Yansen Kanto, Mitra Pemerintah Lahirkan 1.000 Startup Digital

Menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia, itulah visi yang telah dideklarasikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Silicon Valley, California, Amerika Serikat pada pertengahan Februari tahun ini. Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) telah menciptakan peta jalan e-commerce dan ekosistem industri teknologi digital di Indonesia yang terus berkembang.

Sejalan dengan visi tersebut, Menkominfo bersama PT Kibar Kreasi, konsultan teknologi informasi yang didirikan Yansen Kanto, menginisiasi Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. Tujuannya adalah melahirkan perusahaan rintisan yang berkualitas dan memberikan dampak positif dengan menyelesaikan permasalahan besar di Indonesia. Gerakan ini ditargetkan dapat menciptakan 1.000 startup dengan total valuasi bisnis senilai US$ 10 miliar pada 2020.

Yasen Kamto Yansen Kamto, Pendiri Kibar Kreasi

Melakukan perubahan sesungguhnya, menciptakan dampak yang sebesar-besarnya, manusia seperti saya ini yang dipercaya Presiden untuk mengubah bangsa ini lewat anak-anak muda. Ini yang membedakan saya dari yang lain. Dan, itu yang membuat saya diundang ke Brasil dan Silicon Valley untuk menjadi pembicara,” ujar Yansen memberi alasan mengapa dirinya dipercaya Pemerintah untuk membuat 1.000 startup digital.

Ia pun dalam beberapa kesempatan kerap bertemu dengan Rudiantara, Menteri Kominfo. “Kemudian, beliau meminta saya membuat di 50 kota. Namun, saat itu saya bilang tidak bisa, melainkan hanya bisa 10 kota dengan hitungan 1.000 startup digital hingga tahun 2020,” ujar alumni Jurusan Pemasaran University of Technology Sydney ini.

Seribu startup dalam lima tahun berarti setahun 200 startup. Dibagi 10 kota --Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Bali, Makassar dan Pontianak-- dalam setahun melahirkan 20 startup di satu kota. “Menurut saya, itu sedikit sekali. Jumlah 1.000 startup ini akan menjadi penyebar virus di Indonesia dan 1.000 ini akan menjadi contoh,” kata Yansen.

Bagaimana tahapannya mewujudkan 1.000 startup? “Kami membuat seminar dalam satu tahun sebanyak empat kali di setiap kota dengan peserta 200 orang setiap seminar. Jadi, dalam setahun ada 800 orang yang mengikuti seminar,” ujarnya. Tahapan selanjutnya, 400 orang akan masuk ke workshop, lalu masuk tahapan hackaton 200 orang. Kemudian disaring lagi sehingga masuk ke bootcamp hanya 100 orang. Lalu, ada tahap inkubasi yang hanya diikuti 50 peserta. Dan, terakhir yang dianggap lulus hanya 20 peserta. “Jadi tahapannya ada lima, yakni Ignition, Workshop, Hackaton, Bootcamp dan Inkubasi,katanya merangkum.

Di Indonesia, tantangannya bukan hanya ekosistem tetapi juga support system, mental, serta pola pikir yang harus diubah. Dan, hal itulah yang dianggap paling sulit sehingga solusinya harus dibuat berdasarkan tahapan. Jadi, dari satu sampai lima tahapan mereka harus lulus. “Saya bilang ke Pak Rudiantara, fokusnya adalah pembinaan, bukan funding, karena talent dan ekosistemnya belum matang,” ujar pendiri Indonesia Google Business Group ini.

Jadi, dukungan pemerintah terhadap 1.000 startup ini hanya dalam bentuk endorsement. “Pemerintah mau kasih uang, saya tidak mau. Kenapa pemerintah harus kasih uang? Pemerintah itu begitu supportive, mereka itu mau belajar serta mau mendengarkan dan melibatkan pelakunya. Itu menurut saya lebih dari cukup,” ucapnya. Ia mengaku tidak suka kalau startup dibantu pendanaannya oleh pemerintah. Alasannya, para startup itu adalah pengusaha yang tidak perlu meminta bantuan kepada pemerintah. “Yang saya lakukan bukan hanya memotivasi para startup, tetapi saya juga turun ke bawah sehingga saya tahu persis kejadian di 10 kota tersebut karena setiap daerah berbeda-berbeda karakternya,” katanya.

Pria 35 tahun ini memang berpengalaman di dunia inkubasi startup melalui Kibar yang ia dirikan pada November 2011. Kibar terbilang getol membangun ekosistem startup digital di Indonesia. Dalam aksinya, Kibar kerap menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya, inkubator startup Innovative Academy di Yogyakarta yang menggandeng Universitas Gajah Mada. Kemudian, di Institut Teknologi Bandung. Dan, di Surabaya, bekerja sama dengan wali kotanya, Tri Rismaharini, juga membuat inkubator startup.

Saya juga pernah terlibat di kampanyenya pembalap Rio Haryanto untuk kejayaan Indonesia di pentas dunia. Itulah yang mendasari saya membantu anak Indonesia yang mempunyai potensi dengan menggunakan teknologi digital yang akhirnya Merah Putih bisa berkibar,” kata mantan Account Director perusahaan periklanan Arc Worldwide itu.

Yansen melihat di Indonesia talent-nya banyak dan hebat-hebat sehingga peluang bisnis dan pasarnya di negeri ini sangat besar. “Tetapi kenapa tidak maju-maju, karena kita selalu hanya jadi tukang, kuli. Itu yang mau saya ubah,” ujarnya menegaskan. (Riset: Hana Bilqisthi)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)