Kenapa Citilink Fokus Digital Marketing?

Maskapai berbiaya murah (LCC), PT Citilink Indonesia punya resep jitu agar lebih dekat dengan para pelangganya. Mereka memilih strategi marketing lewat media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan juga YouTube.

“Citilink fokus pada segmen usia 20-40 tahun, yang muda atau berjiwa muda. Ini sesuai tagline: Young, Fun, and Dynamic. Kami menonjol di media-media sosial. Pilihan endorser pun mewakili tagline tersebut seperti Nidji dan Ran,” kata Albert Burhan, Direktur Utama Citilink.

Menurut dia, media sosial lebih tepat dan lebih kuat untuk berkomunikasi dengan pelanggan yang merupakan segmen muda. Harapannya, promosi dan pemasaran lebih tepat sasaran. Meski begitu, mereka juga berkampanye lewat iklan TV dan billboard meski tidak dalam jumlah besar.

“Kami lebih banyak menggunakan digital marketing untuk membangun imej merek penerbangan ini agar tetap di atas di pasar LCC. Strategi pemasaran didorong mulai dari aktual produk yang ditawarkan selama ini, seperti on time performance (OTP) yang bagus,” katanya.

Albert Albert Burhan, Direktur Utama Citilink

Segmen muda yang akrab dengan gadget ini juga yang mendorong, anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ini untuk menggandeng e-commerce online ticketing seperti Traveloka dan Tiket.com. Mereka juga menjalin kerjasama distribusi tiket dengan Alfamart dan Indomaret, serta Carrefour, Kantor Pos, dan 7-Eleven.

“Citilink sebagai LCC, membutuhkan proses yang cepat sehingga harus didukung IT yang mumpuni. Pembelian tiket, check-in, booking, semua bisa di aplikasi. Kini, kami punya 32 ribu outlet sales di seluruh Indonesia,” kata Burhan.

Dia menjelaskan Citilink memegang teguh tiga prinsip dalam membangun bisnis yakni simple, on time, dan convenience. Di dalam perusahaan, tiap unit harus menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Untuk penumpang, pesawat juga harus on time.

“Begitu juga dengan convenience, harus dirasakan bukan saja oleh penumpang tapi juga karyawan Citilink. Setiap proses harus simpel, baik di perusahaan maupun untuk penumpang. Struktur organisasi perusahaan dibuat sederhana untuk membangun budaya inovasi,” kata dia.

Inovasi adalah syarat sebuah merek lokal bisa lebih bernilai. Tapi, tak kalah penting adalah implementasi ide-ide segar yang muncul. Ide biasa harus bisa diterapkan dalam waktu sepekan. Sementara, implementasi ide strategis bisa memakan waktu lebih lama sekitar tiga bulan.

“Dengan begitu, tidak sekadar mentok di ide, tapi juga implementasinya. Saat ini OTP kami rata-rata mencapai 80%, load seat factor 82-83%, dengan jumlah pesawat Airbus A320 berjumlah 37 unit,” ujarnya. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)