Bank BJB, Perkuat Bisnis Berbasis Digital dan Dukungan Ekonomi Pedesaan

Gedung Bank BJB

Walaupun memiliki status sebagai bank pembangunan daerah (BPD), Bank BJB --nama resminya: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk.-- bisa dibilang telah mampu bersaing dengan bank-bank nasional. Setidaknya ini terlihat dari pemeringkatan Wealth Added Index (WAI) pada 2019: Bank BJB mampu mempertahankan posisinya dalam Top 20 (di peringkat 20) dengan nilai WAI Rp 8,62 triliun.

Meskipun turun dari posisi 14 pada tahun lalu (dengan nilai WAI Rp 10,5 triliun), pencapaian tersebut boleh dibilang masih mencerminkan kepiawaian perseroan dalam mengelola sumber daya modal perusahaan dan menjaga kepercayaan investor. Dari harga sahamnya sendiri, semenjak IPO pada 2010, harga saham BPD pertama yang menjadi perusahaan publik ini telah meningkat hampir tiga kali lipat.

Kinerja Bank BJB sepanjang 2018 juga cukup memuaskan. Bank ini mampu mengantongi laba bersih Rp 1,55 triliun atau tumbuh 28,1% year-on-year (YoY). Dari sisi penyaluran kredit juga tumbuh 6,1% YOY dengan total kredit yang disalurkan pada 2018 mencapai Rp 75,3 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun sebesar Rp 87 triliun yang didorong dari pertumbuhan dana murah, yaitu tabungan sebesar 16%, sehingga CASA Ratio naik dari 46,1% menjadi 47,1%.

Untuk memperkuat struktur modal dan ekspansi kredit, Bank BJB menerbitkan saham baru (rights issue) sebanyak 360,1 juta lembar melalui program Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMT-HMETD) dengan nilai nominal Rp 250/lembar saham. Keputusan menerbitkan saham baru ini telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 11 Desember 2018.

Pada 2018 dilakukan setoran modal tahap pertama; ada 20 pemerintah daerah dari 37 pemda yang menyetor modal dengan total nilai setoran Rp 270,7 miliar, dengan jumlah lembar saham Seri A baru sebanyak 142.495.995 lembar. Selanjutnya, di tahun 2019 ini 17 pemda sisanya direncanakan akan menyetor modal.

Menurut Nia Kania, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Bank BJB, dana setoran modal tersebut akan digunakan perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dalam rangka ekspansi kredit. “Diharapkan dengan tambahan modal tersebut, Bank BJB dapat mengoptimalkan pendapatan bunga dari ekspansi kredit yang berkualitas, sehingga dapat mendorong peningkatan laba perseroan,” kata Nia.

Berbagai terobosan telah disiapkan manajemen agar bisnis bank yang berdiri sejak 1961 ini makin oke. Khusus untuk pengembangan teknologi informasi dan digital banking, Bank BJB saat ini telah memiliki bjb Digi, layanan internet banking dan SMS banking. Untuk meningkatkan layanan digital tersebut, Bank BJB mengembangkan beberapa produk digital baru, di antaranya e-money (server-based) untuk transaksi menggunakan QR Code, mobile banking yang lebih user friendly, self-service banking machine atau e-kiosk, transaksi menggunakan chatbot, layanan Laku Pandai digital, EDC baru dan virtual assistant.

Menurut Nia, hadirnya produk-produk digital tersebut diharapkan dapat meningkatkan kecepatan dan kemudahan transaksi bagi nasabah, sehingga dapat meningkatkan fee-based income.

Di samping itu, Bank BJB juga mengembangkan konsep digital branch yang menyediakan berbagai produk dan layanan perbankan berbasis digital. Lokasi digital branch direncanakan berada di gedung pemerintahan, gedung perkantoran, atau pusat perbelanjaan, yang disesuaikan dengan target segmen Bank BJB.

Untuk mendukung kebijakan strategis yang telah ditetapkan, model bisnis berbasis digital akan menjadi poin utama bagi Bank BJB agar dapat bersaing dengan bank lain, bahkan dengan fintech,” kata Nia. Tahun 2019 sesuai roadmap yang telah ditetapkan merupakan fase akselerasi pertumbuhan melalui strategi organik dan anorganik serta penguatan infrastruktur yang andal untuk mendukung operasional dan produk berbasis digital,” katanya lagi.

Selain go digital, Bank BJB berupaya memajukan ekonomi pedesaan di Jawa Barat melalui produk-produknya yang bisa diakses secara mudah oleh pemerintah desa dan warganya. Programnya bernama One Village One Company (OVOC), berkolaborasi dengan Pemprov Jawa Barat. Produk dan layanan Bank BJB yang dapat diakses oleh desa melalui program OVOC antara lain layanan pengelolaan dana desa, produk Dana Pensiun (DPLK), layanan agen Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif) dengan brand bjb BISA, serta berbagai produk dan jasa Bank BJB lainnya yang dapat diakses oleh warga di pedesaan. Ada pula bjb INDAH, yakni program untuk mendorong pertumbuhan bisnis Bank BJB di segmen korporasi dan komersial, dengan skema mendanai kegiatan proyek-proyek infrastruktur serta pengadaan barang dan jasa pemda.

Saat ini portofolio bisnis Bank BJB sebagian besar dari kredit konsumer yang merupakan pilar pertama bisnisnya. Dari segi usia, kredit konsumer telah menyediakan berbagai pilihan jenis produk yang dapat dinikmati setiap pegawai, baik yang aktif maupun yang telah memasuki pensiun. Dari segi jenis pekerjaan, kredit konsumer telah dinikmati berbagai kalangan, baik aparatur sipil negara, pegawai BUMN/BUMD, anggota TNI/Polri, anggota dewan, kepala daerah/wakil kepala daerah, pegawai swasta/yayasan, perangkat desa, maupun pensiunan.

Dengan status sebagai BPD, Bank BJB memang memiliki hubungan yang relatif kuat dengan Pemda Jawa Barat dan Banten selaku pemegang sahamnya. Karena itu, Bank BJB mengoptimalkan dukungan dari pemda dengan berkolaborasi dalam program-program pemda untuk pengembangan bisnisnya serta peningkatan layanan pengelolaan keuangan daerah melalui layanan digital.

Dalam mengelola portofolio bisnisnya, untuk segmen corporate banking dilakukan dengan optimalisasi product holding, yaitu bisnis korporasi dan komersial sebagai backbone atau inisiator awal kerjasama bisnis. Kemudian, dilakukan cross-selling dengan berbagai produk dan layanan Bank BJB lainnya.

Peningkatan fee-based income diupayakan melalui akselerasi dan pengembangan fitur-fitur e-channel untuk mendorong peningkatan bisnis transactional banking. Bank BJB juga melakukan ekspansi pemasaran produk non-cash loan, seperti supply-chain financing dan bank garansi.

Nia mengungkapkan beberapa target kinerja keuangan tahun 2019. Antara lain, total aset diharapkan tumbuh 4-5%. Hingga Maret 2019, total aset konsolidasi Bank BJB sebesar Rp 117,76 triliun. Angka ini yang mengantarkan Bank BJB berada di peringkat 14 berdasarkan total aset dari semua bank yang beroperasi di Indonesia. Target berikutnya, DPK tumbuh 9-10% dan penyaluran kredit tumbuh 10-11%.

Untuk dapat menjaga kepercayaan pemegang saham dan investor, Bank BJB rutin menyelenggarakan analyst meeting, berupa pemaparan kinerja keuangan tiap triwulan kepada analis. Bank ini juga berupaya mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan otoritas atau lembaga keuangan lain, untuk memaparkan kinerja dan strateginya kepada investor institusi dan investor publik.

Nia berharap berbagai metode penyampaian informasi kinerja dan strategi Bank BJB kepada investor, analis, dan publik dapat memberikan umpan balik yang positif kepada Bank BJB. “Juga, diharapkan dapat membangun kepercayaan atas pertumbuhan kinerja Bank BJB di masa yang akan datang,” katanya. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)