Bambang Eka Cahyana, Dirut Pelindo I: Memotori Transformasi, Membangun Partisipasi

Bisnis pengembang dan pengelola pelabuhan menghadapi tantangan tersendiri begitu pemerintah membuka keran monopoli yang semula hanya dikangkangi BUMN. Persaingan menjadi semakin ketat dengan hadirnya pemain swasta besar, termasuk investor luar negeri.

Bambang Eka Cahyana, Dirut Pelindo I

Kenyataan itu juga mesti dihadapi PT Pelindo I (Persero) yang mengelola belasan pelabuhan di wilayah Sumatera. Di bawah komando Bambang Eka Cahyana sebagai direktur utama, BUMN yang berpusat di Medan itu terus bertransformasi menuju perusahaan pengelola pelabuhan yang lincah, kompetitif, dan selalu untung dalam empat tahun terakhir. Ketika masuk ke Pelindo I tahun 2009, Bambang tidak langsung menjadi CEO, tetapi sebagai Direktur Komersial & Pengembangan Usaha. Dia baru diamanahkan memimpin pada Agustus 2013.

Dari sisi kinerja, ketika Bambang pertama kali masuk, laba bersih perusahaan Rp 138 miliar. Akhir 2018 ini, akan menyentuh Rp 1 triliun. Performa ini tak lepas dari kinclongnya pendapatan. Tahun 2017 pendapatan mencapai Rp 2,57 triliun. Tahun 2018 ditaksir naik 25%. Tahun 2018 sebenarnya target penjualan Pelindo I Rp 3,2 triliun, “Namun, kami harapkan bisa mencapai Rp 3,4 triliun. Ini tak lepas dari proses transformasi yang telah kami lakukan dan berhasil mengangkat kinerja,” kata Bambang.

Sebagai CEO, Bambang selalu mendorong timnya berani melakukan transformasi secara menyeluruh. Setidaknya ada lima bidang transformasi yang terus dilakukan. Pertama, transformasi strategic leadership. Orang-orang kunci di Pelindo I, katanya, harus memiliki jiwa entrepreneurship. SDM perusahaan harus mampu mewujudkan visi-misi perusahaan dan mengeksekusi strategi bisnis.

Kedua, transformasi budaya organisasi. Karena dihadapkan pada VUCA, organisasi tidak bisa lagi menggunakan budaya birokrasi dan clan culture, harus memakai budaya adhokrasi yang mendorong sifat agility dan adaptif. Adhokrasi adalah sistem yang berubah dengan cepat, adaptif, biasanya hanya berlaku sementara, dan dikoordinasi di sekitar masalah yang harus dipecahkan oleh kelompok atau yang relatif tidak saling kenal atau mempunyai berbagai keterampilan profesional.

Ketiga, transformasi tata kelola perusahaan, yang mencakup lima aspek: transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness. Keempat, transformasi infrastruktur bisnis, baik hardware maupun software. Di sisi hardware, Pelindo I berusaha memiliki fasilitas yang selaras dengan praktik bisnis internasional lewat perbaikan dan memodernisasi fasilitas pelabuhan. Adapun software berhubungan dengan ICT, di antaranya proses otomatisasi.

Kelima, transformasi corporate alignment, agar Pelindo I memiliki struktur organisasi dan target operasi yang sesuai dengan tantangan bisnis. “Kelima transformasi itu terus dilakukan secara holistik dan bersamaan,” kata Bambang yang lahir di Bantul, DI Yogyakarta, 15 Mei 1967.

Lulusan S-1 Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini menyadari bahwa sebagai CEO dia mesti bisa memerankan diri sebagai perintis. Untuk itu, dia selalu mendorong timnya berani menerima tantangan, tidak takut gagal, memiliki imajinasi setinggi mungkin, dan berpikir out of the box. “Makanya, saya sering berbicara ke staf, kita harus berani memimpikannya secara konsisten,. Karena jika sudah memimpikannya, alam bawah sadar kita akan menuju ke mimpi itu,” katanya. Hal itu dia buktikan pada pengembangan megaproyek Pelabuhan Kuala Tanjung. Digagas tahun 2009, proyek ini baru bisa dieksekusi setelah 27 Januari 2015. “Jika kami tidak pernah membayangkan hal itu, tidak memiliki dream itu, mungkin hari ini Kuala Tanjung tidak akan terwujud seperti sekarang,” Bambang menjelaskan.

Di sisi lain, sebagai penyelaras, dia tidak boleh memiliki konflik kepentingan. Dia meyakini, bila CEO memiliki konflik kepentingan, akan muncul ketidakseimbangan sehingga dia tidak akan bisa mengambil keputusan secara fair dan objektif.

Sebagai pemberdaya, Bambang merasa harus bisa menginspirasi orang lain agar berani mengambil tanggung jawab. Di sini dia memiliki prinsip: memimpin dengan HATI, singkatan Hargai orang lain, Arahkan pada target, Tanamkan integritas, dan Inovasi sampai mati.

Dalam urusan menginspirasi bawahan, menurut Bambang, pemimpin harus mampu menginspirasi semua anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, dan mesti meyakinkan ke tim bahwa jalan untuk mencapai tujuan tersebut tidak bisa hanya dengan melakukan satu cara. Kini, katanya, bukan zamannya lagi CEO menginstruksikan anak buah harus ke sana dan melakukan ini-itu. “Kini eranya participative leader,” ujarnya. Karena itu, di Pelindo I dijalankan budaya berinovasi dalam bentuk budaya CIPTA, singkatan Customer focus, Integrity, Profesionalism, Teamwork, dan Adaptive. “Tiap tahun kami ada lomba CIPTA layanan prima, melibatkan seluruh karyawan,” kata Bambang.

Tantangan terberatnya, antara lain, soal manajemen sumber manusia. “Mesin jika tidak cocok, bisa diganti, namun orang tidak bisa diganti, mesti di-upgrade. Tantangan terbesarnya, bagaimana bisa meng-upgrade orang agar memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjadi BoD di perusahaan,” katanya.

Bagaimanapun, sambungnya, seorang CEO harus bisa melahirkan pemimpin bisnis. “Legacy terbesar seorang pemimpin adalah jika dia bisa menyiapkan suksesi dalam rangka kesinambungan program,” katanya. Sebab itu, pihaknya sering memberikan penugasan kepada para talent di luar lingkup pekerjaan sehar-hari untuk mengasah kemampuan. Lalu, menugaskan secara cross function, diberi tugas proyek lain atau assignment tambahan. Ini belum termasuk program pengembangan eksekutif yang diselenggarakan inhouse dan pihak eksternal.

Ke depan, Bambang akan terus membangun profesionalisme di perusahaan pelat merah tersebut. Dia meyakini, selama menerapkan prinsip-prinsip profesionalisme dengan baik --salah satunya dengan mengembangkan dan konsisten menjalankan tata kelola perusahaan—Pelindo I tidak akan terpengaruh gejolak politik. Dari sisi cakupan bidang bisnis, Pelindo I juga akan terus menambah sumber pendapatan baru yang masih dalam rantai bisnis kepelabuhan dan jasa turunannya.

Contohnya, kini Pelindo I mulai merintis jasa penyediaan listrik untuk kapal yang bersandar di pelabuhan. Selama ini ketika kapal bersandar, AC kapal selalu menyala dan butuh listrik sehingga genset dan engine mereka terus bekerja. Sekarang tengah disiapkan power source dari Pelindo I bekerjasama dengan PLN, untuk menyediakan listrik buat mereka.

Di era disrupsi saat ini, bisnis yang berkembang adalah bisnis yang menghubungkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan. Kami tidak perlu harus untuk menguasai aset,” kata Bambang tentang prinsipnya. Dari sisi proses bisnis, tahun 2019 Pelindo I akan mulai aktif melakukan digitalisasi di beberapa pelabuhan yang dikelolanya dengan menerapkan sistem keuangan. (*)

Sudarmadi dan Anastasia Anggoro Suksmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)