Meilana Puspawartiningdyah, Bertekad Wujudkan Energi yang Berkelanjutan

Meilana Puspawartiningdyah, Manajer Komersial & Hubungan Pelanggan Indonesia Power

Meilana Puspawartiningdyah memulai karier sebagai operator dan pemelihara pembangkit listrik PT Indonesia Power, satu-satunya wanita di garda depan produksi listrik kala itu. Berkarier sejak 2008, kini ia telah menjabat sebagai Manajer Komersial & Hubungan Pelanggan Indonesia Power. Wanita berusia 34 tahun ini bertanggung jawab untuk menekan komplain, meningkatkan engagement, dan memahami kebutuhan pelanggan.

Meski berlatar belakang pendidikan teknik metalurgi (dari Universitas Indonesia), Meilana mampu menangani bidang hubungan pelanggan dengan melibatkan banyak pihak dalam perusahaan. Caranya, memulai dari level teknisi agar memahami kebutuhan pelanggan. “Saya membuat focus group discussion untuk menentukan action plan, membuat survei kebutuhan dan keinginan pelanggan, lalu dirumuskan pada masing-masing unit bisnis di Indonesia Power (ada 20 unit), dibuat tindaklanjutnya, kemudian dimonitor,” paparnya.

Meilana mengungkapkan, pangsa pasar Indonesia Power dapat tergerus jika tidak bisa meningkatkan kapasitas pembangkit. Apalagi, kini makin banyak pembangkit listrik swasta (IPP) sebagai dampak dari program 35 ribu megawatt yang digagas pemerintah.

Menurutnya, walau saat ini pangsa pasarnya di Jawa-Bali sebesar 40 persen, Indonesia Power telah mengantisipasi tantangan ke depan dengan masuk pada sektor energi baru dan terbarukan (EBT). Prioritasnya ialah membangun pembangkit dengan biaya pokok produksi murah, berkapasitas besar, dan ramah lingkungan.

Ide yang ditawarkan ialah membangun PLTU ultra super critical. PLTU konvensional mempunyai tingkat efisiensi sekitar 33 persen, sedangkan PLTU ultra super critical mencapai 40-45 persen, dengan emisi karbon yang lebih kecil.

Selain itu, Meilana akan mengusulkan dibangunnya pembangkit EBT hybrid seperti solar PV, Battery Energy Storage System, dan pembangkit listrik tenaga diesel. Hal ini mengingat potensi panas dari matahari di Indonesia cukup tinggi, mencapai 4.8 KWh/m2 yang punya potensi bertahan dalam jangka panjang.

Untuk mendukung ini, diperlukan sistem business intelligence berbasis big data untuk mengembangkan strategi perusahaan ke depan. Peta jalannya dalam setahun ke depan adalah mencari mitra yang proven, baik pendanaan maupun teknologi. Implementasinya diharapkan dapat terlaksana pada 2021-2022 untuk PLTU ultra super critical di Suralaya, Banten, sedangkan pembangkit hybrid bisa dikembangkan di Bali. Meilana mengaku ini semua masih menjadi visinya. Ia harus meyakinkan pimpinan perusahaan untuk bisa mewujudkannya.

Jeihan Kahfi Barlian & Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)