Hendra Etri Gunawan, Bangun Agile Organization di Era VUCA

Hendra Etri Gunawan, Manajer Learning Bukalapak

Perjalanan Hendra Etri Gunawan bergelut di bidang HR dimulai pada tahun 2010 dan sudah melalui berbagai sektor, mulai dari publik, swasta, dan non profit organization (NGO). Ia bergabung di Bukalapak sebagai Manajer Learning sejak Mei 2017 ketika jumlah karyawan berkisar 600-700 orang. Menginjak dua tahun di Bukalapak, saat ini karyawannya sudah berjumlah sekitar 2.700 orang.

Menurut Hendra, terminologi VUCA di Bukalapak telah menjadi makanan sehari-hari. Hari ini A, belum tentu besok A. “Ini gambaran ekstremnya kondisi VUCA di Bukalapak. Dulu ada posisi A, sekarang sudah tidak ada. Dulu A dan B dalam satu divisi, sekarang beda. Dulu satu vice president (VP) membawahkan puluhan sampai ratusan orang, sekarang hanya beberapa orang. Sangat dinamis,” ungkap pria lulusan Institut Pertanian Bogor ini.

Organisasi, lanjut Hendra, membutuhkan collective mindset untuk menghadapi segala dinamika yang ada ke depannya. Organisasi yang agile akan terbentuk jika setiap individu di dalamnya berfungsi sebagai motor penggerak. Maka, mereka harus diberi otonomi dan kepercayaan untuk menentukan arah kerja dan kontribusi bagi perusahaan. “Di Bukalapak, dikenal anekdot ‘lebih baik meminta maaf daripada meminta izin’,” kata Hendra. “Maknanya, setiap karyawan jalani saja dulu fungsinya, jika terdapat kesalahan, jadikan hal itu sebagai ongkos belajar. Namun, jika ternyata berhasil, mari kita scale-up bersama,” katanya lagi.

Menurut Hendra, agile organization akan berkaitan dengan empat hal, yakni people, culture, system, dan technology. Perusahaan tidak hanya butuh karyawan yang pintar secara teknis, tetapi juga karyawan yang bisa melebur dengan budaya perusahaan. Hendra menekankan pentingnya culture fit di tengah era kolaborasi, yang tidak akan berjalan dengan baik apabila memiliki pola pikir yang berbeda.

Hendra menyatakan bahwa sistem harus dibentuk sesederhana mungkin. Karenanya, HR Team Bukalapak harus berpikir untuk memudahkan segala urusan karyawan. “Simplicity ini akan memudahkan user memahami sistem yang dibangun, sehingga kemungkinan mereka mengikuti sistem atau ketentuan yang ada semakin besar,” katanya.

Dalam hal generasi milenial, di Bukalapak tidak lagi dikenal istilah work-life balance. “Mereka lebih mengenal istilah work-life integration,” ujar Hendra. Karena itu, kantor bukan lagi dipandang sebagai rumah kedua, melainkan kehidupan kedua bagi karyawan. “Kebijakan compensation dan benefit, serta tata kelola tempat kerja yang diberikan perusahaan pun harus sampai pada paradigma ini,” katanya.

Bicara teknologi, menurut Hendra, bukan hanya bicara aplikasi atau mesin yang akan membantu memudahkan pekerjaan kita. Lebih dari dari itu, bicara teknologi berarti bicara tentang behavior. Contohnya, dulu HRIS hanya merupakan aplikasi yang dapat memudahkan administrasi, tetapi sekarang harus bisa dioptimalkan agar menjadi alat big data sebagai bahan pengambilan keputusan. “Tim HR harus bisa memastikan bahwa manajemen dan staf siap menjalankan agile organization ini,” ia menegaskan.

Jeihan Kahfi Barlian & Chandra Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)