SWA Business Leader Talk: Praktik Protokol Covid-19 di Metrodata Electronics

Susanto Djaja, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk (bawah)

Sejak bulan Maret 2020, pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk melakukan semua aktivitasnya di rumah, termasuk bekerja, belajar hingga beribadah. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Menghadapi kondisi tersebut, para pemimpin perusahaan pun melakukan perubahan pola bekerja karyawannya. Susanto Djaja, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk menyampaikan saat ini pihaknya konsen pada kesehatan 1.600 karyawannya sehingga perusahaan mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendisiplikan karyawannya dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Lalu apa saja kebijakan yang dikeluarkan untuk menyeimbangkan antara kesehatan karyawan dan kelangsungan bisnis perusahaan? Berikut kutipan wawancara SWA Online bersama Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk., Susanto Djaja dalam acara IG Live Instagram – SWA Business Leader Talk :

Bagaimana cara Metrodata dalam menerapkan protokol kesehatan sata pandemi Covid-19?

Metrodata merupakan perusahaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), secara protokol kesehatan ada beberapa hal penting yang kami perhatikan. Pertama, peraturan pemerintah yang menjadi pijakan kami untuk membuat kebijakan mengenai protokol kesehatan di perusahaan. Dengan memperhatikan hal itu, kami tidak boleh lebih longer dari peraturan pemerintah, namun lebih ketat boleh. Sejak bulan Maret, kami terus menjaga kesemibangan antara karyawan dan keluarganya dengan bisnis. Hal yang utama bagi kami adalah karyawan dan keluarganya. Untuk itu kami mencari keseimbangan sehingga bisnis juga berjalan dengan baik.

Apa saja langkah kongkret yang diterapkan di perusahaan?

Lokasi kami berada di area Central Park dengan menghuni 2 tower, menjadi keuntungan bagi perusahaan karena di lobby gedung sudah ada screening pertama yaitu pemeriksaan suhu tubuh dan tersedianya hand sanitizer. Screening kedua ketika karyawan masuk ke ruangan, kami sudah sediakan hand sanitizer dan mereka harus menuliskan suhu tubuhnya melalui aplikasi yang sudah kami sediakan.

Di awal kami melakukan rapid test mandiri agar karyawan merasa lebih aman dalam bekerja. Selain itu kami melakukan sosisalisasi melalui newslatter di setiap minggu. Pada bulan Maret-Juni, saya melihat ada kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih sehingga pada bulan September kami melakukan health talk dengan dokter yang sudah ahli di bidangnya dan memiliki pengalaman terpapar Covid-19. Hasilnya, saya melihat model ini berguna dan lebih efisien untuk sosialisasi ke karyawan. Kami juga mensosialisasikan 3M (Memakai masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan).

Sosialisasi apa lagi untuk meningkatkan awareness karyawan?

Kami membentuk ERT (Emergency Response Team) sebegai garda terdepan bagi karyawan Metrodata. Tugasnya memantau kedisiplinan karyawan dalam penerapan protocol kesehatan dan melakukan rapid test dan swab untuk karyawan secara berkala.

Kebijakan apalagi yang dikerluarkan?

Pada saat terjadi PSBB awal Juni di mana pemerintah menghimbau perusahaan untuk mengurangi karyawan yang hadir di kantor hingga 50%. Kami memiliki 1.600 karyawan di mana sejak tahun 2010, sales kami yang jumlahnya 25% sudah memulai mobile office sehingga bisa bekerja di mana saja dan hanya ada 25% karyawan kami yang bekerja dari kantor. Sisanya bagian techicnal, delivery, logistic itu tidak di kantor bekerjanya. Untuk yang bekerja di kantor kami membuat tim A dan B, mereka masuk ke kantor secara bergantian sehingga karyawan yang masuk ke kantor hanya sekitar 10%-20%.

Inovasi apa yang dilahirkan saat adanya Covid-19? Atau ada kebijakan lain yang diterapkan untuk mendukung bisnis?

Kami membuat aplikasi di mana karyawan bisa melakukan absensi dan memasukkan suhu tubuhnya dalam aplikasi tersebut. Selain itu, untuk mendukung bisnis, kami membuat proses approval melalui digital. Hal ini tentu memudahkan bisa dilakukan di mana saja.

Kami mengatur letak kursi di kantor dengan jarak minimal 2 meter, menutup ruang meeting dan memindahkan meeting secara online. Saya melihat meeting online ini lebih produktif dan kehadirannya lebih tinggi dibandingkan meeting tatap muka. Kami membuat meeting online setiap jam 08.00 WIB, untuk weekly update setiap anak-anak perusahaan. Kemudian, membahas SDM dan penanganan dengan urusan Covid-19 masalah test PCR dan mengenai business development. Selain itu kami berikan training online, setiap minggunya lebih dari 10 topik yang kami berikan. Saya melihat ini lebih efektif dan efisien.

Bagaimana pengaruhnya terhadap bisnis?

Tentu Covid-19 ini, ada pengaruh atau dampaknya. Pada kuartal pertama revenue kami tumbuh 5% terhadap tahun lalu. Pada bulan April kami turun 3% dan Mei turun 28%. Sedangkan bulan Juni kami tumbuh sekitar 20%. Jadi kalau ditutup setengah tahun, di 6 bulan pertama tahun 2019 revenue sekitar Rp6,1 triliun dan tahun 2020 sekitar Rp6,1 triliun. Tahun ini kami memperkirakan revenue kami sekitar Rp9 triliun.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)