Natasha Vinski, Pilot Belia di Pusat Anti-Aging Kelas Internasional

The biggest anti-aging in the world. Itulah agenda utama yang dicanangkan Natasha Vinski selaku CEO Vinski Tower. Wanita kelahiran 12 Januari 1993 ini memastikan Vinski Tower telah menjadi tempat terbaik, khususnya di bidang auto-logus stem cell. Pasalnya, pihaknya sudah bekerjasama dengan dokter-dokter dari luar negeri, dan dokter dari Vinski Tower pun memiliki kemampuan yang mumpuni. Saat ini, di Vinski Tower ada enam dokter bedah plastik, dua dokter obgyn, tiga profesor yang membantu dalam bidang stem cell, dua profesor bidang sains, dan satu profesor yang juga dokter.

Natasha VinskiDi lantai tiga Vinski Tower, ada ruang bedah plastik yang dijamin Natasha jauh lebih bagus daripada ruang bedah plastik di mana pun, termasuk jika dibandingkan dengan Korea atau Eropa. Tak mengherankan, banyak juga pasien Vinski Tower yang berasal dari luar negeri seperti dari Singapura. Pasien dari Singapura banyak datang ke Vinski Tower atas rujukan dokternya. “Jadi kami sudah menjadi the world class clinic. Kami sudah mengantongi semua sertifikasi standar internasional dan sertifikasi dari lembaga sertifikasi di Indonesia, juga awards. Selain itu, kami juga mau jadikan Vinski Tower menjadi medical tourism destination. Slowly its already coming through,” Natasha memaparkan.

Memang di usia yang masih belia, lulusan Fakultas Kedokteran UKI Jakarta ini sudah memikul tanggung jawab yang besar untuk mengembangkan bisnis keluarganya ini. “Menjelang saya lulus sebagai sarjana kedokteran pada Juni 2016, Vinski Tower ini dibangun. Harusnya papa saya yang jadi CEO Vinski Tower ini, tetapi beliau meninggal beberapa bulan sebelum saya lulus jadi dokter,” tutur peraih predikat “lulusan terbaik” (cum laude) UKI ini mengenang.

Natasha merasa dan sadar bahwa sejak ia masih kecil, orang tuanya telah mempersiapkan dirinya menjadi seorang pemimpin. “Namun memang untuk menjadi CEO Vinski Tower ini, saya masih sangat muda, secara pengalaman juga belum seberapa. Tapi beruntung, bisnisnya sudah dibangun dengan positioning yang tepat oleh orang tua saya. Vinski Tower ini dijadikan sebagai anti-aging taraf internasional,” ujar putri pakar anti-aging Deby Vinski ini. Dan beruntungnya lagi, Natasha juga seorang dokter sehingga nyambung dengan bisnis Vinski Tower.

Ya memang, awalnya sangat menantang sekali bagi saya yang baru lulus jadi seorang dokter dan menjadi CEO Vinski Tower. Namun, saya senang sekali karena Vinski Tower bisa berkembang dan WOM (word of mouth)-nya hampir semuanya positif. Dengan itu, malah saya tetap terus push supaya Vinski Tower tetap yang terbaik,” kata Natasha yang saat ini tengah menyelesaikan program MBA serta sering mengikuti konferensi dan seminar internasional seputar bisnis dan teknologi anti-aging terbaru.

Natasha melakukan pertemuan setiap Senin dengan semua direksi, bagian Pemasaran, bagian Keuangan, dsb. “Dalam setiap meeting kami selalu ada sesi tanya-jawab, ada masalah apa? Apa yang bisa kami cari jalan keluarnya. Dan dalam mengelola people, tak boleh bosan untuk terus mengulang. Mengulang soal rules, value, goals, atau bahkan soal capaian atau progres pekerjaan setiap hari. Setiap hari harus cek, apakah sudah selesai? Sudah di-follow up? Itu sederhana tapi perlu. Ini dalam konteks budaya kerja di Indonesia,” ungkapnya panjang lebar.

Sebagai anak muda, Natasha membuka diri untuk menerima masukan dari semuanya. “Prinsip saya, I’m the leader, but I'm not the boss. Beda, kalau bos kan nyuruh-nyuruh orang, namun kalau leader, you have to delegate, permission flow untuk supaya semuanya bisa beres. And I'm very glad karena banyak yang senior di sini, banyak profesor juga di Vinski Tower, dan mereka sangat suportif. Mereka malah senang ada anak muda yang mau mengembangkan sebuah bisnis,” katanya. 

Selain menjadi CEO Vinski Tower, Natasha juga menjadi CEO Aero Queen, perusahaan di bidang aviasi helikopter di Singapura. Ia mengakui banyak belajar soal bisnis dari orang tuanya, tetapi kalau soal teknis aero/helikopter/navigasi, itu semua adalah passion pribadinya. Pasalnya, sejak kecil ia bercita-cita menjadi pilot, selain menjadi dokter.

Nah pada Juni 2018, Aero Queen akan membuka kantor di Jakarta dengan menggandeng perusahaan aircraft besar di negeri ini. Namun, Natasha tidak bersedia menyebut perusahaan rekanannya tersebut. Jadi nantinya, Aero Queen yang ada di Singapura fokus pada sales dan rental. Adapun yang di Jakarta akan lebih fokus pada charter/rental. “Untuk yang di Jakarta, sekarang sedang proses mengurus semua surat-menyurat dan administrasi. Jadi, mudah-mudahn bisa buka kantor dan launching di Halim, Jakarta,” ujarnya.

Reportase: Arie Liliyah

Riset: Armiadi Murdiansah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)