Siwi Peni, Dirut PTPN IV: Berpikir, Bertindak, dan Bersikap Positif

Siwi Peni, Dirut PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV)

Sebelum menjabat sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV), perjalanan karier Siwi Peni lebih banyak dihabiskan di Bank BNI. Dimulai sebagai analis kredit pada 1999 hingga menduduki posisi Pemimpin Divisi Risiko Komersial dan Usaha Kecil pada 2015.

Mei 2016, Siwi memulai tugas baru sebagai SEVP Bidang Keuangan di PTPN III di Medan. Setahun kemudian, Agustus 2017, mencapai puncaknya, diangkat menjadi Direktur Utama PTPN IV.

Menjadi orang nomor satu di PTPN IV yang memiliki sekitar 20 ribu karyawan tentu bukan perkara mudah. Terlebih, komposisi tingkat pendidikan mereka beragam, dengan jumlah terbesar (58%) tingkat SD dan SMP, SMA 37%, dan sisanya S-1/S-2 5%. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya manusia menjadi kegiatan yang paling utama, karena sangat memengaruhi proses produksi perusahaan.

Selain harus didukung sistem dan tata cara perekrutan yang baik, penilaian kinerja individu ataupun unit, serta reward dan punishment, yang lebih penting lagi adalah menanamkan sistem pada individu karyawan. Antara lain, sikap positif yang dibangun dengan tulus dan ikhlas dalam bekerja dan bekerjasama, integritas yang dibangun dari kejujuran dan rasa syukur, kemauan meningkatkan kompetensi, serta disiplin diri. Banyak perusahaan yang bangkrut meskipun sistem sudah dibangun baik karena mengabaikan nilai-nilai tersebut. 

“Di situlah saya selalu mengingatkan seluruh karyawan bahwa kami bekerja pada perusahaan yang usahanya di bidang perkebunan, di atas bumi milik Tuhan, mengandalkan hasil tanaman, yang merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan, mengandalkan alam untuk berperan dalam hasil produksinya, dan semua hal itu sangat tergantung pada ridho Tuhan,” kata Siwi. Maka, ia berulang-ulang mengajak seluruh karyawan untuk menjaga sikap kerja dengan cara bekerja yang positif, saling mendukung, saling membantu atasan/rekan kerja/bawahan, berakhlak dan berintegritas dengan jujur, tulus dan ikhlas, selalu bersyukur, berbuat baik, dan terus berdoa agar diberi keberkahan oleh Tuhan YME. 

Menurut Siwi, penting baginya mengajak setiap individu untuk selalu berpikir, bertindak, dan bersikap positif dengan cara lima hal. Pertama, selalu bersyukur, yaitu bersyukur telah diberi kesehatan jasmani dan rohani serta bersyukur telah diberi pekerjaan di PTPN IV. Kedua, meyakinkan diri bahwa bekerja adalah ibadah. Ketiga, bersedia berbagi dan mau mengajak pada kebaikan.

Keempat, terus-menerus menjaga kelangsungan bisnis perusahaan dengan cara memelihara aset tanaman sesuai dengan norma, menjaga dari pencurian, melaporkan tindakan atau hal-hal yang perlu perbaikan, menyampaikan data dengan jujur, apa adanya. Terakhir, kelima, selalu mendoakan semua karyawan, keluarga, dan perusahaan, agar tindakannya menghasilkan berkah dan diridhoi Tuhan YME.

“Dalam setiap pertemuan, saya selalu menyampaikan hal tersebut. Saya berharap, setiap individu akan memiliki sistem yang memberikan warning atau berdering memperingatkan apabila rasa malas datang dan menganggap bekerja sebagai beban, atau apabila akan melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perusahaan, atau mengingatkan kepada para pemimpin untuk terus-menerus memberikan kasih dalam memimpin,” ungkap lulusan S-1 Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 1995 ini.

Lalu, bagaimana agar budaya caring leadership ini juga dibangun para pemimpin di bawah Siwi? “Saya selalu menyampaikan bahwa kami semua adalah keluarga, keluarga yang tergabung dalam satu perusahaan,” katanya. Dengan demikian, satu unit saja tidak tercapai targetnya, maka akan berpengaruh kepada perusahaan sehingga otomatis juga akan berdampak pada seluruh karyawan.

Siwi pun selalu mengajak karyawan pemimpin dan pemimpin puncak untuk dapat menjadi pemimpin yang dapat mengayomi timnya sehingga bawahan akan merasa bahwa apa yang diperjuangkan merupakan kepentingan bersama, bukan kepentingan pemimpin semata. Selain itu, pimpinan perusahaan ini juga harus memiliki kebijaksanaan, agar dapat mengambil keputusan dengan hati-hati dan adil, memiliki ketulusan, sehingga bawahan juga tahu bahwa atasannya memiliki niat baik yang murni.

Pemimpin pun harus memiliki keberanian, berupa keteladanan dalam pengambilan keputusan yang berisiko, tidak hanya menyerahkan ke bawahan dan menyalahkan bawahan. Pemimpin juga harus disiplin, yaitu konsisten melaksanakan peraturan yang telah dibuat, termasuk adil dalam memberikan reward atau sanksi. Dengan demikian, karyawan akan merasa terayomi, dan nyaman dalam bekerja. Selain itu, pemimpin pun harus dapat menjalin hubungan yang baik di masyarakat, dan masyarakat juga perlu merasakan hal-hal postitif dari keberadaan perusahaan setempat. 

Terkait wabah corona, seperti apa gambaran caring leadership di perusahaan ini? Menurut Siwi, perusahannya langsung membentuk tim pencegahan dan penanganan, menyusun standar operasional prosedur (SOP) dan protokol pencegahannya, melakukan edukasi dan sosialisasi, serta memonitor pelaksanaan di lapangan dengan mengirimkan video cara unit/kebun melakukan sosialisasi kepada karyawan di unit masing-masing.

Pihaknya juga melakukan penyemprotan disinfektan, menyosialisasikan cara mencuci tangan, dan secara intens berkomunikasi melalui grup WhatsApp. Terkait komunikasi, bisa dari manajemen pusat yang memberikan arahan ke unit/kebun atau pengelola unit/kebun melapor bila ada kondisi karyawan/keluarganya yang terkena status orang dalam pemantauan (ODP) atau menunjukkan gejala demam, dll.

Kebetulan, PTPN IV memiliki rumah sakit di tiga kebun, sehingga ada dokter yang ikut memonitor di unit operasional dan mempersiapkan rumah sakit untuk siaga, termasuk mempersiapkan alat pelindung diri (APD). “Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/pemerintah daerah setempat dalam penanganan atau sosialisasi pandemi corona ini,” kata peraih gelar Magister Manajemen dari UGM ini.

Bicara kinerja perusahaan, Siwi menjelaskan, PTPN IV memiliki lahan seluas 116.458 hektare untuk tanaman sawit dan 4.016 ha untuk tanaman teh. Kedua komoditas tersebut merupakan backbone Grup PTPN.

“Selama tiga tahun, terjadi pertumbuhan 12% produktivitas tandan buah segar (2,23 ton per ha) dan produktivitas CPO tumbuh 11,6% selama tiga tahun atau meningkat 0,5 ton per ha. Laba perusahaan di 2018 sebesar Rp 496 miliar. Laba 2019 masih proses audited, diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2018 akibat penurunan harga komoditas yang rata-rata Rp 600/kg CPO,” kata Siwi menjelaskan. Selain itu, berbagai prestasi pun telah diraih PTPN IV, baik di tingkat nasional maupun internasional. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)