Strategi Employer Branding Pertamina Guna Menarik Talenta Terbaik

PT Pertamina (Persero) menghadapi tantangan berat terkait transisi energi dan digital yang terjadi makin kencang dalam 4 tahun terakhir. Diperkirakan sumber daya energi fosil masih akan tumbuh hingga 2030 namun setelah itu akan turun sangat tajam seiring terjadinya transisi energi. Penggunaan sumber daya energi fosil akan beralih ke sektor petro chemical yang belum sepenuhnya dikelola dengan baik. Kemudian, disrupsi digital yang bukan sekadar mengenai digitalisasi proses bisnis tapi pasar juga berubah secara cepat akibat digitalisasi.

Dua tantangan ini memaksa Pertamina masuk ke bisnis baru, namun di saat yang sama harus agility untuk adaptasi dan mengadopsi sistem yang diperlukan, rekanan, kapabilitas, sumber daya dan sebagainya. Di satu sisi, bisnis Pertamina menuntut kepatuhan yang tinggi karena tingginya risiko terhadap lingkungan.

Selain itu, saat ini dengan Grup Pertamina sebagai holding bisnis, maka itu direktorat-direktorat yang tadinya berada di bawahnya menjadi sub-holding, baik yang menangani hulu hingga Patra Niaga yang menangani bisnis distribusi, sales dan marketing. Kondisi ini tentu dibutuhkan talenta-talenta terbaik.

“SDM atau talenta merupakan kunci sukses menghadapi tantangan-tantangan ini,” tandas Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Mia Krishna Anggraini dalam presentasinya dengan judul 'Creating Attractive Employer Branding PT Pertamina Persero' di webinar Indonesia Employer Choice Award 2022 yang diselenggarakan oleh SWA Media Inc. dan Korn Ferry Indonesia belum lama ini.

Lulusan Teknik Industri Undip dan S2 Master of Sceince di Amerika ini menjelaskan dalam kondisi ini untuk mendapatkan talenta terbaik, menjadi sangat menantang karena saat ini talenta marketing sangat kompetitif di pasar. Talenta makin mudah mengakses informasi saat ini, baik terkait perusahaan maupun peluang yang tersedia di pasar.

Bagaimana Pertamina memenangkan talenta terbaik di pasar yang kompetitif ini? Mengawali karir di Pertamina pada 2001 di direktorat hilir Pertamina ini, menjelaskan sangat penting membangun employer branding. “Memang menantang, bagaimana employer bisa create brand, terlepas dari value preposition yang mereka tawarkan,” tegasnya.

Untuk itu sangat penting perusahaan yang bergerak di bisnis hilir minyak dan gas ini dalam menarik talenta terbaik di pasar yang sangat ketat. “Kami memandang dalam branding sangat penting membangun velue preposition, ini bisa terbangun kuat jika memiliki nilainya unik dan kental, yang menjadi keunggulan kompetitif dengan perusahaan lain di pasar talenta,” terangnya.

Ada empat strategi yang dilakukan dengan membangun  awareness, association and percieved quality, dan yang paling sulit adalah membangun loyalty. “Di era digital dan generasi saat ini, generasi Y dan Z, sangat sulit dibangun loyalty-nya,” imbuhnya. Dari 34 ribu pekerja di Grup Pertamina sekitar 63% nya adalah generasi Y dan Z, sisanya generasi X. “Kami memahami generasi yang unik, ingin meaning, bukan sekadar gaji tujuannya, sangat kompetitif, peduli pada keseimbangan hidup kerja dan hidup, ingin terus tumbuh dan belajar,” paparnya.

Atas dasar itulah Pertamina sangat mendorong aktivitas belajar yang kencang, mulai dari yang mobile, dibuat visual dan pendek, learning forum, coaching, dan mentoring. “Kami memahami generasi ini butuh dari sekadar sistem belajar tapi juga interaksi dengan role model,” katanya.

Hal lain yang ditawarkan oleh Pertamina adalah agile working. Pola ini bukan sekadar memungkinkan karyawan bisa bekerja di waktu dan tempat yang fleksibel, tapi juga perusahaan mendorong pada pencapaian hasil kerja sesuai target bukan hanya proses. Dengan value preposition tersebut, dikatakannya, Pertamina melakukan employer branding dengan creating awareness dan perceived value.

Corporate branding dengan employer branding disinergikan baik dari  berita-berita korporasi terpublikasikan secara intensif, mengelola hubungan baik dengan media, serta didukung dengan website rekrutmen dan media sosial Pertamina yang harus selalu diperbaharui. Lalu membangun engagement dan mengomunikasikannya dengan baik, meski orang sudah mengenal Pertamina, guna menarik minat orang untuk bergabung,” terangnya.

Upayanya yaitu dengan berbagai program bersama kampus, mendukung kompetisi inovasi dan ide, sponsorhip olahraga, dan yang terpenting membangun ‘Perwira Brand'. Perwira Brand merupakan upaya membangun kebanggaan sebagai pekerja  Pertamina yang berjibaku menyediakan energi ke seluruh negeri.

“Kami juga harus mengelola aktivitas mereknya yang sesuai dengan target pasar. Jadi dengan strategi itu, apa pun tawaran di luar mereka tetap tertarik dan stay dengan Pertamina,” tandasnya.

Hasilnya setelah melakukan strategi employer branding adalah ada 150 ribu pelamar setiap tahun untuk 500 posisi.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)