Maya Carolina Watono, CEO Dwi Sapta Group (A Dentsu Aegis Network Company): Jejak Kepemimpinan Sang Pehobi Lari

Maya Carolina Watono, CEO Dwi Sapta Group

Apakah ada hubungan antara lari dan pekerjaan dengan tingkat stres tinggi? Bagi Maya Carolina Watono, CEO Dwi Sapta Group (A Dentsu Aegis Network Company), sangat berhubungan. Berlari, menurut perempuan kelahiran Jakarta 36 tahun lalu ini, selain membantu melepas stres pekerjaan, juga mengasah semangat untuk mengalahkan diri sendiri. Hobi berlari membuatnya tidak cengeng dan gampang menyerah. Dalam kesendirian berlari, ia pun dapat memotivasi diri sampai tiba di garis finish.

Saya bersyukur dapat menekuni hobi berlari ini. Sudah beberapa kali mengikuti event maraton dengan menempuh jarak terjauh, yakni 42 kilometer,” ujarnya. Terakhir, September lalu, ia mengikuti Berlin Marathon. “Dalam sekali latihan, saya bisa menghabiskan waktu tiga jam saat weekend secara intensif selama tiga bulan,” lanjut Maya yang selain berlari juga menekuni pilates dan yoga.

Maya yang menghabiskan waktu 10 tahun untuk belajar dan bekerja di Australia ini mengatakan, hobi olahraga adalah bagian dari cara dia mengelola keseimbangan antara kerja, waktu untuk diri sendiri, dan waktu untuk keluarga. Kalau hanya menuruti urusan pekerjaan, tidak akan ada habisnya. Apalagi, ia berada di industri periklanan yang sangat kompetitif dan sangat dipengaruhi kondisi VUCA. “Pasar memang sedang melambat. Sangat penting bagi kami untuk bisa menyikapi tantangan yang sedang terjadi saat ini,” katanya.

Disadari putri sulung founder Dwi Sapta Adji Watono ini, disrupsi adalah tren global yang merembet menjadi tren ASEAN, lalu sekarang menjadi tren Indonesia. Fenomena ini menyebabkan model bisnis berubah. Yang tadinya konvensional, sekarang semuanya mengarah ke digital. Dulu, top ten company bisa terlihat fisiknya seperti apa. Sekarang, top ten company di dunia itu tidak kelihatan fisiknya, seperti Facebook, Google, dan Amazon, yang memang berkecimpung dalam dunia virtual. “Dengan demikian, kami harus bisa menyikapinya dengan beradaptasi dengan business model kami sendiri, yakni dengan mendigitalisasi bisnis dan mendigitalisasi klien kami,” ujar ibu dari tiga putra ini. “Tranformasi bisnis harus dilakukan dari sekarang sampai dengan lima tahun ke depan,” katanya menegaskan.

Sebagai pemimpin puncak perusahaan periklanan yang berafiliasi dengan A Dentsu Aegis Network Company, Maya paham dengan risiko perkembangan zaman. Ia pun menyikapi tantangan tersebut dengan mendigitalisasi SDM, proses bisnis, dan klien. “Inilah yang sangat penting sekali bagi kami, karena kalau tidak, kami akan terlibas. Perubahan yang terjadi saat ini sangat cepat, “ katanya. Maka, dengan tegas perusahaan memprioritaskan penanganan SDM, baik dari regional maupun insiatif sendiri, sebagai langkah awal.

Mengapa SDM? Ujung tombak perusahaan periklanan terletak pada SDM-nya. Sebab itu, Maya mengambil langkah cepat dengan menyiapkan senjata-senjata anyar bagi SDM guna memperkuat daya saing perusahaan. Di antaranya, ia menunjuk Group Digital Director untuk memperkuat sekaligus mempromosikan tim media digital. “Kami juga menyiapkan pelatihan, software, dan tools untuk dapat mengerti market yang sedang berkembang,” ujarnya. Sehingga, tambahnya, ketika presentasi ke klien sudah dilengkapi dengan tools yang baru itu.

Setiap talent dilengkapi dengan pengetahuan digital dan workflow agar bisa lebih beradaptasi dengan lanskap digital terkini. Dijelaskan Maya, ada dua proses yang dilakukan, yakni inward (ke dalam) dan outward (ke luar) yang secara simultan dihidupkan untuk memberdayakan karyawan. Memang diakuinya, dengan 500 karyawan yang ada saat ini, menjadi suatu tantangan tersendiri agar mampu mendorong mereka secara optimal. “Yang kami jual di sini bukan berupa produk, melainkan service, idea, dan expertise. Semuanya adalah keahlian orang, bukanlah berupa barang jadi,” katanya. Sehingga, tidak ada sesuatu yang baku yang bisa dipegang. “Jadi, hanya people are our assets,” ia menegaskan.

Hal ini yang membuat Maya harus berpikir keras bagaimana mengelola talent yang ada. Bagaimana membawa talent kepada suatu goal, menurutnya, dibutuhkan alasan yang jelas mengapa melakukannya. Seperti disebutkan dalam buku Start With Why karya Simon Sinek, bahwa ketika kita semua bekerja, atau khususnya para generasi milenial bekerja, ternyata tujuan mereka tidak melulu mengenai uang, tetapi tentang passion mereka juga. “Nah, pemimpin harus mampu meyakinkan para talent mengenai 'reason to believe' dan 'reason to work' yang lebih besar daripada uang maupun diri sendiri untuk goals yang ingin dicapai di tahun-tahun yang akan datang,” Maya menjelaskan.

Tagore Natadiningrat, Creative Director Dwi Sapta Group, menilai, tanpa harus membaca buku tersebut, Maya yang sudah dikenalnya sejak masih kanak-kanak dianugerahi kemampuan kepemimpinan yang istimewa. “Dia itu mewakili wajah pemimpin muda era sekarang yang profesional, percaya perdiri, mau kerja keras, dan juga passionate,” ujarnya memuji. Kelebihan Maya, di mata Tagore, pandai menempatkan diri sebagai seorang anak Adji Watono; pemimpin ratusan karyawan; istri dan ibu dari tiga anak; sekaligus sebagai profesional dan aktivis di lingkungan pekerjaannya. “Dia mudah sekali berkomunikasi, tanpa harus mengubah sikap walaupun berbeda peran,” kata Tagore.

Rosi, Account Director Dwi Sapta, menambahkan, pemimpinnya itu sosok yang simpel, sederhana, dan tidak suka basa-basi. Apa yang dilakukan dan disampaikan Maya, sepengetahuannya, dalam porsi yang pas sesuai kapasitas. Sehingga, ia merasa nyaman menjadi anak buahnya, meski dari segi usia, Maya jauh lebih muda. “Mbak Maya tidak pernah menegur anak buah di depan orang banyak. Dia selalu punya cara untuk menunjukkan bahwa dialah pemimpin kami,” kata Rosi yang menyukai gaya egaliter Maya menghadapi beragam macam karakter karyawan.

Dibesarkan oleh seorang bapak yang merupakan pengusaha periklanan kawakan dan seorang ibu hangat yang sangat mencintai keluarganya, Yoyok Watono, wajar jika Maya tumbuh menjadi CEO muda dengan kombinasi lengkap: cerdas, profesional, energik, passionate, serta memiliki empati dan kemampuan persuasi tinggi. Membawahkan delapan perusahaan dengan ratusan karyawan yang kebanyakan dari generasi milenial, Maya memilih memimpin dengan menyentuh passion dan purpose mereka ketimbang berdebat atau marah-marah dengan anak buah.

Mengenai individu karyawan yang beragam, Maya justru mengaku senang dan melihatnya sebagai Indonesia kecil di perusahaannya. “Bagus kan karena Indonesia sendiri menganut Bhinneka Tunggal Ika yang tentunya harus menghargai perbedaan yang ada. Justru itu berdampak baik kepada talent dengan background yang berbeda,” ungkapnya sambil tersenyum. “Konsep ‘Together means you are stronger and better’ itu harus kami tanamkan,” katanya tandas.

Yang menjadi keyakinannya, setiap karyawan dalam bekerja pasti memiliki passion dan tujuan sendiri-sendiri. Namun, karena mereka berada di dalam organisasi, harus ada aturan main berdasarkan jenjang jabatan dan pekerjaan. Itu sebabnya, dibutuhkan Key Performance Indicators (KPI) yang in line dengan tujuan perusahaan, sekaligus bisa beriringan dalam mencapai personal objectives (PO) dan company objectives. “Saya percaya dengan PO, namun saya percaya juga dengan KPI perusahaan,” kata Maya menegaskan.

Baginya, sebagai pemimpin ia harus selalu konsisten dengan pesan yang ia berikan. “Adapun bagi karyawan, rambu-rambunya jelas, yaitu menjaga lima nilai-nilai perusahaan, yakni commitment for excellence, brand success is our success, deliver with heart, give to society, dan care to our people,” demikian penjelasan Maya yang berhasil membukukan pertumbuhan perusahaan jauh di atas pertumbuhan industri, yakni 14% di tahun 2017 dan diperkirakan 12% di tahun 2018.(*)

Dyah Hasto Palupi dan Chandra Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)