjaya dan kawan-kawan berpikir keras untuk mengatasi persoalan tersebut. Bersama mitranya, dia pun menciptakan iGrow Asia, platform online yang berupaya menghubungkan antarberbagai pihak dalam rantai pasokan pertanian. “Kami menghubungkan antara sponsor penanaman, petani, pemilik lahan, dan pembeli hasil penanaman dengan menggunakan teknologi cloud-based agricultural management software,” tutur Jay, panggilan akrab pria 27 tahun alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia itu.

Andreas SenjayaBerkat inovasi itu, iGrow diganjar juara pertama dalam berbagai ajang kompetisi bisnis digital. Bahkan, Jay yang diwawancara SWA melalui e-mail, kini tengah mengikuti kelas mentoring bisnis oleh pemodal ventura 500 startup di San Francisco, Amerika Serikat. Memang, Jay diundang khusus dalam sesi prestisius selama empat bulan itu berkat keberhasilan iGrow yang dibesutnya melalui perusahaan PT iGrow Resources Indonesia yang berkantor pusat di Jl. Ir. H. Juanda 43, Depok, Jawa Barat.

iGrow yang bisa diakses melalui www.igrow.asia didirikan pada akhir 2014. Saat ini, personel iGrow terdiri dari Muhaimin Iqbal selaku komisaris, Jay sebagai CEO, Jim Oklahoma selaku CBDO, dan Choirunnisa Humairo sebagai CFO.

Jay mengungkapkan, ide iGrow muncul dari Muhaimin Iqbal, komisarisnya. Sebagai pengusaha pertanian dan keuangan, Muhaimin memang memiliki jam terbang belasan tahun. Berangkat dari sana, Muhaimin mengeksekusi idenya melalui iGrow.

Jay berperan penting dalam membesut iGrow. Sebagai programmer, dia telah sukses mendirikan studio aplikasi mobile Badr Interactive bersama rekan-rekannya yang lain dan telah merilis lebih dari 150 produk teknologi. Kolaborasi antara pengusaha sektor riil dan ahli teknologi informasi seperti Jay membuat iGrow cepat berkembang.

Jay menuturkan, awalnya iGrow bergerak dari komunitas yang telah lama berinteraksi dengan pihaknya. Setelah sukses berjalan, ternyata model bisnis iGrow berkembang dengan sendirinya. “Tanpa usaha pemasaran berbayar sama sekali, saat ini kami telah mengelola lebih dari 800 ha penanaman di beberapa wilayah seperti Blitar, Tanjung Lesung dan Bogor.”

Model bisnis iGrow, disebutkan Jay, menguntungkan berbagai pihak yang terlibat. Bagi masyarakat yang hanya ingin menjadi investor bisa membeli paket benih tanamannya. Bagi petani yang tak memiliki lahan bisa menjadi pengelolanya. Sementara bagi pemilik lahan nganggur bisa menyewakan tanahnya. iGrow turut mengelola kelompok tani dan sekaligus melaporkan perkembangannya yang disertai foto secara berkala kepada investor.

Model bisnis tersebut memang sangat nyaman bagi kaum urban yang hendak berinvestasi di sektor pertanian. Ibarat kata, tanpa harus mengotori sepatu pun investor di kota-kota besar sudah bisa mencicipi sekaligus menikmati bisnis pertanian riil.

Investor bisa berinvestasi di berbagai paket investasi di bidang kacang tanah, kelengkeng, kurma,durian, pisang, jambu madu Deli, akar wangi dan alpukat. Nilai paket investasinya bervariasi, dari Rp 1,5 juta per unit investasi paket buah zaitun hingga Rp 14,9 juta per ha kacang tanah. Periode kontraknya bergantung pada lamanya masa tanam hingga menghasilkan. Karena itu, rentang kontrak investasinya sangat lebar, dari 6 bulan untuk kacang tanah hingga 18 tahun untuk durian. “Buat yang pertama kali, kami menawarkan penanaman bibit jangka pendek seperti kacang tanah, keuntungan penjualannya bisa diperoleh hanya dalam waktu 6 bulan,” tutur Jay.

Menurut Jay, sejak dirilis pada 2014, iGrow kini telah memiliki lebih dari 1.300 sponsor penanaman, 1.200 petani, 800 ha penanaman, dan 300 ton lebih hasil panen kacang tanah.

Jay dkk. pun aktif menyertakan bisnisnya ke berbagai kompetisi bisnis. Itu sebabnya, iGrow berhasil meraih juara satu kompetisi Startup Asia 2014 dan kompetisi Payment Dragons Den Asia iGrow 2015, serta juara kedua di kompetisi Startup Istanbul 2015. “Di tahun 2016 ini kami terpilih menjadi satu-satunya wakil dari Asia Tenggara di program akselerator bisnis yang diadakan di Amerika Serikat,” kata Jay yang tengah mengikuti program tersebut di AS.

Meskipun saat ini telah cukup berhasil, Jay mengaku pihaknya belum melakukan penggalangan dana untuk menambah permodalan iGrow. “Pada waktu yang tepat kami akan melakukan fundraising. Saat ini sudah ada beberapa pemodal ventura level internasional yang tertarik pada iGrow dan intensif berkomunikasi dengan kami selama kami berada di AS,” ungkap Jay yang berharap ke depan, iGrow bisa semakin bermanfaat bagi ketahanan pangan Indonesia, petani dan para investor.

Benny Kusbini, Ketua Dewan Hortikultura Nasional, menyatakan penghargaannya terhadap inovasi iGrow. “Sekecil apa pun inovasi anak negeri terkait dengan hortikultura, harus kami hargai. Apalagi jika goal-nya adalah kesejahteraan masyarakat dan petani,” katanya.

Benny melihat, produk pertanian Indonesia belum cukup kuat bersaing dengan produk negeri jiran seperti Thailand, karena sektor pertanian Indonesia belum fokus memproduksi buah unggulan. “Seperti di Belanda, mereka fokus pada penanaman tomat dan paprika, sehingga kedua tanaman itu bisa menjadi pengekspor terbesar di dunia. Nah, mudah-mudahan Andreas dan tim lewat iGrow Asia ini bisa mempertimbangkan permasalahan tersebut dalam proses inovasinya,” kata Benny berharap.

BOKS:

Prestasi Andreas Senjaya

dan iGrow:

  • Juara 2, Startup Istanbul 2015.

  • Merit Winner, Indonesia ICT Award, kategori Finance and SME Application, 2015.

  • Penghargaan Startup Teladan Depok, Depok ICT Award 2015.

  • Juara 1, Dragon’s Den Mobile Money Asia 2015.

  • Juara 1, Startup Arena, Startup Asia 2014.

  • Indonesia Youngster Inc. Startup Champion 2014 dari Majalah SWA.

  • Juara 1, Industry Creative Festival Kementerian Perindustrian Indonesia 2013.

  • Merit Winner, Indonesia ICT Award 2013, kategori Small Medium Enterprise Application.

  • Special Mention, Indonesia ICT Award 2013, kategori e-Inclusion and Social Entrepreneur Application.

  • Juara 2, Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia (2010).

  • Juara 1, Mahasiswa Berprestasi Fasilkom UI (2010).

 

Eddy Dwinanto Iskandar; Reportase: Syukron Ali

Riset: M. Khoirul Umam

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)