Hartono Istana Teknologi (Polytron), Konsentrasi Besarkan Pasar Ekspor

Tekno Wibowo, Direktur Pemasaran PT Hartono Istana Teknologi (HIT)
Tekno Wibowo, Direktur Pemasaran PT Hartono Istana Teknologi (HIT)

Rasanya keluarga di Indonesia sudah cukup familier dengan merek Polytron. Produknya adalah peralatan elektronik rumah tangga. Jangan dikira ini merek asing. Merek ini dikembangkan perusahaan lokal bernama PT Hartono Istana Teknologi (HIT), yang didirikan pada 1975.

Selain cukup menguasai pasar elektronik lokal, produk Polytron pun diekspor, yakni lemari es dan TV LED. Namun, menurut Tekno Wibowo, Direktur Pemasaran HIT, saat ini kondisi pasar sedang tidak bagus, sehingga ada beberapa negara yang tidak lagi membeli. Ia mencontohkan dulu juga mengekspor ke Irak, tetapi saat ini situasi internalnya sedang bermasalah. “Tahun ini, kami hanya ekspor ke 12 negara seperti India, Myanmar, dan Bangladesh, padahal tahun-tahun sebelumnya lebih banyak,” kata Tekno.

Yang menjanjikan, menurutnya, adalah pasar India, yang sebenarnya industri dalam negerinya diproteksi cukup ketat. Berkat adanya kesepakatan ASEAN-India Free Trade Area, Indonesia punya keunggulan dibandingkan China.

Tekno menyebutkan adanya sejumlah tantangan dan kendala dalam menggarap pasar ekspor. Program garansi produk TV LED yang ampuh di pasar lokal tidak bisa diberlakukan, karena pembeli cenderung memedulikan faktor harga. Mereka juga biasanya menginginkan waktu pengiriman produk yang lebih cepat, padahal sistem rantai pasok China lebih bagus.

Kendala juga dihadapi HIT dalam hal penyediaan panel LED. Pasalnya, di Indonesia tidak ada pabrik panel LED. “Terpaksa kami memakai panel LED dari Malaysia, padahal harganya belum tentu murah,” ujar Tekno.

Tantangan lain adalah regulasi di pasar ekspor. Sebagai contoh, untuk bisa memasuki pasar India, produk elektronik Indonesia harus lolos syarat energy labelling. “Di India, ukuran energy labelling-nya lebih tinggi dibandingkan Indonesia, karena harga listriknya jauh lebih mahal,” ungkap Tekno.

Masalah regulasi lainnya adalah penerapan standardisasi. Contohnya, pasar Timur Tengah menerapkan standar Eropa. Lazimnya, sertifikasi itu berlaku selama produk itu masih ada dan tidak ada perubahan. “Tapi, sekarang mereka meminta setiap tiga tahun kami harus memperbarui sertifikasi tersebut.”

Lantas, apa yang dilakukan HIT? Menurut Tekno, kalau ekonomi global lagi sulit, menawarkan barang apa pun juga jadi sulit. “Ini bukan waktu yang tepat untuk membuka pasar lagi, karena kami sudah coba beberapa kali memang sulit,” katanya. Karena itu, HIT lebih memilih berkonsentrasi di negara yang pasarnya sudah ada dan kemudian membesarkannya. “Dengan strategi tersebut, kami masih bisa tumbuh, meskipun jumlah pelanggannya menurun.”

Dari total produksi, ekspor HIT masih di bawah 10%. “Tahun ini, penjualan kami masih tumbuh sekitar 10% untuk keseluruhan produk,” katanya mengklaim. Untuk tahun 2020, mulanya HIT menargetkan pertumbuhan 20%, tetapi kemudian dikoreksi karena merasa sulit melihat kondisi seperti sekarang. Kecuali, kata Tekno, pemerintah punya langkah terobosan. Ia mencontohkan China yang menerapkan pemotongan pajak ekspor (tax rebate) 2%, sehingga pelaku industri terpicu untuk melakukan ekspor.

Meski kondisi masih sulit, Tekno melihat potensi pasar ekspor elektronik masih ada. “Karena, kami memiliki kemampuan membuat produk yang memiliki kelebihan tertentu,” ujarnya. Ia pun optimistis tahun depan penjualan ekspor produk Polytron masih bisa tumbuh dengan pelanggan yang ada. “Tahun ini customer value-nya pun sudah tumbuh 20%, sehingga tahun depan kami optimistis bisa tumbuh,” ujarnya. Alasan lainnya, selama ini ekspor Polytron masih terkonsentrasi di produk lemari es, sehingga masih ada peluang besar di produk TV LED.

Dari segi produk, Tekno juga melihat potensi ekspor untuk produk audio. Alasannya, pemain Indonesia punya keahlian membuat kualitas suara tertentu. Adapun untuk produk AC sudah sulit, karena semua merek AC di dunia, pabriknya sudah ada di China.

Tekno mengingatkan, peluang peningkatan ekspor produk elektronik hanya terjadi bila ada kerjasama yang lebih baik antara pelaku industri dan pemerintah. “Selain itu, kita juga harus pintar-pintar memilih pasarnya dan mencari peluang untuk dapat memasok produk kita,” katanya menandaskan. (*)

Joko Sugiarsono dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)