Pendekatan Diaspora Melalui Kultural Lebih Efektif

Besarnya jumlah diaspora Indonesia di luar negeri, menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk menyatukan mereka. Berkaca pada banyak diaspora dari negara lainnya, pendekatan kultural dianggap lebih efektif karena Pemerintah tetap merangkul orang Indonesia yang sudah menjadi WNA untuk dapat berkontribusi kepada bangsa.

“Banyak diaspora Indonesia yang sukses di luar sana. Pasalnya mereka tidak terekspos dan terdata dengan baik,” ujar Dino Patti Djalal Founder Foreign Policy Community of Indonesia di sela acara Bimasena - SWA Breakfast Forum 2017.

Sebanyak 6 juta diaspora Indonesia di luar negeri, sebanyak 2 juta adalah TKI dan 4 juta adalah seorang profesional, broker, pengusaha dan lain-lain. Menurutnya, dari remitan TKI saja sumbangan ke Tanah Air melebihi pajak yang didapat dari seluruh perusahaan minyak internasional. Jadi TKI memberikan sumbangan yang sangat real, karena uang mereka langsung masuk ke kampung halaman, tidak melalui pemerintah dahulu. Ini terlihat di Lombok, di mana sudah banyak pembangunan di kampung, seperti perbaikan rumah para TKI dan pengiriman biaya pendidikan untuk anak-anak mereka.

Melihat fenomena ini, Dino menyatakan bahwa kini sedang merintis sebuah program yaitu Program Kerjasama Desa yang bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia.  Di mana diaspora Indonesia dapat mengadopsi satu desa yang masuk dalam wilayah 3T untuk diberikan bantuan, misalnya buku, beasiswa, komputer, dan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan desa tersebut.

Pada 1 Juli 2017 nanti akan diadakan kongres di Mall Kasablanka, di mana akan menampilkan diaspora Indonesia di luar negeri. Di dalamnya akan membahas berbagai topik, seperti inovasi, ekonomi, budaya dan lainnya. Selain itu, ia akan mengajukan usulan kepada pemerintah untuk menggabungkan BNP2TKI dan Diaspora. Strategi ini dilakukan agar lembaga tersebut dapat mengurus sebanyak dua juta TKI, di mana angka tersebut adalah sepertiga dari diaspora Indonesia.“Jadi nanti kalau diaspora pulang, ada kantor yang bisa mereka kunjungi, ada strukturnya,” tambahnya.

 

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)