Anugerah Pakerti dkk. Dari Yogya Melejitkan Kosmetik

Meski baru berusia 23 tahun, Anugerah Pakerti memiliki bisnis kosmetik lokal bermerek Avoskin yang beromset ratusan juta rupiah per bulan. Pria lajang lulusan S-1 Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, ini mendirikan bisnisnya pada 2014, saat masih kuliah, bersama dua teman sekampusnya: Ahmad Ramadhan yang kini menjadi chief operating officer yang mengurusi logistik & inventori, dan Aris Nurul Huda yang menjabat chief information officer dan menangani bagian teknologi informasi.

Anugerah PakertiAnugerah, yang memegang 60% saham AVO Innovation & Technology (pemilik merek Avoskin), menjadi CEO serta menangani pemasaran dan pengembangan bisnis. Waktu itu modalnya berasal dari tabungan pribadinya sebesar Rp 90 juta, hasil bekerja sebagai agen properti beberapa tahun di Yogyakarta. “Kami ingin meng-empower wanita Indonesia. Melalui Avoskin, kami tidak hanya menyediakan produk tetapi juga inspirasi melalui E-Magazine,” katanya.

Untuk produksi, pihaknya berkerja sama dengan sebuah pabrik dengan sistem manufacturing setelah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Setelah seluruh persiapan matang, Avoskin diluncurkan pada Oktober 2014. Sistem penjualannya mengandalkan jaringan toko mitra serta situs webnya. “Saat konsumen membeli produk via website, di menu pembayaran ada pilihan COD (cash on delivery) atau transfer. Kalau konsumen memilih menu COD, mereka akan berhubungan langsung dengan reseller,” kata Anugerah menjelaskan.

Situs webnya juga digunakan Avoskin untuk melayani para reseller-nya. “Untuk mitra bisnis ini kami menyebutnya Avostore yang menjual di bawah Avoskin melalui e-commerce atau beauty store, standar pricing-nya kami yang menentukan. Hingga saat ini mitra kami sudah mencapai 50,” ungkap Anugerah.

Anak-anak muda itu menempuh strategi menggaet pelanggan yang berusia 18-26 tahun melalui situs web di www.avoskinbeauty.com. Di situs web tersebut, Anugerah menyediakan skin advisor yang memungkinkan pelanggan berkonsultasi untuk memilih salah satu dari 11 paket produk Avoskin yang sesuai dengan kondisi kulit mereka.

Paket yang disediakan terdiri dari rangkaian produk sabun wajah, krim pencerah, krim siang dan malam, dsb. “Semua sistem kami digital sehingga konsumen tidak perlu datang ke klinik. Kami ingin menyediakan perawatan wajah model baru, namun kami juga berusaha menjamin kualitas,” kata Anugerah yang membanderol harga produknya Rp 300 ribu per paket.

Demi menjamin kualitas, Anugerah membentuk tim R&D yang terdiri dari para ahli manufaktur dan farmasi. “Namun ke depan, kami akan membuka Avoskin House of Beauty yang berbentuk toko, sebagai etalase produk dan penggunaan skin advisor secara real-time,” ujar Anugerah yang kini mempekerjakan 12 karyawan di kantor pusat mereka di Kaliurang, Yogyakarta.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, Anugerah merasa sangat terbantu dalam melayani pelanggan. Bahkan, dalam beberapa waktu ke depan, ia berniat meluncurkan aplikasi di telepon pintar yang mampu mengecek kondisi kulit orang. “Kami belum bisa membocorkannya karena masih dalam tahap negosiasi, namun aplikasi ini menjadi salah satu produk baru yang akan kami luncurkan,” ungkapnya.

Anugerah dan kawan-kawan kini mampu menjual hingga 2.000 paket per bulan, atau tumbuh 10 kali lipat dibandingkan saat awal meluncurkan Avoskin. Omset sekitar Rp 500 juta pun berhasil diraihnya setiap bulan.

Selain berbisnis, Anugerah dkk. menyisihkan laba dan waktu mereka untuk menggelar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pada 2015, mereka memulai program CSR dengan membagikan sembilan bahan pokok kepada masyarakat di kawasan Gunung Kidul dan Kulonprogo, dua kantong kemiskinan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kini, CSR-nya akan diubah dengan pembagian buku kepada anak-anak di sana. “Sumbangan ini sendiri berasal dari hasil penjualan yang kami sisihkan sebesar 2%,” kata Anugerah.

Ke depan, dia berniat meluncurkan produk terbaru, Avoskin Organic. Untuk mewujudkannya, pihaknya bekerja sama dengan para petani di Bantul yang akan menyediakan bahan bakunya. “Rencananya kami ingin menerapkan trade fair dengan petani, kami ingin agar bisnis yang kami jalankan tidak merusak bumi dan ekosistem. Kami juga berencana menggunakan produk kaca, sehingga konsumen bisa membeli produk isi ulang dan menggunakan botol Avoskin bekas yang sudah dibersihkan,” ungkap Anugerah.(*)

 

Buatkan Forum bagi Pelanggan Loyal

Istijanto Oei, dosen dan pengamat bisnis dari Prasetiya Mulya Business School, mengapresiasi langkah Avoskin yang didirikan Anugerah Pakerti dkk. menggunakan Internet sebagai kanal pemasarannya. Saat ini bisnis secara online memang sedang panas-panasnya, ditunjang harga gawai yang kian terjangkau. Alhasil, imbuh dia, anak muda yang tidak suka ribet, melek teknologi, dan memiliki sumber keuangan relatif terbatas semakin dimudahkan untuk berbisnis lewat Internet.

Berbagai sarana promosi gratisan pun bertebaran seperti blogspot, memasarkan bisnis melalui forum online, aplikasi ataupun media sosial. Bisnis startup melalui online sangat saya sarankan bagi anak muda karena relatif mudah dibanding bisnis konvensional yang susah dari segi entry dan exit-nya,” kata Istijanto.

Meski demikian, Istijanto menyarankan agar Anugerah terus memupuk kepercayaan konsumen serta meningkatkan kualitas produk dan layanan pascajualnya. Terlebih, pelanggan yang bersedia membeli secara online telah memberikan kepercayaan yang lebih besar karena telah berani membeli kucing dalam karung”.

Selain itu, Anugerah juga disarankan memperbarui konten online-nya dan menciptakan berbagai diferensiasi anyar. Avoskin bisa menampilkan testimoni nyata dari pelanggan beserta link-nya ke grup agar penjualannya kian melejit. “Jadi, semacam forum pelanggan yang loyal dan terus bertambah dengan lebih mendayagunakan aspek viral media sosial,” kata Istijanto.(*)

Aulia Dhetira dan Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Hana Bilqisthi

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)