Sarana Multi Infrastruktur, Terus Genjot Komitmen Hijau

Mohammad Ghozie Indra Dalel (tengah), Direktur Keuangan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)/SMI
Mohammad Ghozie Indra Dalel (tengah), Direktur Keuangan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)/SMI

Berdiri pada 2009 sebagai lembaga keuangan nonbank untuk pembiayaan infrastruktur, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)/SMI mempunyai tiga pilar bisnis: pembiayaan dan investasi, jasa konsultasi, serta pengembangan proyek.

Dalam menjalankan bisnisnya tersebut, SMI sangat memperhatikan aspek green. Mohammad Ghozie Indra Dalel, Direktur Keuangan SMI, mengatakan bahwa perusahaannya menerapkan konsep green dalam menjalankan bisnisnya itu lewat Green Funding, Green Financing, Green Principle & Program, dan Green Partnership.

Dalam hal green funding, SMI adalah lembaga pertama yang menerbitkan Corporate Green Bond di Indonesia. “Kami adalah korporasi pertama yang menerbitkan Green Bond dengan nominal Rp 500 miliar dan total fasilitas Rp 3 triliun. Kami juga perusahaan pertama yang menerbitkan Green Bond Impact Report di Indonesia,” Ghozie menjelaskan.

Dana dari penerbitan Green Bond Tahap I telah digunakan untuk pembiayaan tiga proyek senilai Rp 499,8 miliar. Proyek-proyek ini diberikan dengan memperhitungkan sumbangan pada lingkungan. Proyek itu adalah LRT Jabodebek (target penghematan energi 1.537 TJ per setengah tahun dan emisi GRK 72.357 ton CO2e per setengah tahun), PLTM Lubuk Gadang (target emisi GRK yang dapat dihindari sebesar 19.320 ton CO2e per setengah tahun), dan PLTM Tunggang Bengkulu (target emisi GRK yang dapat dihindari sebesar 24.784 ton CO2e per setengah tahun). Sebagai informasi, GRK adalah gas rumah kaca. Adapun CO2e (Carbone Dioxide Equivalent) merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan semua gas GRK dengan satuan yang sama.

Untuk green financing, dalam tubuh SMI telah dibentuk Divisi Pembiayaan Berkelanjutan guna membiayai proyek energi terbarukan. Portofolionya antara lain pembangkit listrik minihidro Air Putih, pembangkit listrik biomass PTPN XI, efisiensi energi lampu jalan di Kota Surakarta, dan pembangkit listrik tenaga surya Sumba Timur.

Di luar itu, sejak Oktober 2015 mereka juga menjalin kerjasama dengan AFD (Agence Française de Développement) untuk pembiayaan energi terbarukan. Lalu, mengelola Geothermal Fund dari Pusat Investasi Pemerintah dengan total dana Rp 3,1 triliun sejak 2015, dan mengelola dana hibah World Bank (CTF and GEF Fund) pada 2016 berjumlah US$ 55,25 juta.

Fokus pada bisnis pembiayaan tidak membuat SMI abai terhadap sektor lingkungan. Sebagai bagian dari komitmen terhadap kelestarian lingkungan, selain mendirikan Divisi Pembiayaan Berkelanjutan, mereka juga mendirikan Divisi Evaluasi Lingkungan Sosial dan Jasa Konsultasi yang bertugas menerapkan standar lingkungan dan sosial kepada seluruh proyek infrastruktur yang didanai.

Yang pasti, SMI tidak begitu saja mendanai proyek. SMI memiliki environmental specialist dan social specialist untuk mengecek ke lapangan, dengan menggunakan perhitungan dampak dari standar Bank Dunia. Mereka juga punya Green Principle & Program. “SMI menerapkan prinsip-prinsip dalam Kerangka Kerja Pengelolaan Lingkungan dan Sosial. Prinsip ini tidak hanya dilaksanakan pada saat inisiasi pembiayaan proyek, namun juga dalam kegiatan monitoring dan pelaporan,” tutur Ghozie.

Mereka juga memiliki beberapa pedoman. Di antaranya, Environmental and Social Management System (ESMS) Korporasi, ESMS Proyek, Environmental and Social Safeguards Proyek Multilateral, serta Pengelolaan Keluhan Masyarakat Terdampak dan Kelompok Pemerhati.

Kemudian, terkait Green Partnership, SMI bersama Kementerian Keuangan berupaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pembentukan suatu platform penyediaan infrastruktur yang terintegrasi dengan nama SDG Indonesia One yang mengombinasikan dana publik dan privat melalui skema blended finance untuk disalurkan ke proyek-proyek infrastruktur yang berkaitan dengan pencapaian SDGs.

Hingga Juli 2019, SDG Indonesia One telah berhasil mendapatkan 30 mitra dengan komitmen sebesar Rp 2,46 triliun untuk membantu pembiayaan infrastruktur berkelanjutan. Uji coba pembangunan melalui platform ini adalah capacity building dan riset di bidang efisiensi energi, bekerjasama dengan Climate Policy Initiative.

Mengimplementasikan green commitment tersebut tidaklah mudah. Ghozie mengungkapkan, salah satu tantangannya adalah pengembang proyek yang tidak memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Untuk mengatasinya, SMI terus meyakinkan para mitranya dengan mengumpulkan serta menunjukkan contoh-contoh masalah di infrastruktur akibat tidak memperhatikan aspek green.

Kami tunjukkan kepada mereka jika Anda tidak melakukan ini, akan terjadi ini loh, yang bisa saja men-delay proyek ini, visibility project-nya terganggu, project cost-nya akan banyak. Kami membantu mereka di awal seperti medical check-up gratis untuk mengurangi risiko,” Ghozie menjelaskan. Intinya, SMI terus menggenjot komitmen hijaunya, termasuk dengan para mitra. Karena, hakikatnya, green iniatitive memang tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada kerjasama dengan berbagai pihak.

Eniya Listiani Dewi, Deputy Chairperson for Technology of Information, Energy, and Material BPPT, berpendapat hhwa penerapan konsep green SMI melalui green financing ini layak diapresiasi. Mendanai proyek green yang umumnya tidak bankable merupakan suatu keberanian bagi lembaga keuangan seperti SMI yang memiliki spirit dan target yang jelas. 

Saya tidak menyangka SMI telah mendanai ke semua green project. Biasanya green project seperti solar cell, geothermal, dan berbagai renewable energy company pasti akan cost-centered dan feasibility study-nya pun tidak bankable. Namun, tim SMI menjelaskan, meskipun tidak bankable, juga akan tetap mereka danai,” kata Eniya memuji. (*)

Yosa Maulana & Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)