Limakilo.id Bikin Petani Bawang Merah Happy | SWA.co.id

Limakilo.id Bikin Petani Bawang Merah Happy

doc. Limakilo.id

doc. Limakilo.id

Bawang bisa dibilang komoditas penting dalam rantai makanan di Indonesia. Konsumsi komoditas bawang merah melayani area Jakarta saja sekitar 700 – 1.000 ton per bulan atau 2 persen dari total konsumsi nasional. Namun, harganya cenderung tidak stabil. Selain karena komoditas ini sangat rentan iklim yang tidak stabil, juga harganya kerap jadi permainan para tengkulak. Inilah yang mendorong tiga anak muda lulusan STT Telkom Bandung membuat bisnis yang bisa membantu para petani bawang ini. Di bawah bendera PT Limakilo Maju Bersama Petani, Arief Setiawan, Walesa Danto dan Lisa Wulandari membuat aplikasi yang Limakilo.id.

Limakilo.id adalah aplikasi untuk membeli produk pertanian secara langsung dari petani. Melalui layanan ini, Limakilo berharap dapat mengefisienkan pola distribusi produk pertanian karena pembeli dan petani bisa dipertemukan langsung. Walesa Danto, Co­Founder dari Limakilo, mengatakan, Limakilo ingin menjawab masalah ketidakstabilan harga komoditas di Indonesia. Kini, baik petani maupun konsumen dirugikan dengan banyaknya tengkulak di antara keduanya. “Yang terjadi saat ini adalah harga di petani sangat rendah sedangkan di level konsumen harganya terus naik. Untuk komoditas bawang merah misalnya, kenaikan harga dari petani ke konsumen bisa mencapai 80%,” ujar Walesa. Limakilo.id memiliki visi untuk mengembangkan aplikasi Limakilo dari sebuah startup technology menjadi social enterprise yang bisa memberi manfaat kepada petani melalui bisnisnya.

Aplikasi ini dibangun pada Agustus 2015 saat mereka mengikuti kompetisi Hackathon Merdeka 1.0 dengan tema pangan. Ternyata ide ini membuahkan kebahagiaan bagi lebih dari 15 petani mitra mereka di Brebes, Bandung dan Yogja. Mereka bisa memberikan keuntungan lebih tinggi kepada petani dibanding harga dari tengkulak. “Harga jual kami ke konsumen pun lebih murah 10-15 persen dari pasar,” ujar Lisa.

Jadi aplikasi Limakilo.id terwujud dan berkembang hingga kini setelah bersama pemenang Hackathon Merdeka 1.0 presentasi di hadapan Presiden Jokowi pada 2015. Lisa dan kawan-kawan mendekati petani bawang di Brebes untuk menjadi petani model. Tidak mudah mendekati petani dirasakan mereka saat itu. Pendekatan dan penjelasan harus dilakukan terus menerus, terlebih para petani juga jauh dari pemahaman teknologi. Jalan baru terbuka setelah salah satu petani, Syamsul Huda bersedia menjadi mitra mereka. Selain kesulitan mencari mitra petani, modal adalah tantangan lain yang harus mereka cari. “Kami dapat modal dari pinjaman teman, relasi dan sodara,” tutur Lisa.

Tantangan berikutnya, pemasaran, digunakanlah media sosial dan pemasaran dari mulut ke mulut untuk mendapatkan order melalui aplikasi tersebut. “Kami menggunakan hastag #yukbelanjakepetani, order pertama 700 kg bawang merah,” katanya. Aplikasi Limakilo.id bertujuan jangka panjang, bukan sekadar aplikasi semata, maka itu branding dan packaging penting buat produk komoditas ini. Maka itu Lisa dan kawan-kawan pun melakukan edukasi pada petani untuk bisa mengemas produknya lebih bagus seperti yang dijual di pasar-pasar modern.

Dipilihnya bawang merah sebagai fokus jualan mereka karena Indonesia memiliki sentra-sentra pertanian bawang merah. Setiap sentra memiliki karakteristik bawang sendiri-sendiri. Dan problem mereka pada rantai distribusi yang panjang. Bayangkan ada 7 mata rantai pemasaran dengan margin distribusi 80 persen. Inilah yang membuat harga bawang tidak stabil. Dan petani selalu dipihak yang tidak diuntungkan. Maka itu melalui aplikasi Limakilo.id bisa memangkas rantai distribusi yang panjang itu. Harga bawang dari petani sekarang misalnya hanya Rp 17 ribu per kilo, tapi dipasar bisa mencapai Rp 32-35 ribu. Dengan aplikasi ini diharapkan middle man bisa dihilangkan, sehingga petani menjadi yang diuntungkan dan konsumen tahu darimana asal bawang yang didapatnya. “Agar skala ekonomis biaya logistik bisa tercapai, kami harus mengumpulkan order eceran dari konsumen yang membeli minimal 2,5 kg melalui aplikasi hingga 100 kg,” kata Lisa.

Hingga kini ratusan konsumen per minggu order bawang melalui aplikasi ini. Diharapkan ke depan makin banyak petani bisa bergabung. Aplikasi Limakilo.id selain menjadi pemenang di Hackathon 1.0 juga Top 10 Indonesia Next App 2.0, Top 10 Mandiri Hackaton dan finalis Wira usaha Muda Mandiri. Tahun lalu mereka mendapat kucuran modal dari East Ventures. Dana yang tidak disebutkan angkanya itu digunakan untuk mencapai target kemitraan dengan menjalin kerja sama dengan gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan melakukan pelatihan kepada petani yang tergabung dalam mitra Gapoktan itu.

“Sejak dari Hackathon 2015, saya melihat tim Limakilo berkembang dengan positif. Selain seluruh tim berkomitmen full time di perusahaan ini, mereka juga melakukan eksekusi yang cepat dan agile. Sejalan dengan visi dan focus East Ventures untuk berinvestasi di kategori agriculture technology dan pertanian, tim Limakilo juga membuktikan kalau ada juga peserta Hackathon yang bisa menjadi bisnis yang sustainable and investible,” ujar Willson Cuaca, Managing Partner East Ventures. Limakilo.id terus mencari jalan memangkas rantai distribusi yang lebih efisien agar keuntungan yang bisa diberikan ke petani bisa lebih besar lagi.

Editor : Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Toyota Bidik Kenaikan Penjualan 5%

Meski penjualan otomotif pada 2016 masih lesu, PT Toyota Astra Motor (TAM) justru menaikkan target penjualan sebesar 3-5 persen untuk...

Close